
Di Jakarta tepatnya di kantor Rey.Rey terlihat begitu melamun entah apa yang ada di benaknya,di mejanya berserakan beberapa lembar foto dan layar laptopnya sedang memutar sebuah video kejadian masa lalu kelam yang menimpanya bersama keluarganya,video itu menampilkan seorang laki-laki yang berusia masih mudah saat itu,dimana seseorang yang tidak terlihat wajahnya itu karna kamera tidak menangkap wajahnya ,hanya pria yang satunya.
"Ambil uangnya dan putuskan rem mobil ini." Perintah pria misterius itu,sementara laki-laki yang bernama Satria sekaligus adalah ayah kandung Delia mengambil amplop coklat yang tebal berisikan tumpukan uang sebagai bayaran untuk mencelakai seseorang yang tak lain Bramantyo Pratama sekaligus bos nya sendiri .
" Baik tuan ,semua akan berjalan sesuai rencana anda." Ucap ayah Delia saat itu sambil memegang amplop yang berisi uang lalu berlalu meninggalkan pria misterius itu.
Dan di video lainnya terlihat bagaimana ayah Delia memutuskan rem mobil yang terparkir di halaman parkir perusahaan tempatnya bekerja,mobil yang akan di kendarai oleh ayah kandung Rey nantinya setelah tiba di Indonesia.
Rey mengepalkan jarinya lalu menggebrak meja kerjanya dengan amarah yang tertahan,matanya kini penuh dengan kebencian dan dendam setelah mengetahui orang yang telah melenyapkan kedua orang tuanya,dan yang lebih menyakitkan dan membuat nya semakin kecewa orang itu adalah ayah dari istrinya,wanita yang telah mencuri hatinya dan menjadi bagian dari dirinya.hatinya berkacamuk di antara cinta dan dendam sakit hatinya karna di jadikan yatim piatu di usianya yang masih sangat kecil saat itu.
"Bos,ada kabar buruk mengenai nona,Deli...." Ucapan Dion menggantung saat masuk keruangan bosnya itu,ucapannya tak berlanjut saat melihat keadaan ruangan itu terlihat begitu berantakan,dan Rey yang terduduk dengan pandangan tajam kearahnya seolah ingin memakan Dion mentah-mentah ,Dion yang di lihat seperti itu menjadi takut sendiri,selama ikut bekerja bersama Rey ini kali pertamanya Dion melihat Rey bersikap demikian menakutkan.
"Jangan pernah menyebut nama wanita itu lagi." Ujar Rey dingin dan datar.
Dion memandang heran dan terkejut ke arah Rey,ia tak percaya dengan apa yang telah di ucapkan bos nya itu.
Tadinya Dion ingin menyampaikan kabar buruk mengenai Delia dan keluarganya saat ini,tapi keinginan itu di batalkan karna melihat kondisi Rey.
" Suruh semua anak buahmu untuk berhenti mengawasi wanita itu." Lanjut Rey ia tak ingin lagi menyebut nama Delia lagi,rasanya sangat menyakitkan jika namanya di sebut .
Dion diam terpaku mencerna ucapan Rey yang menurutnya aneh itu,tapi dia tidak cukup keberanian untuk sekedar mempertanyakan alasannya,Dion hanya mengangguk sembari berlalu meninggalkan Rey sendiri tanpa sepatah kata pun,Dion masih di selimuti berbagai pertanyaan yang membuatnya begitu penasaran.
Braaaaaakkkkkk
suara pintu kamar Mona di buka secara paksa oleh ayah dan ibunya semenjak Rey memutuskan pertunangannya dengan dirinya ,Mona seakan kehilangan tujuan hidupnya,ia tak pernah lagi keluar rumah walau sekedar berbelanja padahal Mona sangat hobby belanja.
Mona kini hanya di kamar mengurung dirinya,dan tak lagi begitu berminat untuk bersolek,semua nya seakan tak ada lagi artinya bagi Mona karna Rey tak sedkit pun meliriknya,bahkan usahanya untuk memisahkan nya dengan Delia selalu gagal yang akhirnya perlahan ia memyerah.
Ayah Mona berjalan ke arah Mona yang sedang bersandar di sandaran tempat tidurnya dengan tatapan kosong dan rambut acak-acakan.
"Semua sudah selesai,Rey akan kembali padamu sayang." Bujuk ayah Mona sambil mengelus rambut anaknya itu dengan penuh kasih sayang,sedangkan ibunya hanya memandang nya dengan penuh kesedihan.
Mendengar nama Rey di sebut Mona menatap ayahnya penuh selidik,mencari kebenaran akan perkataan ayahnya itu,ia lalu tersenyum.Senyum yang pertama kalinya ia perlihatkan pada kedua orangtuanya sejak kejadian itu,Mona lalu menghambur ke pelukan ayahnya,karna ayahnya telah membuat hidupnya kembali lagi.
" Bersiaplah,dan ini perbaiki penampilanmu ,malam nanti kita akan berkunjung ke rumah orang tua Rey."
__ADS_1
Mona mengangguk bahagia,seketika aura kehidupan kembali padanya,dengan bersemangat Mona berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya,semangat hidupnya kini telah kembali lagi setelah lama menghilang.
