
"Pak, rapat sudah siap. Pak Presdir juga sudah di perjalanan menuju ruang rapat." kata sekretaris mengingatkan.
"Baik, terima kasih." Antonio menutup buku agenda di depannya. Kemudian beranjak untuk menghadiri rapat.
Tepat saat memasuki ruang rapat, mata ayah dan anak itu bertemu. Sang Presdir menatap mata anaknya tajam, sedangkan Antonio menatap ayahnya dengan datar.
Rapat pemegang saham kali ini di agendakan untuk mempresentasikan laporan keuangan triwulan kedua tahun ini.
Rapat yang dipimpin Antonio kali ini berjalan lancar, direktur keuangan mempresentasikan laporan dengan sangat baik. Laporan pun menunjukkan bahwa laba perusahaan naik sekitar 6% dari triwulan pertama tahun ini sehingga hal itu memuaskan para pemegang saham begitu juga sang Presdir.
Rapat selesai dalam waktu tiga jam, dan para anggota rapat pun sudah meninggalkan ruang rapat. Begitu pula Presdir. Sesaat Presdir menghentikan langkahnya tepat di dekat Antonio dan berkata dengan berbisik,
"Ke ruangan papa sekarang."
Antonio mendesah kasar,
"Apalagi yang dia inginkan sekarang," gerutu Antonio sembari mengikuti langkah sang ayah.
***
Aurelie mendudukkan diri disalah satu bangku taman rumah sakit yang menjadi favoritnya tiap ingin menyendiri. Suasana taman tampak begitu tenang karena tidak banyak pasien maupun pengunjung yang datang.
"Aku harus mencari pekerjaan. Aku tidak mau lagi berfikir untuk menjadi wanita panggilan. Yah, anggap saja yang kemarin itu khilaf dan aku masih beruntung karena tidak kehilangan keperawananku." kata Aurelie pada diri sendiri.
Sejenak ia jadi teringat saat dimana ia dibayar untuk menemani seorang tuan muda yang tak lain adalah dermawannya. Ia mengira akan kehilangan keperawanannya malam itu karena pria itu membawanya ke hotel. Namun siapa sangka, bukannya hilang keperawanan si tuan muda justru memintanya untuk bermain truth or dare bersama.
__ADS_1
Mengingat hal itu membuat Aurelie terkikik tanpa sadar. Karena baginya hal itu sangat lucu sebab tidak sesuai yang ia pikirkan malam itu.
Aurelie mulai mencari lowongan pekerjaan dari smartphone jadulnya. Beberapa info lowongan pekerjaan bermunculan, dan banyaknya adalah sebagai pelayan cafe, bar atau penjaga toko. Tidak heran, karena Aurelie mencari pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Banyaknya gaji yang ditawarkan pun tertera dengan jelas sehingga memudahkan Aurelie untuk memilih.
"Kenapa kebanyakan hanya pelayan?" gumam Aurelie masih terus menscrol layar smartphonenya.
Beberapa saat perhatiannya terhenti pada sebuah lowongan yang cukup menarik baginya.
LOWONGAN PEKERJAAN
POSISI : STAF KEBERSIHAN (OB/OG)
Syarat : min. pendidikan SMA, sehat jasmani dan rohani, dan bla bla bla bla...................
***
Begitu memasuki ruangannya, pak Presdir segera mengambil tempat duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Antonio hanya berdiri tak jauh dari sang ayah.
"Kau masih membenci papa?"
"Mana mungkin aku berani."
"Kemarin papa mencoba mencari informasi tentang wanita itu, dan ternyata ia sudah meninggal. Dan papa yakin kau tahu soal ini."
Antonio hanya diam dengan ekspresi datar mendengarkan perkataan ayahnya.
__ADS_1
Tidak mendapatkan respon, sang ayah pun melanjutkan kalimatnya.
"Kalau kau diam seperti ini, berarti benar kalau kau tahu kalau dia sudah meninggal. Pantas saja ada riwayat penerbangan ke London atas namamu beberapa waktu yang lalu." Presdir menghentikan kalimatnya sejenak dan mengambil nafas panjang.
"Papa berusaha mencari anggota keluarganya yang tersisa untuk memberikan santunan sebagai kompensasi. Tapi siapa sangka ternyata dia adalah anak yatim piatu. Jadi papa tidak bisa melakukan apa-apa. Maka, berhentilah marah pada papa." lanjut Presdir.
"Sudah ku bilang, aku tidak mungkin berani. Kalau hanya itu yang hendak Presdir katakan, saya permisi." pamit Antonio berbalik pergi begitu saja meninggalkan ruangan sang ayah.
Antonio kembali ke ruangannya dengan tidak bersemangat. Ia memasuki kamar mandi pribadinya dan membasuh mukanya. Antonio menatap dirinya di cermin.
"Sungguh menyedihkan," kata Antonio pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1