Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 134


__ADS_3

," Aku yakin Ramon yang memberitahu keberadaan kita pada Rey,tidak mungkin kan anak itu tiba-tiba berada di negara ini." Ujar ayah Rey saat mereka telah berada di rumah.


"Apa salahnya jika Rey mengetahui nya,dia juga berhak atas Rosa Pa,apa lagi Rosa sangat membutuhkannya saat ini."


"Tidak ada yang membutuhkan dirinya di keluarga ini." Ucap ayah Rey lalu berlalu meninggalkan istrinya,namun baru saja akan menaiki tangga ponsel ayah Rey berdering.


"Hallo." Ucap ayah Rey melalui sambungan telfon yang ternyata dari rumah sakit.


"Baiklah saya akan kesana sekarang." Lanjutnya lagi,wajah ayah Rey terlihat begitu cemas. Ia kemudian memutar tubuhnya menuju ruang tamu dan menemui istrinya yang masih berada di sana.


"Kita kerumah sakit sekarang ." Ajak ayah Rey saat pada istrinya yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Rosa baik-baik saja?" Tanya ibu Rey cemas,melihat dari raut wajah sang suami ia bisa menebak jika sang cucu saat ini tidak baik -baik saja.ia kemudian berdiri dari duduknya dan menyusul keluar dimana ayah Rey sudah keluar lebih dulu menuju mobilnya.


"Entahlah,tapi kita di panggil untuk segera ke rumah sakit." Jelas ayah Rey saat mereka telah berada di dalam mobil.


Wajah ibu Rey berubah sendu mengingat kondisi Rosa yang kian hari kian menurun,mereka telah membawa Rosa berobat kemana-mana tapi hasilnya tetap tidak memuaskan.Rosa hanya sempat kembali sehat dan menjalani rutinitasnya saat mereka Bru tiba di negara ini,tapi kondisi itu hanya sesaat karna sekarang Rosa kembali terbaring lemah dan tak berdaya,bahkan kondisinya semakin memprihatinkan.


Mobil yang di kemudikan ayah Rey melaju membela padatnya jalan raya menuju rumah sakit tempat Rosa di rawat.


Tak butuh waktu yang lama keduanya pun tiba di rumah sakit,mereka berjalan cepat menuju kamar perawatan Rosa,namun saat membuka pintu keduanya di kejutkan oleh kehadiran orang yang tak pernah di harapkan oleh ayah Rey,namun keterkejutan itu kemudian berganti dengan senyum kecut karna bukan hanya Rey dan Delia saja yang ada di ruangan itu tapi juga ada Ramon dan Vio,seta beberapa perawat yang sedang berdiri di samping tempat tidur Rosa membereskan peralatan yang di gunakan oleh Ramon tadi.


"Oh....ternyata kalian sudah merencanakan semua ini? " Tanya ayah Rey pada ke empat orang yang berada di dalam ruangan itu.


"Maaf om,tapi Rey harus mengetahui keadaan Rosa juga apalagi hanya Rey yang bisa mendonorkan darahnya untuk Rosa." Ucap Ramon .

__ADS_1


"Saya tidak meminta saran darimu,tugasmu hanya menangani cucuku, jangan mencampuri urusan keluarga ku." Ayah Rey terlihat kesal pada Ramon karna mengira Ramonlaj yang membawa Rey ke negara ini.


"Maaf,tuan karna Rosa adalah pasienku,maka saya berkewajiban untuk melakukan apa pun untuk menyelamatkan nyawa pasien saya,termasuk membawa Rey dan mengambil darahnya ." Tekan Ramon pada ayah Rey .Kali ini ia benar-benar jengah melihat kekerasan hati ayah dari sahabatnya itu.


"Sudahlah Pa,kali ini hilangkan ke egoisanmu,fikirkan keselamatan Rosa,jika hanya Rey yang bisa membantu menyelamatkan Rosa kenapa harus menghalanginya, biarkan Rey melakukan nya." Ucap ibu Rey ,ia tidak akan diam lagi jika suaminya masih berulah.Kali ini ibu Rey membantah perkataan suaminya ia tak ingin cucu nya dalam bahaya lagi akibat ke egoisan suaminya..


"Kau...."


"Ramon,alakukan yang menurutmu baik,aku percaya putraku akan melakukan apapun untuk keponakan nya." Ucap ibu Rey cepat memotong pembicaraan suaminya,ia tak ingin lagi membiarkan suaminya itu mengambil keputusan yang salah dan kali ini dia yang akan mengambil keputusan untuk keluarganya.


