
"Tante Maya, saya berjanji akan memberikan uang yang banyak asal jangan ambil perusahaan saya...
" Apa kamu pikir saya ini bodoh. bahkan lebih besar aset perusahaan mu di bandingkan uang yang akan kamu berikan! cepat kamu tanda tanganin ini atau apa dalam hitungan 15 detik mama mu yang tak berguna ini akan saya jatuh kan"
Zhio hanya menggeleng lemah dan menjatuhkan air mata saat kedua anak buah tante Maya menyiapkan ancang-ancang untuk mendorong mama.
"1 2 3 4..5..." Tante Maya mulai menghitung dari awal
"Zhio sayang waktu nya tinggal 10 detik lagi ayo tandatangani kalau kamu ingin semua nya baik-baik saja." Sahut Aliya.
Bahkan Zhio hanya diam seribu bahasa, sedangkan tante Maya sudah selesai menghitung di angka terakhir.
"12.. 13...14...lima..bel..
"Cukup....!!!cukup...!!baiklah saya mau menandatangani berkas itu....!!"
"Hooh akhirnya kamu juga,"
"Kalau begitu lepaskan mama dulu"
"Oke, yasudah kalian berdua lepaskan wanita itu" Perintah tante Maya kepada kedua anak buah nya dan mereka pun menurut.
"Ini cepat tanda tangani!" Tante Maya meletakan berkas perusahaan Zhio di atas meja.
"Bagaimana saya bisa menandatangani ini kalau pada saat ini kedua tangan saya di pegang"
Sontak kedua anak buah tante Maya melepaskan tangan Zhio ketika di beri kode oleh Aliya.
Setidaknya Zhio merasa legah karena kedua tangannya tak ada beban lagi, hingga tibalah saat nya ia harus merelakan perusahaan nya jatuh kepada tante Maya.
Namun di suatu sisi Aliya terlihat begitu bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Zhio.
"Ayo cepat tanda tangani ini!"
Tangan Zhio gemetar saat menempelkan ujung pena di atas marai, sungguh ia tak mampu melakukan ini.
"Jangan memperlambat waktu Zhio!" Ancam tante Maya dengan menodong kan pisau di leher nyonya besar.
__ADS_1
Zhio gemetar dan ketakutan dengan berat hati ia pun setuju untuk menandatangani berkas ini, namun baru saja ingin menandatangani sebuah tembakan nyaris terdengar kuat di atas udara.
"Kalian telah di kepung! harap jangan bergerak!"
Zhio merasa begitu legah karena karena teamnya bersama polisi juga berada di tempat ini menyusulnya.
"Sialan kamu Zhio! saya meminta kamu untuk datang kesini sendirian lalu mengapa kamu membawa polisi"
"Mama... bagaimana ini ma, kita harus apa kita sudah di kepung dan mereka semua menodongkan senjata api" Aliya begitu takut hingga ia memperkuat rangkulan tangannya di lengan sang mama.
Mario beserta yang lainya segera menghampiri Zhio lalu membantu pria itu berdiri, terlebih berkas perusahaan itu telah berpindah tangan di tangan Martin.
"Zhi, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Mario.
Keempat anak buah tante Maya kaku dan terdiam mereka segera mengangkat kedua tangan ke udara karena takut dengan polisi.
"Kalian semua Jangan macam-macam lihatlah saya akan benar-benar menjatuhkan wanita ini..
"Mama...!!"Teriak Zhio histeris saat melihat mama sudah di dorong kebawah. dan di saat semuanya panik tante Maya segera menarik tangan Aliya untuk pergi.
Dan beruntung nya nyonya besar tidak benar-benar terjatuh ia baik baik saja karena kedua tangannya berpegangan erat disisi balkon.
...----------------...
"Mah.cukup mah... aku lelah aku capek ingin istirahat" Aliya mengeluh kesakitan seraya memegang dadanya.
"Tidak Al, kita harus berlari, apa kamu mau mereka menangkap kita!"
"Tapi aku capek ma, dada ku sangat sakit"
"Yah kamu harus tahan dong Al, jangan manja. ingat mama tidak ingin masuk penjara lagi hanya gara-gara kamu lelet!"
Dengan paksaan tante Maya terus menarik tangan Aliya, meskipun Aliya menginginkan untuk berhenti. namun siapa sangka karena paksakan ini Aliya terjatuh pingsan dan tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir deras dari hidung serta telinga.
"T-tidak k-kamu kenapa Al, Al bangun...hiks hiks hiks Al mama mohon bangunlah Al...
Darrr.....
__ADS_1
"Berhenti di sana!" Sahut salah satu polisi itu saat telah melihat target berada di dekatnya.
'Maafkan mama Al, mama terpaksa meninggalkan mu'
Tante Maya pun bangkit lagi dan hendak berlari menghindari kejaran polisi namun siapa sangkah tante Maya tak bisa menghindari lagi karena polisi sudah menembakkan 3 peluru di bahu, di kaki serta lengannya.
"Arrrggghhh..." Ringis tante Maya dan setelah itu ia juga ambruk dan tidak sadarkan diri.
...****************...
Kisah tangis yang berbeda di rasakan oleh Ify saat baru saja ia beserta keluarganya menyelesaikan pemakaman terakhir tante Maya dan Aliya. Di sana mama Dewi selalu sibuk dan tak pernah berhenti mengelus kepala Ify untuk menenangkan dirinya.
Ajal memang tidak ada yang atau bahkan Tante Maya meninggal karena tembakan polisi yang berada di beberapa bagian tubuh nya, serta Aliya ia meninggal karena sakit kanker dengan jenis yang sama dengan Eliza waktu itu.
"Pemakaman telah selesai, ayo mah ayo sayang kita pulang" Ajak Zhio.
"Aku masih tidak menyangkah dengan kepergian Aliya mas,"
"Eliza dan Aliya mereka itu kembar jadi wajar saja penyakit mereka menurun satu sama lain, kamu jangan sedih lagi yah Nay"
"Hooh saya sih bersyukur karena Aliya wanita jahat ini telah mati juga,lihat lah Aliya di atas sana pasti suami saya akan memarahi mu!"
"Bi Lasmi! apa bibik tau kematian setelah tiada! lalu apa bibik tau tentang kehidupan di atas sana!"
"T-tidak tau Den Rio, maaf yah"
"Lasmi jaga bicara mu!" Sahut tuan Morgan juga.
"Maaf kan atas kesalahan saya tuan Morgan"
"Ma, meskipun tante Maya telah jahat, akan tetapi aku masih tidak bisa melupakan sebagian dari kebaikannya pada waktu aku bersama Eliza"
"Fy, kamu tau kan waktu itu tante Maya hanya berpura-pura baik saja pada mu"
"Iya aku tau itu, mas" Ify tertunduk dan menitihkan air mata lagi.
"Hapus air mata kamu Nay, kita pulang sekarang yah. kamu juga perlu istirahat"Ucap Mama Dewi.
__ADS_1
...****************...