
Di dalam kamar mandi Ify membasuh bibirnya dengan kasar tapi seketika ia meringis kesakitan saat jari telunjuknya menyentuh sudut bibirnya. Noda luka terlihat jelas saat Ify berkaca di dalam kamar mandi itu.
Selama ini saat usianya kini baru beranjak 23 tahun Ify belum pernah yang namanya merasakan sebuah ciuman, tapi kali ini seorang pria yang begitu membencinya merenggut bibirnya walau tanpa di sengaja.
"Zhio. Zhio. Kenapa, harus ada Zhio di dunia ini!"
Ify memperhatikan dirinya lewat pantulan kaca di depanya, namun tak di sangkah adegan kecelakaan tadi memutar kembali di memory otaknya.Bahkan Ify sengaja menyalakan keran air agar suara kekesalnya tidak di dengar oleh Zhio.
Setelah merasa puas dan legah, pada akhirnya Ify memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi.
Mata Ify kembali berkaca-kaca, tidak percaya hal yang tak terduga itu harus terjadi kepada dirinya.
Zhio dengan santainya bermain hp di atas ranjang sambil memakan buah anggur tanpa menghiraukan Ify yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Terlihat jika Ify mengepalkan kedua tangannya saat melihat Zhio dengan wajah yang nyaris tanpa rasa bersalah.
"ck,wanita munafik! Baru kena cium tak sengaja saja lebaynya nyampe selangit! harusnya kau itu beruntung bersentuhan bibir dengan pria tampan seperti ku!" Umpat Zhio yang saat ini masih bisa melanjutkan memakan anggur hijau satu-persatu masuk kedalam mulutnya.
Mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Zhio sungguh membuat Ify menitikan air mata."Kamu memeng pria brengse*! Apa untungnya aku mendapatkan ciuman dari pria yang tukang selingkuh seperti mu!"
__ADS_1
"Kau bilang aku berselingkuh?Hey harusnya berkaca dulu sebelum memulai perang. Lalu apa kau pikir kau dan pria miskin itu tidak berselingkuh!"
"Aku sama Rio cuma temenan gak lebih! Emangnya kamu punya selingkuhan dimana-mana!"
"Masa bodoh dengan nama pria yang kau sebutkan barusan. Aku tidak perduli!"
Diam adalah solusi yang baik di banding harus beradu debat dengan Pria di depannya ini. Pria tua berusia 30 tahun ini memang seorang pria yang egois, maunya menang sendiri.
"Kau tidur di lantai sana. Aku tidak sudih berbagi tempat tidur dengan pelayan rendahan seperti mu!" Ucap Zhio dengan melemparkan satu bantal di bawah lantai.
Ify mengigit bibir bawahnya dengan kuat di kalah melihat sebuah bantal terlempar di lantai berkeramik dingin ini. Pandangannya yang tajam ia hujamkan saat Zhio tenga memandang ke arah dirinya.
Usahanya untuk mempertahankan tempat tidur itu pun kini lenyap sudah, tapi untuk sekarang bukankah mengalah juga lebih baik dari pada mengulang untuk beradu kekuatan kembali dan pada akhirnya ciuman tak di sengaja terjadi lagi.oh tidak sumpah demi apapun Ify tidak ingin pristiwa itu terulang lagi.
Tapi sebelum itu Ify pub bangkit lagi mulai mamatikan lampu di kamar itu.
"Hey nyalakan kembali lampunya, aku tidak bisa tidur kalau lampunya mati!"Hardik Zhio saat Ify sudah meng of lampu.
"Tapi aku gak bisa tidur kalau lampunya gak di matiin!"Ucap Ify membela diri.
__ADS_1
"Aku gak perduli! Sekarang cepat kamu nyalakan kembali!"
Dengan rasa keterpaksaan Ify menyalakan lampu itu kembali, dengan langkah lemah ia kembali membaringkan diri di lantai bawah.
Zhio sudah tertidur nyenyak akan tetapi Ify belum bisa memejam kan matanya ia memang tidak bisa tidur dalam kondisi lampu menyala.
Suatu hal yang harus di ketahui jika Ify bisa tertidur pulas ketika sedang membayangkan sesuatu hal yang indah, kini apapun yang saat ini ia pikirkan sukses membawanya ke alam tidur.
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui pentilasi udara mampu membuat Ify perlahan membuka kedua matanya. Rasa nyaman dan terlihat empuk dapat ia rasakan sekarang.
"Loh, kok aku tidur di ranjang!"Ify terlihat terkejut dengan posisinya saat ini yang tenga berada di atas ranjang sedangkan saat ini tidak ada siapa-siapa di sekitar kamar ini.
Ceklek.
Tante Maya membuka pintu kamar itu, ia hanya berdiri ambang pinggir pintu.
"Ify, rupanya kamu sudah bangun, ayo kita sarapan dulu. Di meja makan sudah suami mu Zhio yang sedang menunggu mu."
"Ah,iya tante nanti aku akan kesana."
__ADS_1
Tanta Maya mengacungkan kedua jempol, lalu menutup pintu itu kembali.
Setelah pintu sudah tertutup dari luar Ify segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.Ia dapat bersyukur dan bernafas legah, rupanya keadaan tubuhnya masih terlihat aman.