"Ibu percaya padamu." Ucap ibu Rey lagi sambil menatap wajah Rey dengan penuh kelembutan.


"Akkn aku lakukan apapun untuk menyelamatkan Rosa Ma,apa pun itu." Ucap Rey sambil memegang kedua bahu sang ibu untuk memberikan keyakinan padanya.


Sedangkan ayah Rey hanya berdiri terdiam menyimak pembicaraan antara istri dan putranya sembari menahan amarah karna di acuhkan oleh keduanya.


Suara bantingan pintu kamar perawatan Rosa mengagetkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.Mereka saling berpandangan saat melihat ayah Rey keluar dari kamar itu dengan membanting pintu.


"Papa belum juga berubah,masih sama seperti dulu,aku kira setelah kepergian ku dari rumah papa akan berubah tapi aku salah ,harinya bahkan semakin keras seperti batu." Ujar Rey sambil menatap pintu yang yang tertutup.


"Mama,keluar sebentar untuk melihat papa mu,dia tidak marah percayalah,dia hanya sedang berperang dengan hatinya sendiri,dia sangat menyayangimu,walaupun hatinya masih sekeras batu tapi percayalah dia sangat menyayangimu."Ujar ibu Rey sambil menatap wajah Rey.


Rey hanya mengangguk sebagai jawaban,ia begitu malas membahas masalah yang sudah beberapa tahun tak juga kunjung selesai.


"Ya sudah,mama keluar sebentar,titip Rosa." Pamit ibu Rey sembari menepuk bahu sang putra kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Harusnya aku kan yang bersikap seperti papa,tapi kenapa justru papa yang bersikap dingin padaku,padahal jelas dia yang telah melakukan kejahatan pada orang tuaku." Gumam Rey ,ia tak habis pikir dengan pikiran pria yang di panggil papa olehnya itu.


"Sudahlah mas,papa sedang tidak marah,mungkin dia begitu malu dan merasa bersalah dengan apa yang di lakukan nya di masa lalu,mungkin papa hanya ingin menyembunyikan semua rasa bersalah itu dan kesedihan pada kita saja jadi dia bersikap seperti itu,seolah membenci padahal sangat menyayangi." Ujar Delia sembari menggenggam jemari Rey.


"Tapi ini sudah lima tahun berlalu,tapi papa mm asih saja seperti dulu."


Delia menghela nafas berat,masalah dalam keluarga suaminya ini betul-betul membuat nya bingung sendiri.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, sekarang kita fokus pada kesehatan Rosa dulu,ayo ikut aku ...x Ramon lalu menarik tangan Rey yang masih di genggam oleh Delia.


"Kamu ini,ku tidak lihat kami sedang romantisan sekarang." Kesal Rey saat tangan nya di tarik paksa oleh Ramon.


"Kalian pikir hanya kalian yang berada di ruangan ini,kalau mau romantisan liat tempat juga." Balas Ramon tak kalah kesalnya karna Rey dan Delia bermesraan di depannya dan Vio.


Setelah kepergian Rey dan Ramon,tinggallah Delia dan Vio di ruangan itu.


"Jelaskan pada kakak." Ujar Delia lalu berjalan menuju sofa .


Vio mengerutkan alisnya belum paham akan arah pembicaraan Delia.


"Jangan pura-pura kamu, katakan,kalian kan yang merencanakan semua ini?"


Vio yang mendengar ucapan Delia kini mulai paham,ia pun berjalan menuju sofa tempat Delia duduk.


"Hehe,maaf kak,kami memang merencanakannya,tapi kami belum melakukan apa pun tapi semuanya sudah terjadi." Jelas Vio,ia dan Ron memang merencanakan pertemuan ibu dan anak itu,tapi mereka masih mencari alasan yang tepat agar rencana mereka bisa terlaksana sesuai keinginan,namun di saat mereka masih berfikir mencari cara justru kejadian yang tak pernah di bayangkan nya lebih dulu terjadi.

__ADS_1


"Berhentilah,kalau mas Rey sampai tahu semua ini,dia akan sangat marah."


"Maaf kak,Vio hanya ingin kak Rey dan orang tuanya bersama seperti dulu lagi dan kakak bisa merasakan bagaimana rasanya punya mertua." Kekeh Vio di akhir kalimatnya yang kemudian mendapat lemparan bantal sofa yang mengenai kepalanya.


__ADS_2