
Sampai saat ini Zaira belum mengetahui siapa sebenarnya orang tua kandungnya saat usia 7 tahun hingga sekarang berusia 15 tahun Zaira hanya mengetahui jika ia di pungut dari panti asuhan oleh bibik dan paman.
Di saat usia belia Zaira sudah di ajarkan cara mencari uang dengan berjualan kue dengan berkeliling kampung dan uang hasilnya jualanjya ia berikan semua pada bibik Lasmi sementara Zaira hanya mendapatkan 2 ribu rupia untuk jajan.
Dari Sd hingga smp Zaira mendapatkan sebuah beasiswa kepintaran jadi saat sekolah ia tidak perlu mengeluarkan uang karena segala keperluannya sudah di bantu.
Malam yang dingin dengan hujan yang sedikit rintik-rintik membuat siapa pun siapa pun mudah terlelap ke alam mimpi namun tidak dengan Zaira. Saat ini Zaira sedang memikirkan sesuatu di otaknya.
Setelah semuanya sudah terkumpul penuh di dalam otaknya,kini Ia bangkit lalu dengan mengendap-endap mengunci pintu.
Sebuah niat terlintas saat ini juga dan di yakinin bahwa keputusanya sudah benar, tanpa berpikir lama Ify menyambar tas berukuran besar. Dan memasukan semua pakaian-pakaiannya dan tidak lupa berkas-berkas yang di butuhkan untuk mendaftarkan diri ke SMA.
Setelah semuanya telah siap Zaira pun dengan pelan membuka jendela kamarnya lalu berjalan pelan menuju keluar jendela.
Harusnya Saat ini Zaira memberi sebuah apresiasi pada malam dan hujan kerena berkat keduanya Paman dan Bibik tidak melihatnya kabur dari rumah.
Di sisi lain seorang ibu dan anaknya tenga berlibur ke desa ini dan malam ini mereka memutuskan untuk pulang ke kota.
Remaja perempuan yang usianya 16 tahun itu merengek pada mamanya yang saat ini tenga sibuk memasuki koper-koper ke dalam bagasi.
"Ma, yakin mau pulang hari ini, kenapa sih gak besok aja."
"Tidak El,kita tidak bisa pulang besok karena besok pagi jam 9 mama sudah harus berada di perusahaan."
"Hoooft, mamaa.."
"Sudah jangan banyak omel, ayo masuk nanti hujanya tambah lebat,"
Zaira kebingungan harus kemana lagi sementara jika harus ke kota maka setidaknya ia harus menggunakan angkot ke stasiun lalu nantinya bisa pakai kereta atau pun menggunakan bus.
Rasa ingin menyerah kembali melanda di dalam diri Zaira, namun kedua mata jernihnya tiba-tiba melihat ada sebuah mobil yang saat ini bagasinya sedang terbuka dan langsung saja tanpa pikir panjang ia diam-diam mengendap-endap masuk kedalam bagasi itu tanpa di ketahui sang pemilik mobil.
__ADS_1
Ketika sudah menutup bagasi belakang Ibu dan sang anak itu pun masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya. Di dalam bagasi Ify merasa legah, karena tindakannya tidak di ketahui oleh sang pemilik mobil.
Malam pun kini telah berganti pagi, kicauan burung begitu nyaring terdengar di telinga.sementara Zaira merasa terganggu katika mendapatkan silauan dari cahaya matahari yang menerpa wajahnya.
"Arrg...!!!nyonya...!!tolong nya ada mayat!!"
"Ada apa Sep...!!kenapa kamu berteriak?"
"Itu loh, nyonya di bagasi nyonya ada mayat yang lagi tidur!"
"Ha! mayat yang lagi tidur? Yang bener kamu Sep?"
"Iya nya, kalau begitu mari nyonya lihat saja sendiri."
Mendengar ada yang berteriak sontak Zaira langsung terbangun dari tidurnya masih dalam posisi duduk di bagasi, ia pun nampak tidak menyangkah bahwa saat ini ia sudah berada di depan rumah besar tingkat 2.
Supir, dan majikannya ini tenga berjalan menuju mobil yang katanya ada mayat dan bertapa terkejutnya Zaira saat ini ia sudah di kepung oleh yang pemilik mobil.
"M-maaf nyonya, aku hanya numpang ke mobil nyonya saja tidak bermaksud lebih," Ucap Zaira gugup sembari menurunkan kedua kakinya turun dari bagasi.
"Mama..."Seorang remaja perempuan berlari menghampiri sang mama yang saat ini tenga berbincang-bincang dengan orang lain.
"Loh, bukannya kamu yang waktu itu nolongin aku dari preman pasar kan?"Tunjuk Remaja perempuan itu pada Zaira.
Sementara Zaira tidak menyangkah akan bertemu lagi dengan seseorang yang usianya sepantaran denganya.
"Oh jadi ini orang yang udah nolongin kamu waktu itu dari preman?"Tanya mamanya sekali lagi.
"Iya ma, dia orangnya! Oh yah kenalin aku Eliza," Remaja perempuan itu mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan dengan Zaira.
Namun tanpa ragu Zaira menarik kedua sudut bibirnya dan menerima jabatan tangan itu.
__ADS_1
"Za, ah. Maksud aku Ify"
"Wah Ify yang terlihat bagus bukan."Seruh Eliza dengan senyuman yang mengembang.
"Tapi kok kamu bisa berada di dalam bagasi mobil aku?" Tanya Eliza pada Zaira yang saat ini sudah mengganti namanya menjadi Ify.
Ify kembali menundukan kepalanya.
"Maaf yah Eliza aku udah ngerepoti kaian diam-diam tapi itu aku lakukan hanya untuk ikut nebeng saja. Aku pengen tinggal di kota dan meneruskan sekolah ku."
"Kamu ingin tinggal di kota, kamu bahkan belum tau yah bagaimana kerasnya hidup di kota apalagi usiamu masih sangat remaja"Lirih mamanya Eliza yang saat ini nampak kasihan dengan keadaan Ify.
"Gak, apa-apa nyonya untung-untung aku ingin belajar mandiri tanpa memerlukan bantuan orang lain."
Wanita paruh bayah ini dapat mengetahui dari raut wajah remaja perempuan di depannya ini yang wajahnya nampak sedih dan menaru banyak beban di pikirannya. Ia tahu bahwa gadis ini adalah gadis yang baik.
"Ma, gimana kalau Ify tinggal sama kita saja apa lagi kan mama sering bepergian terus aku sendiri gak ada temen, dan aku akan senang jika Ify tinggal sama kita." Kata Eliza sembari merangkulkan tanganya di lengan Ify.
"Boleh, mama setuju kok jika Ify tinggal bersama kita."
"Yeaay yang bener kan ma,"
"Iya Eliza,"
Raut wajah Ify terlihat begitu bahagia akhirnya ia bisa mendapatkan tempat tinggal bersama orang-orang baik.
"Makasih yah nyonya,"
"Ets jangan panggil saya nyonya, panggil sana saya tante Maya. Okay."
"Ify ingat sekarang kau dan aku adalah sahabat." ujar Eliza yang saat ini menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Ify.
__ADS_1