
Antonio kembali ke apartemennya dengan keadaan kacau. Segala hal yang sudah ia jalani bertahun-tahun lamanya seolah-olah menjadi sebuah dosa yang tak terelakkan. Hatinya kembali terluka, ia merasakan lagi perih yang disebabkan oleh pengkhianatan. Ayah yang selama ini menjadi sosok terhebat di matanya, sosok yang begitu teguh membangkitkan semangatnya di saat-saat tersulitnya. Ternyata adalah pengkhiat yang sebenarnya.
Perasaan bersalah dan beban dosa ia rasakan menumpuk di hatinya. Hingga pada saat ia teringat kembali berita kematian Abigail yang di sampaikan Albert menampar dan mencabik nalurinya. Wanita yang ia cintai, wanita yang sempat ia benci bertahun-tahun lamanya karena sebuah kesalahpahaman.
Di hari berikutnya tepat di sore hari, dengan langkah gontai dan wajah yang dipenuhi dengan ekspresi penyesalan. Antonio datang ke unit apartemen Albert. Memang bukan hal yang sulit bagi Antonio untuk mencari info tempat tinggal sahabatnya itu. Dengan uang, yah sekali lagi dengan benda bernama uang itu dia bisa mendapatkan informasi apapun yang ia inginkan.
***
Albert menggandeng tangan Alnorld. Wajah ceria sang putra membuatnya merasa berhasil telah menjadi ayah yang baik.
"Apa kau sudah puas mainnya, son?"
"Iya, Daddy. Jadi kita pulang malam ini?"
"Tentu, kapten sudah menunggu kita di bandara. Kita masih ada waktu sekitar 4 jam untuk beristirahat."
"Aku lelah sekali. Tapi aku senang."
"Tentu kau juga harus merasa senang, sayang."
"Albert, itu........."
Albert melepaskan tangan Alnorld dan berjalan cepat ke arah Antonio yang berdiri menunggu di depan unit apartemennya.
__ADS_1
"Ada urusan apa kau kemari?"
"Maafkan aku,"
"Kau sudah tahu yang sebenarnya?"
"Iya, dan aku merasa sangat buruk sekarang. Maafkan aku yang bodoh ini."
"Aku memaafkanmu."
"Kalau mau reuni, jangan di depan pintu. Ayo masuk. Akan ku buatkan minuman hangat untuk kalian berdua." Sena membuka pintu apartemennya dan menyuruh Albert dan Antonio bercengkrama di dalam.
Setelah mengantar Alnorld ke kamarnya, Sena bergegas pergi ke dapur untuk menyeduhkan teh. Dari dapur terlihat bagaimana dua pria dewasa itu mengobrol dan saling membalas pelukan ala pria. Dan senyuman tulus di lemparkan satu sama lain.
"Sepertinya semua sudah baik-baik saja." kata Sena dalam hati kemudian membawa nampan berisi dua cangkir teh dan cemilan untuk Albert dan Antonio.
"Terima kasih, sayang."
"Nyonya Nero, aku belum sempat berterima kasih padamu."
"Ah, hanya teh dan beberapa potong kue saja. Tolong jangan sungkan, tuan."
"Bukan itu, aku berterima kasih untuk pertolonganmu tempo hari di restoran."
__ADS_1
"Restoran?" Sena berfikir sejenak mengingat hal apa yang ia lakukan di restoran untuk membantu Antonio.
"Oh, iya aku ingat. Apakah anda baik-baik saja?"
"Seperti yang anda lihat."
"Syukurlah." ucap Sena lega.
"Kalian pernah bertemu?"
"Istrimu menolongku disaat-saat kritis. Karena itu aku menyukainya. hahahaha," Antonio berbicara dengan nada bercanda.
"Brengsek kau." Albert meninju pelan lengan Antonio. Dan keduanya pun tertawa bersama.
Sena yang tak mau menjadi pengganggu pun segera meninggalkan mereka yang masih sibuk dengan tawanya.
"Oh, iya. Kau harus mengunjungi kami di negara X lain kali. Karena kita tidak bisa bertemu lagi disini." kata Albert begitu menghentikan tawanya.
"Kau sudah berencana pulang?"
"Ya, tentu saja. Putraku sudah harus kembali ke sekolahnya. Dan kekacauan di perusahaanku yang disebabkan oleh orang-orang bodohmu juga sudah aku selesaikan. Jadi untuk apa aku bertahan disini. Sedangkan disana pekerjaanku sudah menumpuk banyak."
"Ah, maafkan aku soal perusahaanmu itu."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
"Apakah kau, tidak bisa menunda kepulanganmu? Aku ingin mengajakmu untuk menengok makan sahabat kita, Abigail. Di London."