
Siang hari sesuai janjinya dokter Farhan pun mengajak Ramon mengunjungi klinik di desa itu mereka pergi hanya dengan berjalan kaki karena memang jarak dari rumah pak kades dengan klinik tidak begitu jauh .
Pembangunan klinik itu memang sengaja di tempatkan di tengah-tengah desa tujuannya agar memudahkan warga untuk datang berobat.
Ramon menatap sekeliling klinik itu,terlihat sederhana,bangunannya pun masih semi permanen tak nampak kemewahan di sana dan juga segala perlengkapan alat kesehatan belum begitu memadai.
7"Apakak klinik ini di bangun oleh warga ataukah pemerintah?" Tanya Ramon sambil menatap sekeliling klinik itu dan beberapa warga keluar masuk dari klinik ada yang baru datang. dan ada juga yang pulang.
"Sebenarnya klinik ini di bangun oleh kami dulu,sewaktu masih kuliah saya dan teman-teman di tempatkan di desa ini selama enam bulan, tapi karena waktu kami datang ke desa ini pertama kalinya,kami melihat tak ada satu pun tempat warga untuk memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan dan juga jarak desa ini dengan kecamatan sangat jauh jadi waktu itu kami berinisiatif untuk membangun klinik darurat untuk warga dan juga sebagai tempat kami mengadakan sosialisasi mengenai kesehatan dan juga melakukan pengobatan bagi warga yang membutuhkan pertolongan." Jelas dokter Farhan ingatannya menerawang ke belakang ,ke masa lalu dimana ia dan teman-temannya menginjakkan kaki di desa ini.
"Lalu apa yang terjadi setelah kalian meninggalkan desa ini,apakah klinik ini tetap berfungsi atau tak lagi berfungsi setelah kepergian kalian?" Tanya Ramon penasaran,ia menatap sekeliling area klinik itu hingga tanpa sengaja matanya menangkap sosok wanita yang begitu ia kenal lewat lewat memasuki sebuah ruangan yang ia ketahui sebagai ruang pelayanan.
"Menurut informasi setelah kami meninggalkan desa ini,klinik ini juga tidak lagi di fungsikan sebagai mana mestinya,karena tidak ada tenaga kesehatan yang masuk ke desa itu,tapi setahun kemudian saya kembali ke desa ini setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran saya. Saya dan dinas kesehatan di kabupaten akhirnya masuk kembali ke desa ini dan kami kembali mengfungsikan klinik ini, pemerintah juga mengirim bidan, perawat dan dokter untuk bertugas di desa ini dan saya hanya datang berkunjung setiap enam bulan sekali." Ujar dokter Farhan. sementara Ramon yang sudah tak fokus lagi dengan pembicaraan ini karena melihat Vio masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di klinik.
"Pak Ramon." Panggil dokter Farhan sambil menepuk bahu Ramon Pelan. dan membuat Ramon tersadar dari lamunannya.
"I..iya kenapa." Ucap Ramon sedikit tergagap karena terkejut oleh panggilan dokter Farhan.
"Anda baik-baik saja?" Tanya dokter Farhan pelan sambil menatap wajah Ramon yang terlihat tersenyum tipis.
"Iya ,aku baik-baik saja,aku senang melihat kegiatan kalian di desa ini." Ucap Ramon beralasan padahal iya tersenyum karena melihat Vio yang baru saja masuk ke ruangan kecil itu.
"Mari saya ajak anda berkeliling mengunjungi pasien-pasien kami." Ajak dokter Farhan sembari beranjak meninggalkan Ramon yang masih berdiri menatap ke arah ruangan kecil yabg ada di hadapannya namun di batasi oleh tanah kosong yang berada di tengah-tengah klinik yang di fungsikan sebagai taman klinik.
"Apakah anda lebih betah berdiri di situ?" Tanya dokter Farhan lagi saat ia menyadari Ramon tak mengikutinya.
