
Delia tiba di Jakarta,setelah melewati perjalanan selama satu jam lebih,ia langsung menuju ke kantor Rey.
Tiga puluh menit Delia akhirnya tiba di kantor Rey,ia turun dari taksi dan menatap takjub gedung mewah bertingkat menjulang tinggi,di depan gedung itu bertuliskan PRATAMA GROUP,tiba-tiba ada rasa gugup dan tak percaya diri timbul di hatinya,Namun perasaan itu di tepisnya saat mengingat keadaan ayah dan adiknya Vio.
Delia berlari masuk ke gedung mewah itu,dengan perasaan campur aduk ,Delia memasuki lobi di sana dirinya melihat beberapa orang lalulalang mengerjakan pekerjaan mereka,dengan langkah sedikit terburu- buru Delia berjalan menuju recepsionis karna ini kali pertama dirinya menginjakkan kaki nya di gedung ini dan tentu saja tak ada orang yang mengenalinya.
" Apa pak Rey ada?" Tanya Delia pada seorang gadis yang sedang duduk di balik meja panjang dengan tatapan menatap ke arah layar komputer.
Wanita cantik itu menoleh ke arah Delia,lalu tersenyum ramah padanya.
" Apa mbak sudah ada janji?" Tanya balik wanita itu yang bernama Tiara , ia mengetahui namanya melalui papan nama yang tertempel di bagian dada sebelah kanan.
Delia menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan wanita yanf berada di depannya itu.
" Maaf mbak,tapi pak Rey tidak bisa di temui kalau belum ada janji."
Delia terdiam sejenak,ia memaklumi perkataan recepsionis itu,suaminya itu orang penting yang sibuk tentu saja untuk bertemu dengannya akan sulit.
Tapi Delia tak punya waktu untuk berdebat,waktunya semakin sedikit.
"Tolonglah mbak,ini sangat penting,saya harus bertemu dengan Rey.Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Ucap Delia memohon dengan mata berkaca-kaca,bagamana pun caranya Delia harus bertemu dengan Rey,hanya Rey tempat Delia menggantungkan harapan terakhirnya.
Recepsionis itu begitu iba melihat Delia,ia menatap Delia dari atas sampai ke bawah,terlihat Delia begitu berantakan rambut yang sedikit acak-acakan dan baju yang sedikit lusuh karna sudah dua hari tidak menggantinya meski begitu,aura kecantikan nya tetap terpancar,dan terlihat seperti orang yang berpendidikan tinggi,terlihat dari penampilan dan tutur katanya meski penampilannya terlihat berantakan tapi tak mengurangi wibawanya sebagai dokter.
Recepsionis itu manggut- manggut menelisik penampilan Delia.
"Atas nama siapa?" Tanya recepsionis itu.
"Delia..." Jawab Delia cepat ia merasa ada harapan untuknya bertemu dengan Rey.
__ADS_1
"Baiklah,tunggu sebentar." Recepsionis itu memencet tombol nomor pada telfon yang tersedia di meja,tak berapa lama ia berbicara dengan seseorang di balik telfon.
Recepsionis itu tersenyum kecil,menatap Delia.
"Anda beruntung nona,pak Rey bersedia menemui anda,biasanya pak Rey tidak ingin bertemu dengan orang lain sebelum membuat janji." Ucap recepsionis itu panjang lebar.
"Terimakasih." Delia segera berlari menuju lift sesaat dirinya mengucapkan terimakasih.
Delia pikir Rey mengisinkannya masuk karna Rey tahu dirinyalah yang ingin bertemu,karna sebelumnya recepsionis itu menanyakan namanya.
Padahal Rey tidak mengetahui siapa gerangan orang yang ingin bertemu dengannya karna sebelum sekertarinya menyebut nama orang yang ingin bertemu Rey langsung saja mematikan telfonnya secara sepihak setelah mengisinkan orang yang ingin bertemu untuk masuk keruangannya,hal itu di lakukannya hanya untuk terhindar dari Mona yang sedari pagi berada di ruangannya dan terus menempel padanya,Rey merasa risih dan menahan kesal tapi dia hanya diam saja tak ingin berdebat .
