
Di kamar Ify hanya bisa memandangi seluruh isi kamarnya yang seperti supermarket begitu banyak makanan ringan di sekitarnya menurutnya ini sudah melebihi kapasitas dan tidak mungkin memakan makanan itu setiap hari.
Zhio pria itu nampaknya sudah terlampau tidak waras bisa-bisanya hampir seluruh makanan ringan ia borong semua demi sebuah keegoisan terlebih makanan-makanan ini begitu mahal. Di tambah Ify juga mengeluh ketika beberapa makanan ringan yang telah Rio berikan untuknya di buang begitu saja oleh Zhio.
Sampai saat ini Ify hanya bisa merasa kesal sembari mengacak rambut panjangnya. Sebuah pikiran terlintas di otaknya tanpa menunggu waktu lama ia pun segera keluar dari kamar. Ify berjalan menuju kamar Zoya dan Anes. Kebetulan kamar mereka berdempetan, hingga tangan Ify perlahan mengetuk pintu mereka secara bersamaan.
"Zoya! Anes!"
Tidak menunggu waktu lama mereka pun keluar dari dalam kamar mereka masing-masing.
"Ada apa mbak?"Tanya Anes.
"Iya, ada yah. Apa mbak butuh bantuan?"Ucap Zoya.
"Kalian ikut aku ke kamar yuk,"Ajak Ify dengan keduanya.
"Tapi mbak gimana kalau kita ketahuan sama nyonya besar dan tuan Zhio sedangkan mereka saja ngelarang kita buat temenan sama mbak." rupanya Anes masih sangat ingat dengan pesan nyonya besar yang melarang keduanya untuk berteman dengan Ify.
"Husst, ada ke kamar aku sebentar aja. Karena ada sesuatu yang akan aku beri untuk kalian."ucap Ify sembari menarik tangan keduanya untuk mengikutinya ke dalam kamar.
__ADS_1
Namun setelah sampai di kamar Ify Zoya dan Anes termangu di tempat mata mereka menjadi terang ketika melihat begitu banyak makanan ringan.
"Kalian suka kan,"
Mereka hanya mengangguk bearti itu tandanya mereka suka.
"Yaudah tunggu apa lagi, ambil aja bila yang perlu yang banyak. Karena ini terlalu banyak jika untuk ku semua"
"Wah mbak Ify yang bener, jajanan nya mau kasih ke kita!"
"Iya Zoy, pokoknya pilih aja jajanan yang kalian suka!" Ucap Ify meyakin kan sekali lagi.
"Mbak gak marah kan kalau jajanan ini buat di kasih ke kita. Kan ini milik mbak."
"Iya An, yakin udah buruan ambil sebelum nyonya besar dan Zhio tau."
"Baiklah mbak,"
Zoya dan Anes kini masing-masing sudah membawa satu kantong kresek berukuran besar berisi jajanan sehingga jajanan yang ada di dalamnya terlihat menyembul keluar kadang lagi-lagi Ify malah menambahkan beberapa jajanan lagi ke dalam kantong kresek mereka.
__ADS_1
"Udah mbak gak usah di tambahi lagi, ini udah lebih dari cukup kok,"Ucap Zoya.
Anes menambahkan komentar terbaiknya.
"Mbak kita tuh beruntung banget punya majikan sebaik mbak."
"Husst diem, berhenti memuji ku, ayo kalian harus segera kembali ke kamar kalian masing-masing."Intrupsi Ify pada keduanya.
"Iya mbak, sekali lagi makasih yah. Dan kalau begitu aku dan Anes kembali dulu ke kamar kita."
"Oke hati-hati,"
Setelah mereka pergi Ify kembali menutup pintu kamarnya, ia juga sadar pintu ini sudah rusak ketika di dobrak oleh Rio tadi pagi. Walau seperti itu, Ify hanya bisa menutup pintu kamarnya seadanya.
Sementara ia masih memandangi makanan-makanan ringan itu yang menurutnya masih terlalu banyak, Sejenak Ify berpikir pasti untuk membeli makanan ringan tersebut sudah di pastikan uangnya bisa puluhan juta.
Zhio, pria itu menurutnya begitu aneh bukan kah pria itu sangat benci kepada nya lalu kenapa dia mau membelikan Ify makanan ringan sebanyak itu. Mungkin hal ini akan tercatat sebagai nafkah pertamanya Zhio walau ia memberinya dengan cara paksaan.
Saat ini pada pukul jam 6 pagi Ify begitu sibuk di dapur ia memasak nasi goreng hanya seporsi cocok untuk dia seorang. Sajian nasi goreng dan telur mata sapi sangat menggugah selerah.
__ADS_1
Awalnya Ify memakan sarapan paginya begitu tenang tampa sebuah hambatan, namun saat suapan yang ketujuh. Segelas air putih sengaja di tumpahkan ke dalam piring yang berisi nasi goreng yang saat ini Ify sedang makan. Sontak Ify meremas sendok yang saat ini ia pegang ketika tau siapa yang yang tenga berani mengusik sarapannya.