Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 169


__ADS_3

Malam semakin larut Vio dan Tiara masih berada di teras sambil mengobrol,mereka begitu tenggelam dalam obrolan hingga tak menyadari malam sudah begitu larut.


"Ayo masuk ,Vi...udara semakin dingin dan juga sudah sangat larut." Ajak Tiara sembari berdiri dari duduknya dan sedikit menarik tangan Vio agar ikut berdiri karena sepertinya Vio masih enggan untuk beranjak.


"Aku tidur dengan mu ya malam ini." Ucap Vio saat mereka akan melangkah masuk ke dalam rumah.


Tiara menoleh dan menatap wajah Vio yang dengan raut memohon.


Tiara menghela nafas, lalu memutar tubuh Vio menghadap nya,ia kemudian menatap Vio dengan serius.


"Mau sampai kapan kamu menghindar nya,mungkin dulu kamu bisa menghindarinya , bahkan kamu bisa pergi meninggalkan nya dan menjauh sejauh-jauhnya, tapi sekarang kamu harus menghadapi nya. Masalah itu harus di hadapi agar cepat terselesaikan,jangan menghindari nya karna akan semakin membuat mu semaki. berada dalam kesulitan. Aku tahu semua ini tidak mudah,tapi sekarang kamu tidak sendiri,ada seseorang yang sudah terikat begitu erat dengan mu. Hadapi dia , hadapi semua masalahmu dengan penuh keberanian dan keyakinan,jangan sampai sikapmu yang seperti ini justru akan menjadi Boomerang untuk dirimu sendiri. Ingat Vi, badai besar sedang menantimu di di Jakarta,jasa hadapi mereka Vi,jangan lagi isinkan siapapun menginjak harga dirimu." Ujar Tiara lembut namun penuh penekanan. Vio hanya terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang sahabat,ia begitu tertegung .


"Aku akan menghadapi nya,kamu benar mau sampai kapan aku menghindari semua ini,makasih sudah membuka fikiranku ,kamu memang sahabat terbaikku." Ucap Vio lalu memeluk Tiara dan Tiara pun menerima pelukan sang sahabat dengan penuh rasa bahagia.Mereka pun saling berpelukan sembari saling memberi kekuatan.


"Semangat." Ucap ke duanya bersamaan setelah melepaskan pelukan mereka dan mereka pun berjalan menuju kamar masing-masing.


Vio menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu kamarnya, hatinya bergetara.Vio masih berada di depan pintu kamarnya dengan perasaan bimbang,mau masuk tapi ada Ramon di dalam dan kalau tidak masuk dia akan tidur dimana sementara teman-temannya yang lain sudah tidur di kamar masing-masing.


Ceklek...Vio terperanjat kaget ketika pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang baru saja sah menjadi suaminya.


"Apa kamu akan berdiri semalam di situ?"Ucap Ramon sambil memandang Vio yang masih berdiri di luar pintu. Tanpaenjawab perkataan Ramon ,Vio masuk ke dalam kamar dan melewati Ramon yang berdiri di dekat pintu,setelah memastikan Vio berada di dalam kamar Ramon lalu menutup pintu dan menguncinya.


Vio mengambil selimut dan bantal lalu menggelarnya di lantai,tanpa berbicara ia langsung berbaring di atas selimut yang sudah di hamparkan di lantai dan aksi nya itu tak lepas dari tatapan Ramon yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya.


"Aku akan pulang ke Jakarta besok,Minggu depan aku akan kemari lagi untuk menjemput mu." Ujar Ramon sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Aku bisa pulang sendiri bersama teman-teman yang lain." Ucap Vio dingin.


Ramon menghela nafas panjang,Vio benar-benar seperti orang asing di matanya kini. Ramon yang merasa sudah tak bisa diam lagi melihat sikap Vio yang dingin padanya, ia lalu duduk di lantai dimana1 Vio sedang terbaring miring ke kiri,Ramon duduk tepat di samping kanan Vio.


"Dengar Vi, aku adalah suami mu kalau kamu lupa,kamu terima atau tidak aku adalah suami mu." Ucap Ramon penuh penekanan.


Mendengar ucapan Ramon, Vio lalu bangun dari tidur nya dan duduknya di hadapan Ramon,sejenak mereka saling menatap.

__ADS_1


"Aku tidak lupa,tapi pernikahan ini aku tidak menerimanya,setelah di Jakarta kita akan mengurus perceraian." Ucap Vio dengan raut wajah yang kesal,seolah menahan amarah.


"Aku tidak akan menceraikan mu Vi,ingat itu...aku tidak akan pernah melespakan mu lagi."


Deg.....


Jantung Vio berdetak begitu cepat saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ramon,dan entah mengapa hatinya menghangat saat Ramon memgataka1 hal itu.


"Aku tahu ini akan sulit Vi,tapi percayalah meskipun pernikahan ini di lakukan karena paksaan dari warga tapi pernikahan ini sah dan tidak akan aku biarkan pernikahan kita hancur,seperti hancurnya persahabatan kita.Kamu dan aku tahu bagaimana perasaan kita ,meski pun tak pernah terucap tapi kita bisa saling merasakan seperti apa perasaan kita , aku tahu , aku pernah melakukan kesalahan dengan memilih wanita lain menjadi tunangan ku,tapi semua itu ada penyebabnya. Vi percayalah beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini,aku akan menyelesaikan semuanya." Lanjut Ramon lagi,ia hanya ingin Vio mempercayai nya dan memberikan kesempatan padanya untuk menyelesaikan semua permasalahan dalam keluarga dan tunangannya,ia sudah mengambil keputusan dan siap kehilangan segalanya jika keluarga nya menentang keputusan nya, kali ini ia tak ingin mengalah lagi.


