Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 100


__ADS_3

Rey lalu menarik tubuh Delia ke dalam pelukannya,lalu mencium kening sang istri.Saat ini hatinya benar-benar bahagia Karna sekarang Delia kembali padanya, seharusnya ia berterima kasih kepada Boy Karna ulahnya lah ia dan Delia bisa kembali merasakan hubungan suami istri yang sebenarnya.Ia sudah begitu lama memendam hasrat kelelakiannya akibat di tinggal pergi oleh Delia,dan kali ini ia tidak akan melepaskan dirinya lagi.


"Sudah Rey,aku lelah sungguh." Ucap Delia saat Rey mulai kembali meraba-raba tubuhnya,tapi Rey tidak mempedulikan ucapan Delia,ia masih saja melakukan nya sambil meremas dada Delia yang kini sudah menjadi tempat favoritnya.


"Ach... hentikan."Delia yang tak bisa lagi menahan terpaksa harus mengeluarkan suara keramatnya mulutnya menolak tapi tubuhnya pasrah menerima sentuhan Rey padanya,Rey hanya tersenyum kecil melihat tingkah Delia yang kini sudah terbuai dengan sentuhan-sentuhan tangannya dan terjadilah,apa yang seharusnya terjadi,mereka bahkan baru selesai ketika hari sudah menjelang siang itu pun saat perut Delia mulai berbunyi Karna cacing dalam perutnya sudah berdemo meminta jatah ,Rey yang masih belum puas terpaksa menghentikan aktivitas menyenangkan nya.Ia kemudian menggendong Delia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa percintaan mereka.


Rey meletakkan tubuh Delia di dalam bathtub kemudian ia pun menyusul masuk kedalam,tak ada kegiatan lain yang mereka lakukan kali ini, mereka benar-benar hanya mandi saja,walau sebenarnya Rey kembali on saat melihat tubuh Delia,tapi ia menahan hasratnya,Karna Delia nampak begitu kelelahan setelah melayaninya sepanjang malam dan di tambah beberapa menit yang lalu.Rey tersenyum sendiri saat mengingat kejadian semalam di mana Delia benar- benar begit liar ,hingga ia kewalahan sendiri.Mereka benar-benar menuntaskan rindu yang mendalam.


Setelah menghabiskan waktu di kamar mandi Delia dan Rey kembali ke kamar dan memakai pakaian yang sudah ada di atas tempat tidur Karna baru saja sekertaris Rey mengantarkan pakaian untuk mereka.


"Apa ini?" Tanya Delia saat melihat dua paper bag yang berada di atas tempat tidur.


Rey kemudian menghampiri sang istri lalu memeluknya dari belakang.


"Pakaian kita." Jawab Rey sambil menempelkan wajahnya di ceruk leher Delia.


"Oh...siapa yang membawanya."


"Sekertaris ku,pakailah,tapi aku lebih senang melihat mu tanpa menggunakan itu." Goda Rey dan berhasil membuat wajah Delia berubah jadi merah seketika.


Cup....sebuah ciuman mendarat di pipi Delia.


Ganti pakaianmu,lalu kita keluar makan,atau kamu ingin makan disini saja."


"Tidak,kita makan di luar saja." Tolak Delia cepat,saat melihat tingkah Rey yang tak biasa .


"Ya sudah,bersiaplah."


Delia kemudian mengangguk lalu mengambil salah satu paperbag yang ada.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rey saat melihat Delia membawa paperbag itu menuju kamar mandi.


"Ganti pakaian." Ucap Delia sambil menunjukkan paperbag yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Ganti di sini saja."


"Hach..."


"Kenapa,kamu malu,aku bahkan sudah menghafal semua bagian tubuh mu." Ucap Rey dengan senyum jahil.


"CK...." Delia memandang kesal ke arah suaminya yang tak tahu malunya melepas handuknya dan hanya menyisakan tubuhnya tanpa sehelai benang pun sambil memakai pakaiannya ,Delia bergedik sendiri melihat tubuh tanpa sensor yang ada di depan matanya,walau terlihat gugup dan canggung Delia berusaha terlihat biasa saja.


"Kamu ingin lagi?" Goda Rey sambil menaik turunkan alisnya.


"Menyebalkan." Runtuk Delia lalu berlalu meninggalkan Rey yang tersenyum puas Karna berhasil menggoda sang istri.


Setelah berganti pakaian,mereka pun akhirnya kini berada di restoran yang masih berada di dalam hotel.


"Mulai hari ini berhenti bekerja di klinik itu." Perintah Rey saat mereka sudah berada di meja menyantap sarapan sekaligus makan siang Karna sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Iya ." Ucap Delia pelan,ia juga sudah memutuskan untuk berhenti bekerja dengan pria yang hampir saja menodai nya.


"Baguslah....mulai hari ini kalian pindah ke apartemen ku,setelah makan kita akan ke rumahmu untuk berkemas."


"Tapi ,boleh aku bertanya?" Tanya Delia.


"Tanyakan saja."


"Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada di hotel,maksudku di kamar itu."


Rey menghela nafas berat lalu pikirannya menerawang jauh kebelakang.


Flashback on


Saat baru saja akan naik ke jet pribadinya , seseorang yang menjemput nya tadi tiba-tiba menghentikan langkah Rey.


