
Albert membawa Alnorld pulang ke mansion begitu keadaannya sudah mulai tenang. Albert sendiri enggan kembali ke kantor setelah menemukan sebuah kemungkinan bahwa Sena tidak meninggalkannya.
Albert duduk termenung di teras kamarnya memikirkan dimana dan bagaimana keadaan Sena sekarang. Apa lagi ia belum juga mendapatkan telepon dari orang bayarannya dan juga Dave.
trriiiiiing ting
ting trriiiiiing
Albert bersemangat begitu melihat nama penelpon yang tertera di handphonenya.
"Hallo, Dave. Apakah ada kabar?" tanya Albert begitu mengangkat telepon dari Dave.
"Hei, tenanglah. Calmdown. Ya, aku menemukannya." jawab Dave tenang.
"Benarkah?" tanya Albert dengan perasaan lega.
"Seperti yang kau duga, Sena benar-benar menjadi salah satu korban kecelakaan itu." jawab Dave.
"Bagaimana keadaannya? Dimana dia di rawat?" tanya Albert tidak sabar.
"Tenanglah, tanyakan satu-satu. Sebainya kau kemari sekarang. Dia di rawat di rumah sakit tempat kerja baruku. Ku tunggu kau di ruanganku." jawab Dave meminta Albert menghampirinya.
"Baiklah, aku kesana sekarang." kata Albert langsung mematikan teleponnya.
Sesampainya di rumah sakit, Albert segera menuju ruangan Dave dimana sebelumnya dia bertanya pada sakah satu petugas disana.
"Dave, dimana dia?" tanya Albert begitu membuka pintu ruangan Dave.
"Hah, kau membuatku kaget. Duduklah dulu." kata Dave mempersilakan.
"Tidak, aku ingin bertemu dengannya sekarang. Dimana dia?" kata Albert terburu-buru dengan berteriak.
Plaakk
Albert memegang pipinya yang terkena tamparan Dave.
"Kendalikan dirimu. Duduklah dulu." kata Dave memerintah.
Albert pun menurut dan duduk di depan meja Dave.
"Sebelum aku membawamu untuk bertemu Sena. Kau harus berjanji padaku bahwa kau tidak boleh hilang kendali seperti tadi." kata Dave.
"Bagaimana keadaan Sena? Kenapa kau memintaku untuk berjanji seperti itu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Albert berentetan.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, informasi yang aku dapatkan kakinya mengalami kelumpuhan." jawab Dave dengan menundukkan wajahnya.
deg
"Lumpuh?" tanya Albert lirih.
__ADS_1
"Ya."
"Bawa aku kesana sekarang." pinta Albert
"Tapi Al, dia....."
Bbhuuuuk
"Bawa aku kesana sekarang." teriak Albert emosi karena Dave terlalu bertele-tele.
"Sial, kau jadi gila sekarang. Ayo ikut aku." kata Dave sedikit jengkel karena Albert menonjok wajahnya.
Dave pun membawa Albert menuju ke ruang rawat Sena.
"Masuklah, mungkin sekarang dia sedang istirahat." kata Dave mempersilakan.
Albert membuka pintu ruangan dengan pelan. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati Sena yang tengah tertidur.
Albert menatap wajah wanita yang dicintainya dengan lekat, hingga tak sadar air matanya luruh begitu saja. Dengan lembut tangannya membelai rambut panjang Sena.
Sena pun mengerjap merasakan belaian di atas kepalanya.
"Hai, sayang." sapa Albert begitu Sena membuka mata.
"A al..." kata Sena dengan bergetar, tidak menyangka pria yang dicintainya ada di hadapannya.
"Sssssttt, tidak apa-apa. Kau tidak perlu menjelaskan. Istirahatlah, aku akan disini menemanimu." kata Albert tersenyum.
"Jangan minta maaf, kau tidak salah. Aku mencintaimu." kata Albert memeluk erat Sena.
Beberapa saat kemudian ruangan itu pun hening, Albert dan Sena tidak lagi membuka suara untuk berbicara. Hingga akhirnya dojter Jason pun datang untuk memeriksa Sena.
