
Hujan yang lebat serta petir menyambar-nyambar saat ini sedang melanda perumahan kecil nan sederhana di sebuah desa. Seorang remaja perempuan di perkirakan baru saja lulus smp baru saja pulang ke rumah dengan keadaan yang basah kuyup akibat hujan.
Pintu kayu ber cat hijau itu tertutup rapat dari luar sehingga membuat remaja yang bernama Zaira itu mengedor kuat-kuat memanggil paman dan bibinya.
"Bibi...!paman...!bukain dong pintunya..."
"Bibi...!Paman....!!!Cepat bukain pintunya...!!"
"Bi!!"
Cekklek...Pintu pun terbuka dengan menampilan paman dan bibi tepat di depan ambang pintu dalam.
"Baru pulang kamu!terus mana hasil jualan kue yang kamu jual hari ini!"Tanya Bibinya dengan kelimat yang penuh tekanan.
Sejenak paman Zaira memandangi sebuah tampah yang berisi kue-kue yang masih terlihat utuh dalam kondisi basah.
"Hey, lihat apa yang kamu perbuat dengan kue-kue ini!"Ujar pamanya yang tak kalah cerewetnya dari sang bibi.
Zaira menghelah nafas berat, sungguh kali ini ia berbicara dengan nada yang menggigil karena kedinginan.
"Maaf bibi paman! Aku tidak bisa menjual kue-kue ini sampai habis soalnya di sana ada satpolpp makanya aku lari dan terus tiba-tiba hujan turun"
__ADS_1
"Jadi mentang-mentang hujan kenapa gak bertedu dulu, liat tu jadi rugi lama-lama aku. Kerjanya mu itu tidak becus!"
"Maafkan aku bibik,"Ucap Zaira sambil menunduk sedih.
Sementara petir terus menyambar-nyambar serta cahaya kilatan petir tersebut memantul pada mereka.
"Bu,bu mending kita masuk dulu saja sekarang bu. Lihat hujan dan petirnya begitu dasyat lebih baik kita masuk bapak gak mau bu jadi gosong karena tersambar petir."
Darso menarik istrinya Lasmi untuk segera masuk ke dalam rumah begitu pun Zaira yang ingin juga masuk ke dalam. Tapi Bi lasmi mencegatnya.
"ets apa yang kamu lakukan,kamu jangan masuk lewat depan tapi lewat belakang. Aku tidak mau lantai rumah ku terlihat kotor gara-gara tubuh mu yang basah!"
Brakk!!!
Zaira saat ini tenga berada di dalam kamarnya sembari menggenggam segelas teh hangat kemudian menyesap teh itu secara perlahan sementara paman dan bibinya sedang makan enak sembari menikmati tontonan televisi di ruang tamu.
"Zaira...!!"
"Zaira.. !!Cepat kemari...!"
"Iya ada apa bik...!!" Zaira cepat berdiri kemudian ia berlari menuju ruang tamu.
__ADS_1
"Besok kita punya pekerjaan untuk kamu,"Kata bi Lasmi sambil mengunyah keripik ubi.
Zaira menautkan kedua alisnya.
"Kerjaan Bik, kerjaan apa lagi.."
Alih-alih bukan bibik yang meneruskan kalimat bicaranya tapi paman Darso.
"Aku punya kenalan teman di pasar sana dan dia punya toko pakaian nah katanya dia butuh karyawan.terus paman dan bibik mu ini setuju menjadi kan kamu karwayan di tokohnya."
Zaira menggeleng lemah, Lagi-lagi paman dan bibiknya hanya menjadikan ia menjadi sumber mata uang sementara mereka tidak bekerja.
"Tidak paman, aku tidak bisa besok aku harus mendaftar sekolah menenga atas, malanjutkan sekolah menurutku itu jauh lebih penting."
Bik Lasmi pun terlihat marah sampai-sampai ia mendebrak meja.
"Apa melanjutkan sekolah! Tidak kau tidak perlu melanjutkan sekolah. batas sekolah mu cukup di smp saja, jadi kau tidak perlu melanjutakan sekolah hingga ke jenjang SMA"
"Iya betul itu kata bibik mu, kau tak perlu melanjutkan sekolah lagi, yang hanya perlu kau lakukan adalah mencari uang,uang dan uang."
"Tapi kan.."
__ADS_1
"Cukup Zaira! Apa kau tidak bersyukur dengan jasa kami yang telah membesarkan mu hingga sekarang. Ingat kau itu anak yatim yang kami pungut dari panti asuhan, harusnya kau itu tau diri jangan ngelunjak."Hardik bik Lasmi pada Zaira.
Sementara Zaira hanya menangis sedih sembari mengepalkan kedua tangannya ketika mendengarkan kedua keputusan bibik dan pamannya.