Orang tua Mona hanya menggeleng pelan dengan tersenyum melihat Mona kembali seperti dulu lagi hanya karna menyebut nama Rey saja.
...****************...
Di Surabaya,tepatnya di rumah sakit tempat ayah dan adiknya di rawat,Delia kini terduduk di bangku tunggu di depan kamar perawatan ayahnya ,sedangkan Vio masih berada di ruang ICU masih kritis belum ada perubahan setelah tiga hari sejak kejadian naas itu.
Revan berjalan ke arah Delia sambil menenteng dua bungkus makanan untuknya dan juga Delia.
"Makanlah kak.."Ujar Revan sambil memberikan bungkusan makanan yang di bawahnya tadi kepada Delia.
Untunglah,Delia masih bisa mengambil uangnya di rekeningnya setelah mengurusnya di bank,sementara kartu yang di berikan Rey ikut ludes terbakar bersama dompetnya.
"Bagaimana keadaan ayah,kak?" Tanya Revan sambil mengunyah makananyan disamping Delia,sudah agak baikan tapi baru saja kondisinya kembali menurun,dokter sedang memeriksanya.
Tak lama berselang dokter pun keluar,Delia dan Revan berdiri saat melihat dokter berdiri di pintu.
"Bagaimana ayah saya dok?" Tanya Delia khawatir.
"Keadaan pasien memburuk,luka bakarnya sulit mengering karna pasien ternyata menderita diabetes akut." Jelas dokter ,ia paham betul maksud dokter itu.
Delia terduduk lemas di kursi tunggu,sedangkan Revan keheranan dan kebingungan melihat Delia ,ia tidak begitu paham akan percakapan kakaknya itu dengan dokter tadi.
"Ada apa kak?" Tanya Revan saat dokter sudah pergi.
Delia menatap adiknya itu,ia tersenyum tipis menyembunyikan kesedihannya ,Delia tidak ingin Revan khawatir dengan keadaan ayah mereka.
"Tidak apa-apa,semua baik-baik saja."
"Tapi..."
"Sudahlah jangan berfikir tidak-tidak."Potong Delia .
"Masuklah ,jaga ayah,kakak mau bertemu dokter dulu."Lanjut Delia lagi sambil beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Revan sendirian.
__ADS_1
Revan menatap bahu kakaknya yang kian menjauh.
"Aku tidak begitu paham dengan penyakit ayah,tapi aku bisa paham bahwa semua tidak baik-baik saja." Lirih Revan pada dirinya sendiri lalu tersenyum kecut masuk ke ruangan ayahnya.
Delia masuk keruangan dokter yang merawat ayahnya,dia melihat dokter sedang duduk di kursinya dengan menatap kearahnya.
"Apa yang harus dilakukan ,dok?" Tanya Delia saat sudah duduk di kursi depan meja dokter itu.
"Operasi secepatnya,itu pun tidak bisa menjamin kesembuhannya,penyakitnya sudah begitu parah dan di tambah luka bakar yang hampir mengenai seluruh tubuhnya.Ini sangat sulit tapi kita akan mencoba yang terbaik."
"Lakukan apa pun ,yang penting ayah saya selamat,barapa pun biayanya akan saya bayar ,dok."
"Operasi akan segera di lakukan,segera lakukan prosedurnya,agar semuanya segera di tangani."
Delia mengangguk pelan,lalu berjalan ke luar dengan hati yang perih ,begitu banyak beban yang kini di pikulnya.
Kedatangannya yang semula untuk menghabiskan cuti dan berkumpul dengan keluarganya justru kini ia di hadapkan pada musibah yang tak terduga.
Delia berjalan kebagian administrasi,ia ingin melakukan prosedur untuk operasi ayahnya namun betapa terkejutnya ia dengan biaya yang harus di bayarkannya.
Delia tercengang melihat selembar kertas di tangannya,dengan tangan gemetar ia berfikir mencari solusi,uang di rekeningnya tidak cukup untuk membiayai operasi itu,sedangkan kartu pemberian Rey telah hangus terbakar .Ya Rey ,dia teringat suaminya itu,karna sejak kejadian itu Delia sama sekali tak memberi kabar begitupun dengan Rey,karna ponselnya pun ikut menjadi puing-puing.
"Saya akan segera kembali,saya ingin mengambil uangnya dulu."Ucap Delia pada bagian administrasi lalu menyerahkan kertas yang di pegangnya.
Delia berlari melewati lorong- lorong rumah sakit,ia di buru waktu...
"Revan...kamu jaga ayah dan Vio dulu,kakak akan ke Jakarta sekarang dan segera kembali." Ucap Delia dengan dada naik turun setelah berada di ruangan ayahnya.
Revan menatap Delia heran dan kebingungan.
"Ayah akan di operasi,uang kakak tidak cukup,kakak akan menemui kak Rey untuk membantu kita." Sambung Delia lagi menjawab kebingungan Revan.
Revan hanya mengangguk- anggukkan kepalanya,tak menyadari Delia sudah berlari meninggalkannya untuk menuju bandara.
"Tapi,kak..." Ucapan Revan menggantung saat menyadari kakaknya itu sudah tidak ada di dekatnya.
__ADS_1