
Bercerai bukanlah jalan keluar untuk mengatasi kesulitan di dalam rumah tangganya terkadang hanya perlu tekat serta keberaniannya saja untuk melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Ify berjalan menuruni tangga menuju ke lantai satu di sana Ify melihat jika Zhio dan nyonya besar sedang sarapan pagi. Bahkan bisik-bisik omongan dari mereka cukup terdengar, Ify yakin mereka berdua pasti membicarakannya, Tanpa rasa ragi Ify pun berjalan menuju ke meja makan.
Perubahan wajah mereka kini menjadi masam akan kedatangan Ify di samping mereka, Ify menumpukan tanganya pada sandaran kursi yang saat ini Zhio duduki.
"Kau meninggalkan aku sendirian di kamar, sedang kan kamu hanya makan berdua saja sama mama mertua, kenapa tidak ajak aku?"Ify burucap dengan kalimat seadainya.
Dan rupanya kalimatnya itu membuat Zhio menggeram kemudian mendebrak meja makan itu. Sedangkan nyonya besar hanya menampilkan senyum sinis nan kebencian padanya.
"Aku ajak kamu makan,"Cih Zhio membuang ludah di sisi Ify."Jangan mimpi kamu pelayan!"
Masa bodoh dengan Zhio yang saat ini sedang menghujaminya dengan kata-kata kasarnya, Ify bahkan dengan santainya duduk di samping kursi Zhio.
"Kamu ini yah! Betul-betul tidak tau malu! Kau itu pelayan! Kenapa malah sok berkuasa seperti majikan!"Hardik nyonya besar.
Tanpa persetujuan dari Zhio dan nyonya besar langsung saja Ify mengambil piring beserta nasi dan jajaran lauk pauk.
Zhio menarik lengan Ify untuk berdiri.
"Dasar tidak tau malu! Beraninya pelayan seperti mu tidak menghormati majikan,"
__ADS_1
Ify merasa kesulitan untuk mengambil telor dadar di depanya ini karena Zhio berusaha menyuruhnya berdiri, sakit tentunya saat tangan kokoh Zhio mencengkram lenganya satu-satunya cara adalah dengan mengigit tangan Zhio.
"Argg...Sakitt!!"
Seketika tangan Zhio terlepas dari lengan Ify wanita ini anjing galak atau apa sekarang kenapa ganas sekali.
"Yaampun putra ku kau tak apa-apa nak?"nyonya besar panik ketika menyaksikan Ify mengigit tangan Zhio di depan matanya.
"Makanya hormati orang yang lagi makan!"Hardik Ify membalas ucapan mereka.
Zhio mengibas-ngibaskan tanganya yang merasa kesakitan sedangkan pandangan matanya tidak henti-hentinya menatap tajam pada sosok wanita yang sibuk sarapan itu.
"Wanita ini benar-benar berbahaya ma, mama harus hati-hati dia memang pembawa sial!"
"Kau ini! Awas saja yah kalau sampai tangan putra ku jadi rabies hanya karena gigitan mu maka detik ini juga kau akan saya tuntut!"
"Kalau kalian tidak melerai ku untuk makan maka semuanya tidak akan terjadi. Zoya Anes! Cepat kemari!"
Zoya dan Anes berlari kompak menghadap Ify itu membuat nyonya besar merasa aneh dengan dua pelayannya itu.
"Iya ada apa mbak?" Tanya Zoya.
__ADS_1
"Hey tunggu kalian berdua tidak perlu semenurut itu dengan pelayan ini! Ingat tahtanya di sini sebagai pelayan dan bukan majikan!" Ujar nyonya besar memperingati.
"Zoya Anes jangan dengerin mama mertua ku yah. Ingat aku di sini adalah seorang istri dari majikan kalian Zhio dalam artian aku juga majikan di sini."
"Apa kau bilang? Mama mertua, cih siapa kira-kira mama mertua mu itu ha! Bahkan aku tak menginginkan jenis menantu yang kurang ajar seperti kamu!"
"Cukup ma biarkan saja wanita ini melakukan hal sesuka hatinya jangan perdulikan dia, aku sudah tidak tahan lagi ma! Dengan segala tingkah yang membuat ku begitu muak."Zhio pun undur diri meninggalkan nyonya besar.
"Zhio!tunggu mama sayang,mama juga tidak tahan!"
Seketika semuanya lenyap dari pandangan Ify kecuali Zoya dan Anes, dalam diam Zoya dan Anes memberikan acungan jempol untuk Ify pada kedua sisi tubuh mereka.
"mbak, mbak tadi mau minta apa nanti bakalan kita ambilkan," Ujar Zoya.
Ify berucap pelan.
"Tidak perlu semua yang ada di meja sudah lebih dari cukup."
"kau hebat mbak, aku dan Anes tak menyangkah jika mbak bisa sekeren ini."
"Husst pelan-pelan,nanti katauan."
__ADS_1