Bos Dingin Mengejar Istri Nakal

Bos Dingin Mengejar Istri Nakal
BDMIN 43


__ADS_3

"Apakah sudah ada info mengenai keluarga korban yang ada di bed 3?" tanya seorang dokter yang menyelamatkan Sena di lokasi kecelakaan.


"Belum, dok. Korban tidak membawa tanda pengenal apapun dan Handphonenya juga rusak parah hingga tidak bisa di hidupkan lagi." kata seorang suster.


"Korban harus segera di operasi." gumam sang dokter.


"Tapi kita harus menunggu persetujuan keluarga korban, dok."


"Aku yang akan bertanggung jawab. Tolong siapkan ruang operasi sekarang juga. Saya sendiri yang akan menanganinya." kata dokter tersebut meninggalkan suster yang masih bengong terheran-heran.


----------------"---------------


Bbrraaaakkk


"Oma, kenapa daddy membanting pintu? Apakah daddy sedang marah?" tanya Alnorld dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, sayang. Daddy mungkin hanya kelelahan. Sekarang biarkan daddymu istirahat. Oma yakin, besok pagi semua akan baik-baik saja." kata Jesica menenangkan Alnorld.


"Tapi, oma. Sebenarnya apa yang terjadi pada mommy? Kenapa mommy tidak bisa dihubungi?" tanya Alnorld yang sudah mulai melinangkan air mata.


"Mommymu pasti baik-baik saja. Ayo, oma antar ke kamarmu. Kau juga harus segera istirahat." ajak Jesica.


----------------"---------------


Keesokan harinya, dengan perasaan marahnya bergegas menuju apartemen Sena.


ting tong


ting tong

__ADS_1


ting tong


"SENA, buka pintunya. SENAAAA!!!"


BRAKK


BRAKK


BRAKK


"Maaf, tuan. Apakah anda mencari Sena?" tanya seorang wanita.


"Ya, dia ada di dalam kan?" tanya Albert dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Setahu saya Sena belum kembali sejak keluar semalam. Cobalah anda menghubunginya lewat telepon." jawab wanita itu.


"Terima kasih." kata Albert kemudian meninggalkan apartemen Sena.


Albert membanting pintu mobil dan menundukkan keningnya di stir mobil.


"Sebegitu tidak inginnya kau untuk menikah denganku. Sampai-sampai kau pergi menghilang begitu saja. Bahkan tanpa pamit pada putra kita, Alnorld." gumam Albert dengan tersenyum miris.


"Aaaaaarrrgggghhh" Albert memukul stir mobilnya hingga tidak sadar bahwa tangannya sudah membiru.


----------------"--------------


Beberapa hari kemudian.


Sena mengerjapkan matanya, berusaha menatap fokus sekelilingnya.

__ADS_1


"D dimana aku?" tanya Sena lirih.


"Kau sudah bangun, nona?" tanya Jason, dokter yang menyelamatkan Sena.


"Aku di rumah sakit?" tanya Sena lemah.


"Betul sekali. Anda di rumah sakit. Sekarang, apa yang anda rasakan?" tanya Jason memastikan.


Sena berusaha bangun dari tidurnya. Melihat Sena begitu kesusahan, Jason pun membantu Sena untuk duduk dan bersandar.


"Dokter, k kenapa aku tidak bisa merasakan kakiku?" tanya Sena bergetar.


Jason menarik nafasnya panjang, akhirnya apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Saat kecelakaan terjadi bagian kaki Sena terjepit hingga membuat kaki kanan dan kiri Sena patah. Walau dokter berhasil memperbaiki strustur tulang kakinya agar terlihat baik-baik saja tapi tidak dengan Saraf di kaki Sena yang rusak parah hingga tidak bisa diobati.


"Tenanglah, kau baru bangun. Kau harus istirahat dulu. Nanti akan kujelaskan." kata dr.Jason.


"Tanggal berapa sekarang?" tanya Sena tanpa menatap dr.Jason.


"Tanggal 9 Mei."


"Tidak mungkin aku tidak sadar selama itu." kata Sena yang menangis menyadari bahwa sekarang sudah delapan hari semenjak kejadiaan naas yang membuatnya tidak bisa menepati janji pada pria yang ia cintai.


"Bisa kau beri tahu aku siapa namamu dan dimana kekuargamu? Agar aku bisa menghubungi mereka." tanya dr.Jason.


"Sebelum itu, katakan padaku. Apakah aku lumpuh?" tanya Sena dengan tatapan nanar.


"Sekarang mungkin, iya. Tapi percayalah, masih ada harapan walaupun kecil. Setelah bisa menghubungi keluargamu. Aku akan menjelaskan keadaanmu dan cara untuk memulihkan keadaanmu." Jawab dr.Jason menguatkan.


"Tidak, cukup katakan padaku. Aku bisa membayarmu untuk pengobatanku. Tolong bantu aku pulih karena aku tidak mungkin bertemu mereka dengan keadaan yang menyedihkan seperti ini." kata Sena dengan berderai air mata memohon.

__ADS_1


Dokter tampan itu menatap wanita di depannya dengan perasaan iba, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk menenangkan wanita yang bahkan ia sendiri belum tahu namanya.


__ADS_2