
"Sayang, tutup matamu." kata Albert memerintah
"Untuk apa?" tanya Sena.
"Tutup saja, jangan banyak bertanya." jawab Albert memaksa.
"Apa yang sedang Albert rencanakan? Haruskah aku menurutinya saja?" kata Sena dalam hati.
"Ayo, tutuplah matamu." kata Albert sekali lagi.
"Baiklah." kata Sena kemudian menuruti sang suami yang memintanya menutup mata.
Albert mengambil sesuatu dari saku jasnya kemudian menggunakannya untuk menutup mata Sena agar lebih rapat.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Sena berusaha mencegah Albert memasangkan penutup mata padanya.
"Sssttt, menurutlah." kata Albert sedikit geram membuat Sena terdiam.
Setelah mobil yang mengantarnya berhenti, Albert keluar lebih dulu dari dalam mobil untuk membukakan pintu untuk Sena.
"Boleh ku buka penutup matanya?" tanya Sena.
"Belum boleh." jawab Albert singkat.
"Aku merasa pusing dan akan jatuh bila berjalan dengan mata tertutup seperti ini." kata Sena beralasan.
Greeeppp
"Hyaaaa, apa yang kau lakukan?" tanya Sena kaget karena tiba-tiba Albert mengangkat tubuhnya.
"Kau bilang, kau merasa pusing kalau berjalan dengan mata tertutup. Jadi, biarkan kau ku gendong saja." kata Albert sembari berjalan menuju tempat yang sudah disiapkannya.
"Biarkan aku jalan sendiri." pinta Sena.
"Tidak perlu, sebentar lg sampai." kata Albert tetap terus berjalan menggendong dengan hati-hati.
Sesampainya di atap, Albert menurunkan tubuh Sena dan membuka penutup matanya. Sena mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan cahaya masuk ke matanya. Setelah penglihatannya kembali jelas, Sena pun tertegun. Apa yang dilihatnya sungguh indah. Hanya dengan melihat lokasinya, Sena tahu ini adalah atap dari sebuah gedung. Namun, bagaimana bisa sebuah atap di sulap menjadi begitu indahnya dengan banyak sekali bunga dan lilin.
"Ayo, kita kesana." kata Albert mengajak Sena menuju meja yang sudah ia siapkan.
Albert menarik satu kursi dan mempersilakan Sena untuk duduk. Dan Sena hanya menurut saja.
__ADS_1
"Semua ini apa?" tanya Sena yang masih tidak mengerti maksud dari kejutan malam ini.
Albert tersenyum dan menjentikkan jarinya. Dan kemudian keluarlah beberapa pelayan yang menghidangkan makanan mewah di meja Albert dan Sena. Sena terdiam masih tidak mengerti tentang semua ini.
"Makanlah, sayang. Aku mempersiapkan ini semua untukmu." kata Albert tersenyum mempersilakan Sena untuk makan.
Sena hanya menurut dan menikmati makanan yang sudah tersaji di depannya. Albert tersenyum memandangi Sena yang masih kebingungan.
Seusai makan, Albert berdiri dari kursinya dan membungkuk di samping Sena sembari mengulurkan tangannya.
"Maukah berdansa denganku Nyonya Nero?"
"Ber...dansa? Tapi, tidak ada musik disini."
Dan sekali lagi Albert menjentikkan jarinya kemudian keluarlah seorang pemain biola memainkan sebuah nada yang indah nan romantis.
"Jadi, maukah berdansa denganku?" tanya Albert sekali lagi masih dengan mengulurkan tangannya.
Sena dengan senang hati menerima ajakan Albert. Mereka pun berdansa menikmati alunan violin di bawah terangnya bulan dan disaksikan oleh banyaknya bintang di langit.
Tidak ada obrolan atau kata-kata romantis di sela-sela dansa mereka. Setelah dirasa cukup, Albert menghentikan dansanya dan menatap lekat mata Sena.
Happy b'day to you
Happy b'day to you
Happy b'day to you
Happy b'day to you
Dari pintu masuk keluar William dengan membawa kue ulang tahun. Tidak hanya William seorang tapi juga putra tercintanya yang saat ini digandeng oleh seorang wanita.
deg
"Dia wanita yang kulihat siang tadi." kata Sena dalam hati.
"Mommy, selamat ulang tahun." teriak Alnorld sembari berlari memeluk Sena.
"Terima kasih, sayang." jawab Sena kemudian mengecup pipi Alnorld.
"Selamat ulang tahun, Sena." ucap William.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, kakak ipar." ucap si wanita.
"Ka..kak ipar?" tanya Sena tidak mengerti.
"Oh, kenalkan ini Keyla. Tunanganku." kata William memperkenalkan.
"Tunanganmu? Ku kira dia, tadi siang aku melihat dia dan Albert." kata Sena terbata-bata.
"Apa yang kau lihat tadi siang, sayang?" tanya Albert bingung dengan sikap Sena.
"Aku melihatmu pergi bersamanya ke sebuah toko perhiasan. Bahkan kau memakaikan kalung ke lehernya." kata Sena menatap Albert dengan mata berkaca-kaca.
"Hhhhpppffft."
"Kenapa kau tertawa? Kau mengkhianatiku dan William tapi kau masih bisa tertawa?" kata Sena dengan mata yang sudah mulai berair.
"Kakak ipar itu tidak seperti yang kau kira." sela Keyla mencoba menjelaskan.
"Sayang, lihat aku." kata Albert menarik lengan Sena agar menghadapnya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang di sembunyikannya di balik jas yang ia pakai.
Albert membuka kotak bewarna navi itu dan menunjukkannya pada Sena.
"Ini hadiah untukmu. Tadi siang aku meminta tolong pada Keyla agar dia membantuku untuk memilihkan hadiah untukmu. Dan aku tidak memakaikan kalung ini padanya. Aku hanya mencobakannya tanpa memakaikannya." kata Albert menjelaskan.
"Lagi pula, mereka tidak pergi berdua. Ada aku disana." kata William menimpali.
"Jadi...." kata Sena terpotong.
"Kau salah paham, kakak ipar." kata Keyla tersenyum.
"Al...." Sena beralih memandang Albert dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, sayang. Jadi, boleh aku pakaikan kalung ini untukmu?" tanya Albert yang di balas anggukan oleh Sena.
Dengan telaten Albert memasangkan kalung yang dipilihnya di leher jenjang Sena.
"Cantik sekali." puji Albert.
"Ehhemm, apakah aku tidak dibutuhkan disini?" tanya Alnorld dengan berlagak ngambek karena tidak ada yang memperhatikannya, membuyarkan suasana tenang dan romantis membuat Semua orang yang berada disana tertawa melihat tingkahnya.
"Hahahahaha."
__ADS_1