"Apa kamu tidak berfikir jika pernikahan ini akan melukai banyak orang, aku tidak hidupku terusik dengan segala drama yang akan bermunculan nantinya,dan juga mau kamu kemana kan Sophia,bukankah dia adalah tunangan mu yang sah,wanita yang kamu pilih atas kemauan mu sendiri,dengar Jangan merasa dengan pernikahan ini,aku sudah memikirkannya baik-baik dan keputusan ku adalah mengakhirinya." Ucap Vio yakin.


Ramon menatap tajam ke arah Vio , sebuah tatapan kekesalan dan kekecewaan,ia tak mengira Vio akan berfikir untuk mengakhiri pernikahan mereka yang baru saja terjadi tadi pagi.


"Lakukan sesuka mu,tapi jangan pernah berfikir untuk bisa lepas dari ku,aku tidak akan melakukan hal bodoh itu.Lakukan saja tapi kamu tidak akan pernah bisa mengakhiri pernikahan ini,sebesar apa pun usaha mu."


"Oh ya,kalau begitu mari kita buktikan." Tantang Vio .


"Baiklah jika itu kemauan mu." Ramon membaringkan tubuhnya di samping Vio dan hal itu membuat Vio terperanjat kaget.


"Tidurlah di tempat mu." Ujar Vio saat Ramon memejamkan matanya.


"Aku tidur di sini saja,tidak ada yang salahkan aku suami mu dan aku berhak tidur di sampingmu,bahkan aku berhak melakukan lebih dari ini." Ujar Ramon sambil menatap Vio dengan alis naik turun menggoda Vio.


"Jangan harap." Vio lalu beranjak dari tempatnya dan menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan perasaan jengkel dan kesal.


Ramon tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu,ia memang sengaja tidur di sampingmu Vio agar Vio tidak tidur di lantai dan hal itu berhasil ia lakukan Vio pindah ke tempat tidur. Ramon tidak akan membiarkan wanitanya tidur di lantai yang dingin itu,.


"Aku tidak akan membuatmu menyesali karena dengan Vi. Kini kamu adalah tanggung jawabku sepenuhnya." Bathin Rano sembari memejamkan matanya.


Tring....tring....suara dering ponsel membuat tidur Vio terganggu,ia lalu membuka matanya secara perlahan.


"Siapa yang menelfon sepagi ini dih?" Omel Vio sambut mencari ponselnya.

__ADS_1


"Bukan." Gumam Vio saat menemukan ponselnya yang ternyata deringan ponsel itu bukan berasal dari ponselnya.


Vio lalu mencari-cari sumber suara deringan ponsel itu,Vio terperanjat kaget ketika ia menemukan Ramon tertidur di lantai dan ternyatapi


suara deringan itu berasal dari ponsel Ramon.


Vio bimbang antara membangunkan Ramon atau tidak,tapi ponsel sedari tadi berbunyi terus.


"Ramon...Mon....bangun ponselmu berdering mungkin ada yang menelfon." Ujar Vio sambil membangunkan Ramon dengan menggoyang-goyangkan bahunya


"Aaaahhhkkkk...." Teriak Vio saat tubuhnya justru di tarik oleh Ramon dan tubuhnya tepat jatuh di atas tubuh Ramon.


"Selamat pagi sayang." Sapa Ramon sambil memeluk tubuh Vio yang berada di atas tubuhnya,ia juga mencium dahi Vio dengan penuh kasih sayang kesempatan itu di lakukan karena wajah Vio tepat berada di di atas wajah Ramon.


Lepas..." Ucap Vio sambil berusaha melepaskan tangan Ramon yang melingkar di tubuhnya.


"Kiss pagi dulu." Goda Ramon sambil menunjuk bibirnya.


"" jangan harap kamu,lepas tidak."


"Tidak akan aku lepas sebelum kamu memberikan ini." Tunjuk Ramon lagi ke arah bibirnya dan semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat tubuh Vio begitu sesak.


"Cium atau kita akan seperti ini terus."


Cup.... Tak ingin berdebat panjang membuat Vio dengan secepat kilat mencium bibir Ramon meski dengan rasa kesal karna Ramon telah mengambil kesempatan darinya.


Mendapat ciuman kilat dari sang istri membuat Ramon tersenyum lebar dan membalas kecupan Vio , Ramon memegang tengkuk Vio agar tidak lepas dan semakin memperdalam pangutannya hingga membuat Vio sesak yang akhirnya membuat Ramon melepaskan pelukannya dari tubuh Vio dan langsung diambil kesempatan oleh Vio untuk lepas dan berdiri dari atas tubuh Ramon.


"Makasih." Ucap Ramon tersenyum bahagia karena mendapat kan asupan pagi dari istrinya sedangkan Vio membuang muka dengan menahan rasa kesal.


Perhatian Ramon lalu beralih ke ponsel nya saat ponselnya kembali berdering, ia lalu mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di id pemanggil yang muncul di layar ponselnya. Sebuah nama yang membuat moodnya yang tadinya begitu bahagia berubah jadi dingin.


"Kenap

__ADS_1


__ADS_2