Ramon lalu berjalan menyusul dokter Farhan saat ia tersadar dari lamunannya. Mereka pun berkeliling menyusuri setiap sudut klinik yang tidak begitu besar,terlihat begitu sederhana.
__ADS_1
"Dokter Vio."Panggil dokter Farhan saat ia melihat Vio melintas bersama seorang wanita seprofesinya.
Vio menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di panggil ke dua wanita itu pun menoleh ke arah yang sama dimana Ramon dan dokter Farhan berdiri lorong klinik bagian sebelah. Vio menatap Ramon dan dokter Farhan secara bergantian yang berjalan menghampiri mereka.
"Kalian darimana?"Tanya dokter Farhan saat mereka sudah berada di dekat Vio dan temannya, sedangkan Ramon menatap Vio datar tanpa ekspresi begitupun dengan Vio.
"Kami baru saja memeriksa pasien dok." Ucap teman Vio karena Vio sedang sibuk bertatapan dengan Ramon.
"pagi pak Ramon anda di sini?" Tanya dokter dokter wanita itu yang tak lain adalah dokter Tari salah satu dokter yang juga ikut dalam tim medisnya.
"" Ya m.." Jawab Ramon singkat dan terkesan dingin namun matanya tak sedikitpun berpaling dari Vio.
*Pak Ramon ingin berkeliling melihat-lihat klinik ini."Ujar dokter Farhan,sedari tdi Vio hanya terdiam mendengar kan pembicaraan ketiga orang yang ada di dekatnya itu.
"Dokter Farhan ada pasien yang sedang menunggu.."Ucap seorang perawat wanita .
"Tidak masalah,anda lakukan saja pekerjaan anda saya tidak apa-apa,dokter Vio akan menemani saya."Ujar Ramon sambil tersenyum dan menatap Vio yang terlihat menahan kesal karena dirinyalah yang di tunjuk untuk menemani Ramon berkeliling.
"Iya dok."
ucap Vio dengan tersenyum di paksakan .
Dokter Farhan dan dokter Tiara pun meninggalkan Ramon dan Vio.
"Kita hanya akan berdiri di sini atau ingin berkeliling di sini." Tanya Ramon saat mereka hanya tinggal mereka berdua.
"Ikuti saya." Vio lalu beranjak mendahului Ramon dan Ramon pun mengikuti dari belakang. Keduanya berkeliling dan Vio menjelaskan setiap sudut ruangan yang ada di klinik itu.
__ADS_1
"Jadi menurutmu apa saja yang di butuhkan tenaga kesehatan di sini untuk menunjang kinerja mereka."Tanya Ramon setelah mereka berkeliling dan duduk di sebuah bangku yang ada di taman kecil .
"Masih banyak pak, alat-alat kesehatan belum memadai,tapi kami sudah membuat proposal tiga hari yang lalu untuk di tujukan ke pemerintah terkait."
Ramon menoleh ke arah Vio yang memandang lalu lalang orang-orang yang berjalan di koridor,terlihat wajah Ramon berubah sedikit kecewa karena Vio memanggil begitu formal.
"Kami tinggal menunggu
surat balasan nya." lanjut Vio lagi.
"Kamu betah di sini?"
Vio menoleh ke arah Ramon saat mendengar pertanyaan Ramon,sejenak mereka saling menatap namun secepatnya Vio mengalihkan tatapannya kembali ke depan sambil tersenyum sinis.
"Aku betah bahkan sangat betah,aku bahkan berfikir untuk tinggal lebih lama lagi."
Ramon menatap Vio tak percaya,ya Ramon tentu tahu Vio adalah seseorang yang jiwa sosialnya begitu tinggi,sewaktu mereka tinggal di Jerman Vio bahkan pernah tinggal di pedalaman di salah satu desa terpencil di kota Berlin selama tiga bulan.
Deg
"
"
"
"
__ADS_1