
"Andai papa kamu saat ini sudah sadarkan diri tentunya papa mu pasti akan sangat bahagia karena Nayna kecilnya sudah di temukan,"
Ify memandang pria paruh baya yang tenga terbaring koma itu dengan pandangan sedih, kemudian ia meletakkan tangannya di atas tangan pria paruh baya yang di nobatkan sebagai papa kandungnya.
"Harusnya dari kecil aku udah nemenin papa, main sama papa tentunya main sama mama juga sebuah takdir berkata lain, dan sekarang aku senang aku bahagia sekali maa paa karena bisa bertemu kalian, bahkan aku tidak menyangkah tentang takdir yang mempertemukan kita" Ucap Ify dengan deraian air mata kebahagiaan yang mengalir deras di wajah. "Paa, aku yakin papa kuat. papa bangun yah, dan aku janji setelah papa sadar nanti aku janji bakalan rawat papa, jagain papa, dan maaf karena selama ini aku banyak salah sama papa hiks..hiks..."
"Nay, kamu tidak pernah salah kok yang terpenting sekarang kami harus yakin yah bahwa papa akan sadarkan diri secepatnya" Dewi menangis haru juga memeluk Ify tanpa ada kata bosan.
"Mario kira-kira ada di mana yah ma, ah maksud aku kak Rio" Ify menghapus air matanya dan menanyakan di mana keberadaan Mario.
"Mama yakin Mario merasa berat ketika mengetahui bahwa kamu adalah Nayna karena selama ini Mario hanya memandang kamu sebagai wanita yang di sukainya,"
"Apa maksud mama?"
"Apa kamu masih tidak mengerti Nay. kakak mu itu tidak pernah dekat dengan wanita tanpa terkecuali kamu, dulu awal kamu dan Mario bertemu kakakmu pernah bercerita kalau dia telah bertemu seorang wanita yang menjadi dambaan hatinya yang ternyata itu kamu dan namun saat mengetahui kamu punya suami Kakak mu sempat patah hati..hooh seharusnya yang di persalah kan itu Lasmi, andai wanita itu tidak menculik kamu pasti kejadian tidak akan seperti ini. tapi mama bahagia karena Nayna kecil mama tumbuh dengan sangat cantik sekali"
"Ma aku merasa tidak enak dengan Kak Rio bagaimana kalau aku susul dia, tapi astaga ngomongin soal kak Rio aku jadi ingat mas Zhio pasti mas Zhio sudah menunggu lama"
Baru saja membahas Zhio rupanya sebuah pesan terkirim ke hpnya.
{Jangan khawatir tentang ku, aku memaklumi kalau kamu butuh waktu yang lama dengan keluarga mu saat ini. aku turut senang dan juga bahagia, selamat yah sayang akhirnya kamu menemukan keluarga mu seutuhnya. Aku berada di ruangan mama saat ini, sedang menjaga mama yang juga belum sadarkan diri kalau kamu ingin kesini, maka kesini saja}
Tanpa di sadari Ify menarik kedua sudut bibir nya saat membaca pesan dari Zhio untuk nya, rupanya Zhio sangat mengerti tentang keadaannya sekarang.
__ADS_1
"Hey, senyum-senyum sendiri. Apa itu pesan dari suami mu?"
"Hm iya ma, ini dari Mas Zhio mas Zhio mengatakan kalau dia sedang berada di ruangan mama mertua saat ini"
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan mu Nay, apa pria itu sudah mulai mencintai mu pasalnya yang mama Zhio sering berbuat kasar sama kamu, terlebih mamanya itu. Nay.. kalau kamu merasa tidak tahan kamu bisa menggugat cerai pria itu, ingat Nay sekarang kamu punya keluarga lengkap..."
"Maa.. apa yang di katakan mama itu memang benar tapi itu dulu maa, sekarang mas Zhio udah berubah dia sekarang tidak seperti yang mama kira lalu apa mama tidak merasakannya kalau dia sudah mencintai aku"
"Andai saja Nay kalau kita di pertemukan sebelum kamu menikah pasti mama dan papa akan menyuruh kamu menikah dengan pria yang kamu pilih, dan mama sudah menduga mamanya lumpuh dan stroke itu adalah karena karma karena sering berprilaku buruk pada mu"
"Husst mama tidak perlu bicara seperti itu, harusnya mama doakan saja supaya mama Mala cepat sembuh. mama tunggu di sini dulu yah aku mau cari kak Mario"
"Kalau gitu mama ikut,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagaimana rasanya ketika orang yang sangat kamu cintai ternyata adalah adik kandung kamu sendiri yang selama ini tidak kamu ketahui, namun begitulah kenyataan pahit yang Mario terima saat ini.
Mario duduk menyendiri di halaman rumah sakit yang nampak sepi tanpa begitu banyak keramaian di sekitarnya bahkan sudah hampir satu jam ia menghabiskan waktu di sini.
Harusnya Mario merasa bahagia karena adik kandungnya sudah di temukan namun sayang semua kenyataan tak sejalan dengan hatinya terlebih ia bahkan tak menyangkah jika adik kandungnya yang hilang selama ini adalah Ify.
"Tidak seruh kalau menyendiri hanya sendiri saja kak, jadi bolehkah aku menemani kakak di sini"
__ADS_1
Air mata Ify terlihat berkaca yang menandakan ia akan menangis saat ini juga,bahkan di tanganya sudah ada selembar foto dengan dua anak kecil yang sedang naik sepeda dengan bocah laki-laki kecil yang sedang mendorong sepeda adik perempuanya.
"Melihat foto kita di waktu kecil ini aku jadi ingin kakak mendorong aku saat naik sepeda yah bisa jadi seperti waktu kakak bonceng aku pakai motor."
Mario pun menoleh pada sesosok wanita cantik yang berdiri di sampingnya tanpa terasa pula air mata menetes satu persatu membasahi wajahnya.
"Duduk lah di sini nanti akan kakak kabulkan apa saja keinginan mu"
Ify tidak bisa menahanya lagi, ia bahkan membiarkan air matanya terjatuh begitu saja, ia pun ikut duduk di kursi taman samping Mario.
"Hiks hiks hiks kenapa baru sekarang hiks kenapa baru sekarang Tuhan mempertemukan kita sebagai adik dan kakak yang telah lama berpisah.."
Ify memeluk tubuh Mario ia juga menjatuhkan tangisan nya di punggung Mario.
"Aku begitu bahagia ketika mengetahui kamu sebagai kakak kandung ku, bahkan aku tak menyangkah jika orang sebaik kakak adalah kakak aku hiks hiks hiks aku bahagia kak, aku bahagia bisa ketemu kakak"
Mario membalas pelukan yang Ify berikan padanya lalu menjatuhkan tangisanya juga di pelukan Ify.
'Sebenarnya aku belum bisa menerima takdir jika kamu adalah adik kandung ku fy, dan yang ada di pikiran ku sekarang mengapa tidak orang lain saja yang di perankan sebagai adik kandung ku dan bukan kamuu'
...****************...
Aliya begitu panik sampai-sampai ia membasuh tangannya setelah membakar botol minyak yang telah ia tumpahkan ke atas tangga. dan dengan begitu semua bukti tentang kejahatan nya tidak akan ketahuan.
__ADS_1
''Yang harus di persalah kan itu harusnya wanita tua itu sendiri, salah sendiri dia berjalan ketangga begitu saja tanpa harus mendengar kan apa yang aku ucapkan"