
Keesokan paginya, sesuai yang sudah direncanakan. Aurelie mendatangi perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan sebagai staff kebersihan dengan membawa surat lamaran. Ia begitu bersemangat membayangkan bila nanti ia bisa bekerja di sebuah perusahaan besar, walau hanya sebagai staff kebersihan.
Aurelie tak mengira bila akan ada banyak orang yang mendaftar untuk posisi yang rendah ini. Beberapa diantara para pelamar terlihat sudah berusia paruh baya. Namun kebanyakan masih tampak sangat muda seusianya.
"Mungkin karena gaji yang ditawarkan besar, maka banyak yang hendak melamar." kata Aurelie dalam hati.
"Selanjutnya, Aurelie Daneliya!" panggil seorang staff.
"Saya." Aurelie berjalan memasuki ruang interview dengan perasaan yakin. Ia punya firasat bila hari ini adalah hari keberuntungannya.
Aurelie menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh kepala staff dan HRD dengan lancar. Dari reaksi dan mimik muka para pewawancara pun menyiratkan bahwa mereka puas dengan jawaban Aurelie, sehingga hal itu membuat Aurelie lebih yakin lagi bila ia pasti akan lolos.
"Kalau begitu, anda bisa pulang dan menunggu hasilnya." kata kepala staff kebersihan, ibu Jasmine.
"Terima kasih." ucap Aurelie kemudian meninggalkan ruang interview.
***
Kemarin, setelah bertemu dengan sang ayah Antinio menjadi tidak fokus bekerja. Hingga akhirnya ia memilih untuk pulang lebih awal. Dan hari ini pun, ia masih enggan untuk ke perusahaan. Walau demikian, Antonio masih berusaha untuk bertanggung jawab atas kewajibannya sebagai wakil direktur. Dan meminta asistennya mengantar semua dokumen yang perlu ia baca dan tanda tangani.
__ADS_1
Antonio meminta asistennya untuk meninggalkannya sendiri dan kembali setelah Antonio menyelesaikan seluruh dokumen yang kini sudah tertumpuk di meja ruang kerja Antonio. Sudah dua jam lamanya ia duduk di meja dan hanya fokus dengan pekerjaannya. Namun dokumen di depannya tampak tak berkurang sedikitpun.
Antonio pun berdiri dan keluar dari ruang kerjanya menuju dapur. Ia buka almari penyimpanan yang hampir tak pernah ia buka. Di almari itu tersimpan jejeran wine, wisky bahkan vodka yang hampir tak tersentuh olehnya. Ia mengambil sebotol Vodka dengan kadar alkohol tinggi beserta gelasnya. Kemudian dibawanya ke meja bar di dapurnya.
Antonio berharap dengan Alkohol ia bisa meluapkan kesedihannya dengan terang-terangan. Karena jika dalam kesadaran ia tidak mampu menangis atau merintih sebagai luapan sesak di dadanya.
Dan benar saja, setelah menegak setidaknya setengah botol Vodka Antonio mulai menangis dan meracau memanggil nama cinta pertamanya yang telah tiada.
"Abi, maafkan aku. Maafkan aku, Abi. Aku yang bodoh begitu tidak mempercayaimu. Maafkan abi." tangis Antonio pecah. Badannya pun sudah luruh di lantai. Ia berlutut memohon maaf seolah-olah Abigail ada di depannya.
Dan entah berapa lama ia bertahan dengan posisi seperti itu karena tanpa sadar matahari tak menampakkan lagi cahayanya.
***
ceklek,
"Ibu..." panggil Aurelie yang langsung berlari ke pelukan ibunya.
"Sepertinya kau sedang bahagia, nak. Apakah ada kabar baik?"
__ADS_1
"Emm, aku harap iya." jawab Aurelie masih dalam dekapan ibunya.
"Oh iya, bagaimana kabar ibu hari ini?"
"Seperti yang kau lihat, ibu merasa sangat sehat sekarang. Hanya tinggal menunggu persetujuan dokter untuk bisa pulang ke rumah."
"Semoga secepatnya, aku sudah sangat rindu masakan buatan ibu."
Daneila tersenyum mendengar penuturan Aurelie. Dalam hati ia sangat bersyukur karena kehadiran sang dermawan hingga bisa membantunya melakukan operasi.
***
Ceklek,
"Antonio? Hallo?" panggil Jason.
"Dimana dia. Dia menghilang sampai asistennya mencari ku. Pasti ada yang tidak beres." ucap Jason sembari merogoh handphone di sakunya.
Jason berusaha menelpon Antonio untuk kesekian kalinya. Sejak mendapat telepon dari asisten Antonio, ia segera mencari keberadaannya mulai dari Club ataupun bar yang sering mereka kunjungi. Namun semuanya nihil. Antonio tidak ada disana.
__ADS_1
Samar-samar terdengar suara dering telepon, membuat Jason semakin yakin kalau Antonio ada di apartemennya. Dicarinya asal sumber suara yang ternyata ada di ruang baca. Namun nihil, yang ia temukan di ruang baca hanyalah handphone yang tergeletak di meja. Akhirnya Jason pun mengecek satu persatu ruangan di apartemen yang besar itu. Dan saat menuju dapur Jason kaget menemukan tubuh sahabatnya yang tergeletak di lantai.
"Ya Tuhan, Antonio!!!"