
" Sudahlah , berbicara denganmu membuat darahku naik ." kesal Rey , dia tidak menyangka wanita yang berstatus dokter itu ternyata begitu polos .Walau terlihat kesal , tapi sebenarnya dia senang mengobrol dengan wanita di sebelahnya yang menurutnya unik dan langka ,ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini menyenangkan sekaligus mengesalkan .
"A....a..pa..?" panik Delia yang mendengar darah Rey naik , dia segera memegang pergelangan tangan Rey , kemudian memeriksa denyut nadinya dan memegang dahinya . Rey yang di perlakukan seperti itu sedikit terkejut namun , detik kemudian dia menahan tawa melihat kepanikan wanita yang ada di sebelahnya , yang sedang sibuk mencari sesuatu dalam tasnya setelah memeriksa Rey . Delia begitu sibuk membongkar tasnya .
" Nach...ini sudah ketemu ." seru Delia senang setelah menemukan sesuatu yang di carinya .
" Berhenti di depan sebentar ." perintah Delia . Rey menepikan mobilnya , dia penasaran akan sesuatu yang akan di lakukan Delia padanya .
" Berikan tanganmu." pinta Delia .
Rey mengulurkan tangannya pada Delia , namun sesaat kemudian Rey mengerutkan dahinya saat melihat Delia mengeluarkan alat kecil dan jarum serta kapas yang diolesi alkohol , Delia lalu mengusapkan kapas tersebut pada salah satu jari Rey lalu menusukkan jarum pada jarinya .
" kau....."
" ssstttt...diamlah ." potong Delia yang sedang serius menunggu hasil pemeriksaaannya .
Rey yang sedari tadi bingung akan kelakuan Delia kini tersadar , ia kini meyakini Delia telah salah mengartikan kalimatnya yang mengatakan naik darah . Rey menahan tawa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol wanita yang tengah fokus menunggu hasil pemeriksaan Rey .
" Semuanya normal saja ." ujar Delia bingung karna hasil cek darah Rey normal , lalu kenapa pria itu mengatakan darahnya naik . Delia melirik Rey , tatapannya seolah mengatakan kau mempermainkanku . Rey yang di tatap seperti itu terlihat santai dan rasanya tawanya ingin meledak jika saja pandangan wanita di sebelahnya tidak terlihat horor .
" Apa yang kamu lakukan tadi , untuk apa kamu mengambil darah ku ?" Tanya Rey pura - pura tidak tahu .
__ADS_1
" Tadi kamu mengatakan darahmu naik , jadi aku memeriksa nya ,takutnya kalau tekanan darahmu sangat tinggi itu bisa mengakibatkan pembuluh darah mu pecah yang berakibat struk ,jantung bahkan sampai pada kematian ." jelas Delia .
" Tapi semua normal saja ."
" pikiranmu kejauhan dokter pintar , kamu ini bukannya membuat pasienmu sembuh melainkan membuat pasien mu langsung menuju surga ." ledek Rey sambil menjitak lembut dahi wanita di sebelahnya .
" Dan yang mengatakan aku sakit itu siapa ?"
" Tadikan kamu sendiri yang mengatakannya , ya.. Allah kamu mengerjai saya ?"
" tidak.."
" Lalu ini apa , kamu membuang- buang waktuku dan jarumku , sekarang bayar ." kesal Delia menadahkan telapak tangannya di depan wajah Rey .
" Apa yang harus aku bayar ?"
" Tentu saja ini ." Delia menunjukkan alat cek darah yang di gunakannya tadi .
Rey menghela nafas dalam , baru kali ini dirinya di buat mati kutu oleh orang lain , terlebih itu adalah seorang wanita . Rey bahkan kehabisa kata - kata untuk sekedar mambalas perkataan wanita di sebelahnya yang sedari tadi masih menggerutu .
" Berapa ?"
__ADS_1
" 50 ribu ."
Rey mengeluarkan selembar uang berwarna merah kepada Delia , Delia menerima uang itu dengan senyuman sumringah .
" Aku tidak punya kembaliannya , berikan aku uang pas saja ."
Rey memijit hidungnya pelan , menghadapi gadis ini harus mempunyai stok sabar yang banyak .
" Ambil saja kembaliannya , anggap itu sedekah ."
Delia menoleh kesal pada Rey yang terlihat santai saja mengemudikan mobilnya .
" Saya bukan peminta - minta , ini aku kembalikan . anggap saja , aku sedang memeriksa orang tidak mampu ."
"Kau...."
" Sudahlah , hentikan mobilmu kita sudah sampai ."
Rey menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumah sakit tempat Delia bekerja .
Dia masih tercengang dan syok dengan kelakuan wanita ini . Bisa - bisanya dia mengatakan kalau dirinya kurang mampu . Baru saja ingin mengatakan sesuatu Rey kembali di kejutkan dengan hilangnya wanita itu di tempatnya .
__ADS_1
Rey tidak menyadari Delia keluar dari mobilnya , saat ingin berkata sesuatu pada Delia , namun wanita itu sudah melangkah jauh masuk ke rumah sakit, hanya terlihat punggungnya saja . Rey menggelengkan kepalanya lalu tersenyum mengingat tingkah Delia yang di luar ekspektasinya , jauh dari sikap dokter pada umumnya yang terlihat anggun, namun sifat Delia itu lah yang membuat Rey semakin tertarik , sikap yang apa adanya tanpa jaim .
" Dasar ...." Rey kembali melajukan mobilnya membelah keramaian jalan raya dan tentu saja dengan senyum yang masih merekah di wajah tampannya .