Di Jadikan Pelayan Setelah Menikah

Di Jadikan Pelayan Setelah Menikah
Pindah Ke Apartemen


__ADS_3

[Hallo Bella sayang, bagaimana kabar mu nak? Apa kau masih marah sama tante]


Ayah menghampirinya Bella lalu berbisik pelan, dan sejenak Bell menjauhkan jangkauan hpnya dari telinga.


"Siapa yang menelpon apa tante Mala?"


"Iya yah, ini tante Mala"


"yah sudah sekarang kau bilang ke tante Mala bahwa kamu bersedia untuk mendekati anaknya lagi"


"Tapi yah, aku tidak ingin lagi merusak rumah tangga mereka."


"Bella, jika tidak seperti itu harus dari mana lagi kita mendapatkan uang untuk pengobatan adik mu coba kau pikirkan itu baik-baik"Bella mulai berpikir keras untuk menerima atau menolak tawaran tante Mala, namun jika tante Mala tau jika Bella bukan lah seorang dokter kecantikan maka sudah di pastikan tante mala akan marah besar padanya.


Bella adalah anak pertama dari dua pasangan suami istri yang memiliki toko ayam goreng di sebuah pinggiran kota. dan uang penghasilan mereka sehari-hari berasal dari penjualan ayam goreng tersebut.Sebenarnya Bella wanita yang baik ia bersikap matre hanya lah sampulnya saja untuk menarik simpati orang-orang kaya agar mau memberikannya uang sehingga ia mampu membeli mobil. Serta tas-tas mahal yang waktu itu Zhio berikan telah ia jual semua untuk pengobatan sang adik.


[Hall Bella, mengapa kau diam nak. Apa kau sedang sibuk]


"Dokter bagaimana keadaan ibu saya dok?"Suara seseorang yang tidak jauh dari Bella terdengar begitu nyaring hingga ketelpon.


[Bell, apa kau sedang berada di rumah sakit]


[ah,iya tante aku sedang berada di rumah sakit sekarang]

__ADS_1


[Jadi apa kau saat ini tenga menangani pasien, oh yah sampai sekarang kau belum memberi tahu tante kau bertugas di rumah sakit apa]


Oh, tidak. Kenapa tante Mala tiba-tiba berkata seperti ini lagi padahal sudah sangat lama ia tidak membicarakan tentang identitasnya yang sebenarnya.


[Tante maaf, sudah dulu yah aku sedang sibuk sekarang pokonya nanti aku telpon lagi yah]


...****************...


"Hallo Bell, hallo ih anak ini kenapa harus di matikan padahal aku belum selesai bicara"


Ify sembari mengepel, ia juga memandangi mama mertuanya yang baru saja menelpon seseorang yang ia ketahui pasti itu Bella.


Kupasan kulit kuaci di buang sembarangan saat Ify sedang mengepel di sekitar sofa, pelakunya jelas-jelas mama mertuanya sendiri.


"Ma. Lantainya tidak akan kotor jika mama melemparkan kulit kuaci itu kesembarang tempat, hargai dong ma aku sedang mengepel"


"Hargai, untuk apa saya menghargai wanita seperti mu. Tidak pantas dan tidak patut untuk saya hargai, sudahlah cepat lakukan tugas mu dengan baik."


Ify dengan sejuta kesabaran menyapu butiran butiran kulit kuaci itu dengan serokan dan sapu hingga tidak ada yang tersisa.


"Apa yang kau lakukan!"Suara Zhio terdengar kencang dari ambang pintu, Zhio melangkah cepat lalu merampas semua benda yang tenga di pegang Ify lalu melemparnya ke lantai.


"Kenapa kau membersihkan ini semua! Sudah ku bilang kau tidak usah keluar dari kamar sebelum aku pulang kerumah!"

__ADS_1


Zhio berpaling pada mamanya yang tenga santai bermain hp sembari memakan kuaci.


"Pasti ini perbuatan mama kan!"


"Zhio kamu tuh apaan sih asal tuduh mama sembarangan lagi pula wanita ini sendiri yang meminta untuk membersihkan seluruh rumah tanpa di minta"


"Iya mas, mama benar aku yang meminta ini semua."Ucap Ify sembari menunduk.


"Lalu di mana Zoya dan Anes?"


"Zoya dan Anes sudah mama suruh pulang kampung,"


"Apa! kenapa mama menyuruh mereka pulang kampung!"


"Sudahlah Zhio lagian apa fungsi istri mu, sudah biarkan saja dia membersihkan seisi rumah ini lagi pula itu kewajiban sebagai seorang istri."


"Tapi Ify ini istri ku ma, bukan pelayan di rumah ini!"


"Hey, Zhio! Apa kau tidak ingat dulu kau juga melakukan hal yang sama. jadi tidak usah besar kepala."


"Itu dulu ma sekarang tidak lagi! Ify ayo kemaskan semua barang-barang mu kita akan pindah ke apartemen saja ketimbang harus tinggal di rumah ini lagi!"


Zhio menarik tangan Ify untuk mengajaknya pindah ke apartemen.

__ADS_1


__ADS_2