
Sena membereskan meja belajar Alnorld yang tampak berantakan akibat buku-buku yang berserakan. Maklum saja, karena di tengah-tengah aktifitas belajar, Oma dan opanya mengajak Alnorld untuk pergi ke rumah orang tua William. Sebenarnya Sena ingin sekali ikut, namun Albert tidak bisa di hubungi sejak sore tadi. Sehingga ia terpaksa memilih untuk menunggu suaminya pulang.
"Sayang!" Albert berteriak memanggil Sena.
Sena keluar dari kamar Alnorld dan berjalan sedikit tergesa-gesa menghampiri suaminya.
"Kau sudah pulang," Sena mengambil jas dan juga tas kerja dari tangan Albert.
"Kenapa sepi sekali?"
"Mom dan dad pergi ke rumah Tante Sarah dan membawa serta Alnorld. Jadi, tinggal aku dan para pelayan saja yang ada di rumah. Oh iya, kanapa sejak sore kau sulit sekali di hubungi?"
"Maafkan aku, sayang. Aku sangat sibuk sampai lupa menghidupkan ponsel."
"Ya sudah kalau begitu."
Sena menemani Albert kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Albert melepas semua bajunya dan menggantinya dengan pakaian rumahan. Sedangkan Sena menunggu sambil duduk di sisi ranjang.
"Sayang, lusa aku harus pergi ke Singapura. Tidak apa-apa kan kalau ku tinggal." kata Albert setelah berganti pakaian.
"Apakah ada masalah dengan perusahaan disana?" tanya Sena.
"Tidak, hanya kunjungan biasa sekalian bertemu dengan investor baru perusahaan."
"Boleh aku ikut?"
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kau kan sedang hamil muda, naik pesawat tidak baik untukmu dan anak kita." kata Albert berbalik mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
"Huh, dulu saja aku bisa naik pesawat ke Jepang saat hamil Alnorld yang bahkan lebih muda dari usia kehamilan sekarang. Dan aku baik-baik saja tuh." gerutu Sena pelan.
"Sayang, kau mengatakan sesuatu?"
"Hah? Oh, tidak. Ayo, aku akan menemanimu makan."
***
"Ibu," sapa Aurelie setelah masuk ke ruang inap sang ibu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kau kemana saja, nak?" tanya Daneila khawatir.
Aurelie berjalan mendekati ibunya, ia tampak bingung melihat tas dan koper yang sudah rapi di sisi ranjang pasien.
"Apa ini? Kenapa ibu berkemas?" tanya Aurelie.
"Ya Tuhan, ibu maafkan aku. Aku benar-benar lupa." Aurelie menepuk jidatnya. Karena terlalu ingin bertemu dengan Antonio, ia sampai lupa jika hari ini dokter telah membolehkan ibunya untuk pulang.
"Kau pasti sangat sibuk dengan pekerjaanmu hingga kau lupa." kata Daneila tersenyum.
"Hehehe, ibu tunggu sebentar disini ya. Aku akan keluar dan mengurus administrasinya. Setelah itu aku akan memesan taksi untuk kita.
Aurelie pergi ke bagian administrasi hendak mengambil struk tagihan perawatan ibunya. Siapa sangka, uang yang di deposit kan Antonio untuk operasi dan perawatan ibunya masih bersisa cukup banyak dan petugas administrasi membantunya untuk mencairkan kelebihan uang deposit itu.
Aurelie menatap amplop berisikan uang di tangannya, ia kembali merasa terbebani dengan kebaikan Antonio. Ingin sekali ia membalas dan membayar kembali uang Antonio, namun pria itu sangat sulit untuk di dekati. Dan itu membuat Aurelie frustasi.
***
__ADS_1
Aurelie membuka pintu rumah yang sudah hampir satu setengah bulan ini di tinggalkan oleh ibunya. Ia menuntun wanita yang melahirkannya itu dengan perasaan bahagia.
"Selamat kembali ke rumah, ibu. Aku harap mulai hari ini kesehatan ibu akan lebih baik dan kita bisa hidup lama bersama-sama." ucap Aurelie dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, sayang." Daneila memberikan kecupan ke pipi Aurelie.
"Ayo, aku akan mengantar ibu ke kamar. Ibu tetap harus banyak istirahat walau sudah kembali ke rumah."
***
Di bandara, Antonio dan Sean tengah dibuat pusing oleh perilaku kekanak-kanakan Jason yang di paksa ayahnya untuk berangkat ke Jerman.
"Aku sungguh tidak ingin pergi." Jason berkata dengan lemah.
Hari ini adalah waktunya, ia harus pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan ayahnya yang ada disana. Ia sudah mencoba untuk menolak berkali-kali. Namun hasilnya sia-sia. Dan itu membuatnya sangat bersedih dan kecewa.
"Kau pasti akan baik-baik saja disana. Lagi pula, di Jerman banyak gadis-gadis cantik." goda Sean sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
Jason melirik Sean dengan wajah tidak senang kemudian berjalan menghampiri Antonio.
"Antonio," panggil Jason.
"Masuklah, sebentar lagi pesawatmu lepas landas. Kau lihat, asistenmu sudah berkali-kali melihat jam tangannya." kata Antonio yang sedari tadi sudah memperhatikan kegelisahan asisten Jason. Jason memutar kepalanya dan melirik asistennya. Dan benar saja, beberapa kali pria muda berkaca mata itu melihat jam tangannya.
"Kami akan mengunjungimu, brother." kata Sean.
"Sebentar." ucap Jason.
Jason berdiri semakin dekat dengan Antonio dan mencondongkan bibirnya ke telinga sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku sudah tahu hubunganmu dengan si gadis kecil itu. Ku sarankan lebih baik kau memberinya kesempatan. Kurasa dia benar-benar ingin membalas Budi padamu." bisik Jason yang kemudian berbalik dan pergi dan melambaikan tangannya tanpa berbalik sedikitpun.
"Tahu apa kau," gumam Antonio pelan agar tidak di dengar oleh Sean.