
Beberapa saat kemudian masuklah seorang pria bertubuh besar ke tempat dimana Antonio dan Jason berada.
"Lama sekali, kau." protes Jason setelah menunggu sedikit lama.
"Ketahuilah, aku harus menyiapkan dulu bunga yang segar ini agar kau juga tak kecewa."
"Bawa dia masuk," kata Jason tak mau membuang waktu.
" Hei, masuklah." perintah pria tersebut.
Seorang gadis belia, yang mungkin baru berada di awal usia 20'an tampak masuk ke dalam dengan ragu-ragu. Tercetak jelas kecemasan yang amat besar di wajah cantiknya. Wajah blasterannya benar-benar mampu menghipnotis. Ditambah dengan body yang begitu indah layaknya gitar spanyol membuat Jason merasa puas dan tidak merasa rugi karena telah menunggu sedikit lama.
Di ujung sofa, Antonio masih asyik dengan gelas Vodkanya tanpa memperhatikan apa yang terjadi di ruangan tersebut.
"Hai, cantik. Siapa namamu?"
"A Aurelie,"
"Nama yang cantik seperti orangnya." puji Jason.
"Tinggalkan dia disini, kau pergilah. Uang akan ku transfer seperti biasa." lanjut Jason.
"Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang untuk kalian." kata pria besar itu kemudian berbalik hendak pergi sebelum akhirnya tangan Aurelie mencegah pria itu dengan menarik ujung kaosnya.
__ADS_1
"J jangan tinggalkan aku,"
"Manurutlah dan jangan membuat kacau,"
"Ada apa?" tanya Antonio melihat keributan kecil diantara keduanya.
"Bukan apa-apa." jawab si pria besar.
"Cepat kesana dan temani para tuan muda itu." pria itu menepis tangan Aurelie dengan kasar kemudian meninggalkannya bersama dengan Antonio dan Jason.
"Kemarilah," perintah Jason.
Aurelie hanya menurut dan kemudian menghampiri Jason yang masih berada di tempat duduknya.
"Hemm,"
"Sialan kau ini. Sudahlah kau ku tinggal, aku ada kencan di luar sana." kata Jason yang hanya di balas kibasan tangan dari Antonio tanda pengusiran.
"Kau temanilah dia," pesan Jason pada Aurelie sebelum keluar meninggalkan keduanya.
"Minum?" tawar Antonio dengan menyodorkan gelas pada Aurelie.
Aurelie menerima gelas berisi minuman yang diberikan oleh Antonio.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa berada disini?" tanya Antonio dengan berusaha mempertahankan kesadarannya karena pengaruh alkohol.
"U untuk membayar hutang." jawab Aurelie takut.
"Seperti novel-novel saja kisah hidupmu ini. Biar ku tebak, orangtuamu berjudi dan meninggalkan banyak hutang?" selidik Antinio.
Aurelie reflek menggelengkan kepalanya tanda bahwa hal yang dikatakan Antonio tidak terjadi di keluarganya.
"Sungguh, bukan itu? Lalu kenapa? Ah, aku tau. Kau pasti ingin membeli barang-barang mahal untuk bisa di pamerkan ke depan teman-temanmu kan? Seperti anak muda kebanyakan."
"T tidak, tuan." kata Aurelie kembali menggeleng cepat.
"Emm, aku jadi penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi padamu hingga bisa dibawa kemari. Sudahlah, toh bukan urusanku. Hahaha. Minum itu," perintah Antonio setelah melihat Vodka di gelas Aurelie masih utuh.
Karena takut membuat Antonio murka, dengan sangat terpaksa Aurelie pun menegak minuman yang tak pernah dia cicipi sebelumnya.
"Uhuuuk Uhuk uhuukk," Aurelie terbatuk-batuk begitu merasakan satu tegukan vodka melintasi tenggorokannya.
"Hahahaha. Ku tebak, kau tidak pernah minum?" tanya Antonio dengan nada ejekan.
Aurelie menggeleng lemah, ia takut bila mungkin Antonio akan memarahinya. Aurelie adalah gadis polos yang tidak pernah neko-neko. Selama ini dia hidup dengan kesederhanaan karena keterbatasan orangtuanya, hingga tak mungkin baginya untuk merasakan kehidupan liar yang dikatakan keren oleh gadis dan lelaki sebayanya. Tangan Aurelie terlihat sangat keras meremas ujung dress yang dipakainya. Dan tingkah lakunya itu tidak lepas dari perhatian Antonio.
Terbesit dalam fikiran Antonio untuk menggoda gadis polos yang duduk tak jauh darinya. Antonio berfikir mungkin menggoda gadis polos seperti Aurelie dan membuatnya malu mampu membuat emosinya lebih stabil.
__ADS_1
"Temani aku bermain," kata Antonio dengan tampang serius membuat nyali Aurelie seketika menciut.