"Selamat sore." sapa dr.Jason.
"Selamat sore, dokter." jawab Sena tersenyum.
"Emm, anda?" tanya dr.Jason pada Albert yang berdiri di samping bed pesakitan Sena.
"Saya Albert, calon suaminya." kata Albert menyodorkan tangannya.
"Oh, salam kenal." kata dr.Jason menjabat tangan Albert.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, nona?" tanya dr.Jason
"Lebih baik dari kemarin, dokter." jawab Sena tersenyum.
"Emm, sepertinya aku tahu apa yang membuatnya jadi lebih baik." kata dr.Jason menggoda.
"Ehheeem"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya keluar sekarang. Selamat beristirahat." pamit dr.Jason yang menyadari ketidak nyamanan Albert akan kehadirannya.
"Terima kasih, dokter." kata Sena.
Dokter Jason pun meninggalkan Sena dan Albert. Sena menghela nafas panjang begitu menatap wajah Albert yang tidak bersahabat.
"Al." panggil Sena lembut.
"Hemm"
"Dia dokter yang menolongku." kata Sena.
"Hmmm"
"Al, lihat aku. Aku ingin jujur padamu." kata Sena menyentuh jari Albert.
"Apa? Kau ingin bilang padaku bahwa kau sudah jatuh cinta pada dokter yang menolongmu itu? Hah?" kata Albert berteriak emosi.
"Bukan, bagaimana aku bisa jatuh cinta pada orang lain. Kalau orang yang mencintaiku sekarang sangat manis karena cemburu." kata Sena menggoda Albert. Albert diam dan hanya melirik ke arah Sena yang tertawa kecil.
"Lalu?" tanya Albert sok cuek.
"Hmmm, aku ingin jujur padamu bahwa sekarang aku adalah seorang yang cacat Al." kata Sena tak berani menatap wajah Albert.
"Lalu?" tanya Albert lagi.
"Aku tidak mungkin menikah denganmu dengan keadaanku yang seperti ini. Ini akan terlaku memalukan untuk kekuargamu. Karena kau bisa mendapatkan wanita yang sempurna, yang lebih baik segalanya dari pada aku." kata Sena menunduk. Air matanya mulai meleleh tanpa permisi.
"Tidak akan. Sena, dengarkan aku. Kau tidak cacat. Kau adalah wanita paling sempurna yang aku cintai. Percayalah padaku, kau pasti akan bisa berjalan lagi. Aku akan membawamu kemanapun untuk berobat dan menjalani terapi." kata Albert mencengkram kedua bahu Sena dengan erat.
"Tapi, al......" kata Sena terpotong begitu Albert menariknya ke dalam pelukannya.
"Tidak ada tapi-tapian, Sena. Walaupun hanya ada 40% kemungkinan kau bisa berjalan lagi, aku akan tetap berusaha membantumu untuk berjalan. Bahkan jika hanya ada 1% pun aku akan melakukan hal yang sama. Bersabarlah, aku akan berkoordinasi dengan dokter disini untuk mentransfermu ke salah satu rumah sakit terbaik di amerika." kata Albert lembut membuat tangisan Sena semakin deras.
Ya, sebelumnya Dave telah menjelaskan pada Albert bahwa kemungkinan untuk Sena bisa berjalan lagi hanya sekitar 40% karena kerusakan saraf yang dialami Sena.
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan lagi mendorongku untuk pergi seperti tadi." kata Albert yang di balas anggukan oleh Sena.
###############
Selamat malam, semuanya.
Author baca komentar2 di chapter sebelumnya. Sepertinya banyak yang tidak suka dan tidak puas dengan kisah Albert dan Sena yang kembali berpisah sejenak.
Maafkan author, ya. Karena yang ada diimajinasi author memang seperti ini adanya. hehehe
Semoga di chapter depan, kisah Albert dan Sena yang author buat tidak mengecewakan lagi yaa...
selamat menikmati.
__ADS_1
Happy reading, all.
Love you 💕