Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 132 (MENCURI HATI BOS DINGIN)


__ADS_3

"Wanita?" tanya Sean memastikan.


"Ya, suruh Antonio untuk bercerita lebih dulu." kata Jason menunjuk Antonio.


"Kenapa aku?" tanya Antonio dengan wajah kesal.


"Karena aku penasaran dengan kisahmu, sialan." Jason melemparkan camilan yang ada di tangannya.


"Memangnya ada apa denganmu?" tanya Sean yang menjadi penasaran.


"Bukan apa-apa. Jangan dengarkan orang gila ini." elak Antonio.


"Dasar pria kaku yang dingin." gerutu Jason menampakkan wajah sebal.


"Sudah cukup. Ayo kita berenang saja." ajak Sean mengalihkan suasana tak menyenangkan itu.


"Berenang? Kenapa berenang? Aku tidak punya celana renang, bodoh!" Jason berkata dengan sebal.


"Aku sudah menyiapkannya. Ada di ruang ganti. Ayo!"


Sean meminta Antonio dan Jason untuk mengikutinya. Sean membawa mereka berdua ke dalam ruang ganti yang di desain bak ruang istirahat para atlet. Disana sudah tersedia celana renang beserta keperluan lainnya. Setelah mengganti pakaian dengan celana renang mereka pun bersama menuju kolam renang.


"Ayo kita bertanding. Yang kalah harus membayar minuman malam ini." ajak Sean.


"Ayo, siapa takut."


"Aku tidak ikut minum, jadi kalian berdua saja yang bertanding." tolak Antonio.


"Tidak ada yang boleh menolak, Toni. Ayo bersiap dan ambil posisi."


"Stanley, kau harus menembakkan pistolnya dengan tepat. oke?"


"Siap tuan."


Dan dalam hitungan ketiga orang yang dipanggil Stanley itu menembak ke atas sebagai tanda bahwa pertandingan di mulai.

__ADS_1


***


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Seluruh karyawan sudah bersiap untuk pulang, begitupun para staff kebersihan.


"Aurelie, kau tidak pulang?" tanya Vino yang sudah berganti pakaian dan menenteng tas selempangnya.


"Nanti, aku mau membersihkan ruangan wakil direktur dulu. Aku ingin mencicil membersihkannya." jawab Aurelie sembari mempersiapkan alat kebersihan yang akan dipakainya.


"Oh, iya. Besok jadwalmu membersihkan ruangan ya."


"Iya,"


"Kalau begitu, kami pulang dulu. Sampai jumpa besok, Aurelie." pamit Vano dan satu staff kebersihan lainnya.


"Jangan pulang terlalu larut, ya. Dan jangan lupa kunci pintu ruangan staff kebersihan." pesan Bu Julie.


"Baik, Bu. Hati-hati di jalan." kata Aurelie yang di balas anggukan beserta senyuman Bu Julie.


Suasana kantor sudah mulai sepi saat Aurelie berjalan melewati meja-meja kerja para karyawan. Ia menenteng serbet, spray pembersih dan sapu di tangannya. Dengan hati-hati ia membuka pintu konator wakil direktur dan mulai membersihkan meja dari cangkir bekas kopi atasan beserta temannya tadi siang.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Aurelie pun bersiap untuk kembali ke rumah sakit menemani sang ibu. Rumah sakit tempat ibunya di rawat sudah seperti rumah kedua baginya. Jadi tak ada yang perlu ia khawatirkan disana, karena ia sudah sangat mengenal para dokter dan perawat yang menangani sang ibu.


"Ibu,"


"Kau sudah kembali? Bagaimana pekerjaannya? Apakah melelahkan?" tanya Deneila sembari menyeka keringat di pelipis Aurelie.


"Di dunia ini, mana ada pekerjaan yang tidak melelahkan? Hehe. Tapi aku senang, karena semua orang baik padaku."


"Syukurlah. Oh iya, kata dokter lusa ibu sudah boleh pulang ke rumah."


"Benarkah?"


"Iya,"


"Ya Tuhan, aku senang sekali." ucap Aurelie yang langsung memeluk erat ibunya.

__ADS_1


Daneila mengelus sayang kepala Aurelie dan memberinya ciuman berkali-kali kemudian berkata,


"Setelah ini, ibu akan berusaha membahagiakanmu."


"Dengan ibu kembali sehat, aku sudah bahagia. Jadi jangan terlalu dipikirkan. Aku sayang pada ibu."


"Ibu juga sangat menyayangimu."


***


Antonio memasuki apartemennya saat jam menunjukkan pukul 19.45 malam. Setelah berdebat lama, akhirnya ia pun kabur dari acara minum-minum yang rencanakan kedua temannya. Ntah kenapa ia merasa bosan dengan minuman beralkohol yang menjadi favoritnya tiap dilanda frustasi.


Antonio merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaian ataupun melepas sepatunya. Ia terlentang dengan kaki yang menggantung di lantai dan menutup matanya dengan lengan kirinya.


Sekejap, ia kembali teringat dengan Aurelie dan ucapannya tadi siang. Apakah ia harus memberinya kesempatan untuk berterima kasih? atau cukup mengacuhkannya begitu saja. Ia tidak tahu harus memilih apa diantara dua hal itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA 🤗

__ADS_1


__ADS_2