
Dan disinilah Sena sekarang, di depan meja yang terdapat banyak sekali makanan manis. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa si cantik Sena sangat menyukai makanan manis seperti macaron, tart dan yang lainnya. Sena mengambil beberapa makanan manis itu kemudian ia letakkan di piringnya.
"Huh, seandainya ini bukan di acara jamuan makan aku pasti sudah kalap memakan semua ini." gumam Sena sembari menggigit sebuah macaron di tangannya.
Satu macaron sudah habis di dalam mulutnya dan kini sepotong tart kecil siap untuk ia nikmati. Di sela-sela itu, tanpa Sena sadari sepasang mata memperhatikannya dari jarak yang tidak begitu jauh.
***
Antonio permisi menjauh dari segerombolan orang-orang paruh baya itu. Dia sudah tidak tahan harus menahan imej nya dan tidak menjadi dirinya sendiri. Di tambah lagi pembicaraan tentang kencan buta, perjodohan atau apalah itu. Benar-benar membuatnya muak.
"Sangat memuakkan," gumam Antonio pelan.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, secara tidak sengaja netranya menangkap sosok cantik yang tengah sibuk menikmati hidangan manis yang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang. Sosok cantik itu berhasil membuat jantung Antonio derdebar tak beraturan.
"Akhirnya takdir mempertemukan kita," kata Antonio dalam hati.
Tidak ada yang tahu betapa bahagianya Antonio hingga Antinio sendiri pun tidak sadar bahwa senyumnya sudah mengembang begitu lebar. Antonio berjalan mendekat hendak menghampiri wanita yang beberapa hari ini telah menyita pikirannya. Dengan langkah pasti dan senyum yang masih menghias di wajahnya ia ingin segera menyapa wanita(nya) itu.
"Antonio?"
__ADS_1
Suara panggilan dari seseorang membuat langkah kaki antonio berhenti dan terpaksa menoleh ke sumber suara. Melihat siapa yang memanggilnya membuatnya mendesah kasar.
"Albert sialan," geram Antonio dalam hati.
"Selamat untuk kesuksesan proyek lahan hijaunya." Albert menyodorkan tangannya hendak menyalami.
"Mengaku kalah, huh?" Antonio menepis tangan Albert dengan sedikit kasar.
Albert menghela nafasnya dalam,
"Kau masih sangat membenciku? Antonio, haruskah aku menjelaskannya sekali lagi tentang kesalah pahaman yang terjadi pada kita?"
Antonio pergi meninggalkan Albert begitu saja di senggolnya dengan keras bahu Albert hingga pria itu berubah posisi. Antonio pun kembali pada tujuan awalnya yaitu menghampiri wanita pujaannya.
Ia mengedarkan pandangan ke segala arah dimana wanita itu berdiri. Setidaknya mungkin tiga sampai lima menit yang lalu. Antonio mendesah kecewa karena tidak menemukan sosok yang ia cari. Akhirnya Antonio kehilangan lagi.
puk
puk
__ADS_1
Albert menoleh kebelakang setelah mendapatkan tepukan dua kali di pundaknya.
"Sayang, kau kemana saja tadi?"
"Setelah ke meja itu dan menikmati beberapa kue aku ke kamar mandi membenahi dandananku." kata Sena menunjuk sebuah meja dengan banyak sajian manis kemudian menunjuk wajahnya sendiri.
"Tanpa make up pun kau sudah cantik, untuk apa dibenahi lagi." puji Albert membelai pipi Sena membuat Sena tersipu.
"Oh iya, ayo ikut aku. Aku ingin mengenalkanmu pada kolega-kolega penting perusahaan kita." lanjut Albert.
"Oke,"
Albert menggandeng tangan Sena membawanya dan memperkenalkannya dengan beberapa kolega penting perusahaan. Sena begitu bahagia, karena dengan hal sesederhana ini pun membuktikan bahwa Albert menghargainya dan mengakuinya sebagai istri.
Albert tengah mengobrol serius dengan para koleganya membuat Sena kebosanan dan meminta ijin Albert keluar dari tempat acara untuk menghirup udara segar. Dan Albert pun membolehkannya.
"Hati-hati dan tetap aktifkan ponselmu, oke?" pesan Albert sebelum Sena melangkahkan kakinya.
"Siap bos,"
__ADS_1