Dengan senyum yang merekah Delia berjalan keruangan Rey saat keluar dari lift,ada rasa rindu yang begitu besar melandanya,dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, Delia mendekat ke meja yang berada tepat di hadapan ruangan Rey yang ia yakini wanita yang sedang sibuk memandang ke layar komputer itu adalah sekertaris suaminya.
"Permisi.." Sapa Delia saat setelah berada di depan meja sekertaris Rey .
Silva menoleh kearah Delia denfan senyum ramah.
"Nona Delia." Ucap Silva,ia mengetahui nama Delia bukan karna mereka saling mengenal tapi saat recepsionis menelfonnya dan menyebut nama nya.
Delia mrngangguk membalas senyuman Silva.
"Silahkan masuk.." Silva mempersilahkan Delia masuk sambil menunjuk ke arah pintu ruangan Rey yang berdinding kaca berwarna hitam itu .
Delia kembali mengangguk lalu berjalan pelan menuju pintu dimana Rey berada.
Ceklek....
Pintu di buka oleh Delia dan langsung di kejutkan oleh pemandangan yang tengsh di lihatnya.
__ADS_1
Begitupun Rey yang melihat Delia betdiri di ambang pintu dengan syok,bagaimana tidak syok Delia melihat Mona tengah duduk di pangkuan Rey sambil melingkarkan tangannya pada leher Rey wajah mereka saling berhadapan,sepintas mereka terlihat sedang berciuman dan Delia yang melihat nya pun berfikir seperti itu.
Rey memandang Delia dengan sorot mata tajam,tak ada tatapan hangat dan lembut seperti dulu,dan Delia merasakan itu.Rey masih duduk di kursinya sementara Mona sudah berdiri dari tempatnya dan duduk di sofa tanpa merasa bersalah,dia malah tersenyum kecut melihat kedatangan Delia.
Tak ada sambutan hangat untuknya,bahkan Rey terlihat begitu cuek padanya,Delia tiba-tiba merasa canggung pria yang berada di depannya saat ini seakan seperti orang asing di matanya,Delia menahan tangis dan kecewanya,saat ini hanya satu tujuannya meminta bantuan pada suaminya itu.
"Mau ngapain kamu?" Ucap Rey dingin,Delia yang tadinya melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Rey tiba- tiba berhenti,hatinya bergemuruh melihat perubahan sikap Rey padanya.
Delia berjalan masuk dan berdiri tepat di depan meja Rey,dengan sedikit gugup dan takut-takut Delia menatap Rey,dan Rey dengan cepat membuang muka kesamping tak ingin menatap Delia walau hatinya begitu merindukan istrinya itu,tapi kebenciannya saat ini menutupi semua itu.
"Aku butuh bantuan mu." Ucap Delia pelan dan ragu.
"Ck..." Rey menatap tajam pada Delia,sebuah tatapan aneh yang sulit di artikan oleh Delia dan tatapan itu membuatnya seketika begitu takut.
"Hoooo,akhirnya...kamu menampakkan wajah aslimu juga." Ucap Rey sarkas dan itu membuat Delia mengerutkan alisnya,bingung akan ucapan Rey.
"Apa maksudmu?"
Rey berdiri meninggalkan kursinya lalu melangkah kearah Delia dengan bersedekap dada mengelilingi Delia,dengan perasaan campur aduk,sementara Delia merasa ada yang aneh pada suaminya itu.
" Bantuan seperti apa itu,apa kah kalian sudah kehabisan uang?"
"Rey...aku tidak paham,katakan apa maksudmu."
Rey yang terlihat emosi ,menatap Delia begitu lekat ,bahkan wajah mereka sangat dekat hingga mereka bisa berbagi udara.
Rey memegang dagu Delia dengan lekat hingga Delia merasakan sakit dan sesak di perlakukan kasar oleh Rey.
"Katakan apa tujuan ,datang menemuiku dan masuk ke dalam hidupku,hack..."Rey melepas kasar pegangannya pada dagu Delia yang membuat Delia hampir kehilangan keseimbangan jika saja tangannya tidak memegang meja kerja Rey yang berada di depannya.
__ADS_1