"Maaf tuan,ada telfon dari tuan Dion." Ucap sopir itu sambil memberikan ponselnya pada Rey.

__ADS_1


"Nona Delia sedang dalam bahaya sekarang bos,Boy telah membawa nya ke dalam hotel dengan keadaan yang tidak sadar ." Lapor Dion yang berada di seberang telfon.Mendengar laporan dari Dion ,Rey yang tadinya sudah berada di tangga jet pribadinya ,langsung memutar tubuhnya kembali turun ,beberapa orang yang ada di situ menatap heran ke arah Rey tapi Rey tak peduli itu, pikirannya sekarang hanya tertuju pada Delia.


"antarkan aku ke hotel X ." Perintah Rey pada sang sopir dan dengan sigap sang sopir pun membuka pintu mobil untuk Rey lalu ia pun masuk ke dalam mobil.


Sementara itu Ramon dan Revan yang tanpa sengaja melihat Boy membawa Delia masuk ke hotel,masih saja terus mengawasi dari kejauhan ,Revan yang melihat kakaknya dalam bahaya tak tahan lagi,namun langkahnya untuk menyusul Boy di tahan oleh Ramon.


Saat itu ban mobil yang di gunakan oleh Ramon dan Revan tiba-tiba kempes tepat di depan hotel yang tak jauh dari restoran tempat mereka makan tadi.Keduanya pun turun dan memeriksa ban mobil yang mereka gunakan,saat menunggu Revan mengganti ban mobil,Ramon yang tengah berdiri di depan mobilnya melihat Boy sedang keluar dari mobilnya yang ada di dalam halaman parkiran hotel, awalnya Ramon tak peduli sampai pada akhirnya ia melihat Boy menggendong seorang wanita yang begitu ia kenal,Ramon mengucek-ngucek matanya untuk memperjelas apa yang di lihatnya tapi wanita itu tetap sama,ya dialah Delia,dengan cepat Ramon mengambil ponselnya,ia kemudian melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Rey sejak tadi.Tanpa berfikir panjang Ramon lansung menghubungi nomor Rey tapi berkali-kali ia mencoba menghubungi nomornya jawabannya tetap sama tidak aktif.


Ramon yang tak ingin kehilangan jejak Boy, terpaksa masuk ke dalam hotel mengikuti Boy,sambil terus menekan nomor Rey.Ramon meninggalkan Revan yang tengah mengganti ban mobilnya,saat berada di dalam hotel Ramon melihat dan mendengar Boy sedang mengambil kunci kamar yang telah di pesannya,untung saja ia dapat mendengar nomor kamarnya .


Karna tak kunjung aktif, akhirnya Ramon menghubungi Dion yang berada di Indonesia untuk memberitahu kepada Rey serta meminta nya untuk segera menghubungi Rey saat dirinya mendengar dari Dion jika saat ini Rey berada di bandara untuk terbang ke Indonesia.Setelah mendapatkan informasi dari Ramon Dion pun menghubungi sang sopir yang mengantarkan Rey ke bandara dan untung saja jet pribadi Rey belum terbang,jika terlambat sedikit saja Rey pasti sudah berada di atas udara,dan jika sesuatu terjadi pada Delia maka Dion dalam bahaya.Untung saja ia bisa berbicara dengan Rey.Setelah berbicara dengan Rey,Dion pun menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk menyusul Rey di hotel .Sedangkan Revan yang sudah selesai mengganti ban mobil,terkejut Karna tak mendapati Ramon,matanya menyapu bersih daerah sekitarnya dan tanpa sengaja melihat Rey tengah berdiri di depan halaman hotel sambil melambaikan tangan nya memanggil Revan.Revan pun berjalan menghampiri Ramon.


Saat sudah berada di dalam hotel ,mata Revan langsung tertuju pada sosok pria yang begitu di kenalnya sambil menggendong wanita yang begitu dekat dengan nya tengah berdiri di depan lift.Revan begitu panik membayangkan kakaknya dalsm bahaya.


"Tenang saja ,Rey sudah dalam perjalanan,aku tadi sudah menelfon asistennya." Ucap Ramon menenangkan.


Revan pun hanya bisa menurut saja.


"Pak dokter boleh aku ke toilet sebentar? Soalnya kalau aku dalam keadaan panik pasti ingin buang air." Ujar Revan dengan senyum malu-malu dan tak enak hati,Ramon melongo tak percaya,bahkan di situasi seperti ini bisa-bisanya Revan ingin buang air.


"Ya sudah sana,jangan sampai kamu buang air di sini."


"Baiklah pak dokter,aku titip kak Delia." Ujar Revan sambil berlari kecil menuju toilet.


Tak berselang lama Rey tiba di hotel yang alamatnya telah di berikan Dion tadi.


"Rey..." Panggil Ramon saat ia melihat Rey sedang berjalan masuk ke hotel.


"Dimana pria brengsek itu?" Tanya Rey dengan wajah yang sudah tak bersahabat lagi.


"Di nomor 305."


Rey lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Ramon dan sopirnya begitu saja.Ramon tak menyusul nya Karna sedang menunggu Revan yang masih di toilet.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit,Revan masih tak menampakkan batang hidungnya,tak ingin membiarkan Rey menghadapi Boy sendirian Ramon pun memutuskan menyusul Rey masuk ke kamar yang telah dipesan oleh Boy.


Flashback off


__ADS_2