
Sena terbangun di pelukan Albert. Tenggorokannya terasa sangat kering. Karena tak tega membangunkan Albert hanya sekedar untuk segelas air. Sena berusaha sendiri menggapai botol air minum yang kebetulan ada di nakas sebelah ranjangnya.
"Eeeemmmh, tidak sampai. Bagaimana ini, susah sekali." gumam Sena.
Bruukk
"Ya Tuhan. Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Albert begitu bangun karena panik.
"Hehe, tidak apa-apa. Maaf membuatmu terbangun. Aku tadinya hanya mau meraih botol di nakas, tapi tidak sampai. Dan botolnya malah jatuh."
"Ya Tuhan, kenapa kau tidak membangunkanku saja?"
"Aku tidak tega."
"Jadi, kau haus?" tanya Albert yang di balas anghukan oleh Sena.
"Tunggu sebentar ya." kata Albert beranjak dari tempat tidur.
"Ini, minumlah." kata Albert menyodorkan segelas air hangat.
"Sudah?" tanya Albert yang lagi-lagi hanya di balas anggukan oleh Sena.
"Sekarang, tidur lagi ya." kata Albert membantu Sena merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya.
"Kau tidak tidur?" tanya Sena.
"Aku akan mengecek laporan perusahaan sebentar. Kau tidurlah, oke." kata Albert.
Sena cemberut mendengar kata-kata Albert yang akan mengecek laporan.
"Sekarang masih pukul tiga pagi, dia harusnya kembali tidur kan?" gumam Sena.
Sena memandangi Albert yang masih sibuk dengan tablet di tangannya. Albert duduk di sebelah Sena, sehingga Sena dapat dengan leluasa memandangi wajah tampan calon suaminya itu.
Sena terbangun saat suara pintu kamarnya di ketuk. Sena mengerjap memandang jam dinding yang ada di depannya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Sena bisa menebak, bahwa suara pintu tadi pastilah berasal dari petugas catering rumah sakit yang membawakannya sarapan.
Sena menolehkan wajahnya ke samping. Di pandanginya wajah Albert yang masih tertidur pulas di sampingnya.
__ADS_1
"Wajah ini. Ternyata benar kalau Alnorld adalah duplikat Albert." kata Sena menyentuh garis wajah Albert dengan jarinya.
"Eh?" Sena kaget begitu tangan Albert menggenggam tangan Sena membuat siempunya menghentikan kegiatan sentuh menyentuh wajah sebelumnya.
"Morning." sapa Albert dengan suara serak khas bangun tidur.
"Woooww, seksi." gumam Sena dalam hati.
"Jam berapa ini?" tanya Albert.
"Hampir jam tujuh pagi." jawab Sena.
Albert meregangkan tubuhnya dan duduk bersandar di kepala ranjang di samping Sena.
"Kau mau sarapan sekarang?" tanya Albert.
"Aku ingin mandi dulu."
"Baiklah, ayo biar ku angkat kau ke kamar mandi."
Tak berselang lama, Sena pun menyelesaikan acara mandinya.
"Al." panggil Sena.
"Ya, aku datang sayang." jawab Albert yang langsung beranjak ke kamar mandi dan membopong Sena kembali ke kamar.
Setelah Sena berpakaian dengan rapi, Albert dengan sigap menyiapkan sarapan Sena di atas ranjang.
"Kau sarapanlah, dulu. Aku mau bertemu dengan dr. Raphael untuk mengambil laporan kesehatanmu yang sebelumnya." kata Albert yang di balas anggukan oleh Sena.
Seperti kata dr. Raphael kemarin, hari ini Sena tidak memiliki jadwal untuk treatment sehingga dia bisa lebih santai menikmati sarapnnya dengan menonton televisi.
---------------"-------------
triiiiriiiriing
tingtingting
__ADS_1
Suara handphone melambankan langkah kaki Albert. Albert dengan terpaksa mengangkat telepon yang mungkin sangat penting itu.
"Hallo, van."
"................"
"Begitukah? Apa tidak bisa kalau di gantikan oleh Dad?"
"................."
"Baiklah, beri aku waktu satu minggu ya. Kau cobalah ulur waktu selama itu. Dan pastikan kita tidak kehilangannya kali ini."
"................."
"Baiklah kalau begitu, kau sudah bekerja keras van." kata Albert mengakhiri teleponnya.
Bruuukkk
"Maafkan saya, Tuan. Saya sangat ceroboh sampai menabrak anda." kata Albert sembari menunduk memungut map milik orang yang di tabraknya.
"Albert?" panggil seorang pria paruh baya memastikan.
Albert pun kembali menegakkan tubuhnya dan terpaku seketika melihat sosok di depannya.
"Paman Laurence?"
Si empunya nama hanya tersenyum memandang Albert.
##############
Kemungkinan chapter depan ada adegan mengharukan.
Tetap stay dan tunggu notifikasi UP nya kisah Albert dan Sena yaa...
Happy reading
😘😋
__ADS_1