
Pagi-pagi sekali dokter Farhan dan Vio pulang dari klinik karena semalam mereka sibuk di klinik .
"Marinsaya antar dokter Vio kita kan searah jalannyam" Tawar dokter Farhan saat ia dan Vio berjalan bersisian di lorong-lorong klinik.
"Apa tidak merepotkan dok."
"Tentu saja tidak , dan satu lagi panggil Farhan saja."
"Kalau begitu panggil saya Vio saja juga."
Mereka saling tertawa sambil berjalan menuju parkiran yang tidak begitu luas.
Mereka pun menaiki sepeda motor yang memang pemberian dari warga untuk mereka gunakan selama bertugas, sepeda motor itu warga hadiahkan sebagai ucapan terima kasih mereka karena sudah meluangkan waktu untuk berkunjung dan merawat warga yang sakit tanpa mengharapkan bayaran dari warga .
hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk sampai di rumah tempat Vio dan timnya menginap karena jaraknya memang jarak klinik dari rumah tempatnya menginap tidaklah jauh,berjalan kaki pun masih bisa .
Vi"Makasih atas tumpangannya." Ujar Vio saat mereka telah sampai di depan rumah .
"Ok sama-sama,aku pamit ya." Pamit dokter Farhan sembari melajukan motornya meninggalkan Vio dan menuju rumah pak kades tempatnya menginap selama berada di desa ini. desa ini.
Dokter Farhan menghentikan motornya di samping sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tepat di depan rumah pak kades, ia menatap mobil itu dengan alis terangkat dan penuh tanya.
"Eh dokter Farhan sudah pulang toh," Sapa seorang wanita paruh baya dari samping rumah yang berdinding kayu itu.
"Eh...ibu iya bu , baru saja sampai." ucap dokter Farhan sambil menatap wanita paruh baya yang tak lain adalah istri pak kades.
"Ya sudah ayo masuklah bapak sudah a menunggu untuk sarapan dan di dalam juga ada tamu."
Baru saja akan mengatakan sesuatu tapi istri pak kades itu keburu masuk kembali ke rumah melalui pintu belakang.Dokter Farhan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga ,rumah pak kades itu memang lah rumah panggung tapi tidaklah begitu tinggi,hanya ada tiga anak tangga yang di lalui untuk bisa sampai di atas rumah yang terlihat begitu sederhana tapi menenangkan.Rumah -rumah warga di desa itu memang semuanya berdinding kan kayu , di desa itu juga masih minim pencahayaan lampu listrik mereka hanya menggunakan lampu tenaga Surya buatan sendiri dan juga beberapa genset pemberian dari pemerintah setempat karena aliran listrik belum bisa masuk ke desa mereka.
Dokter Farhan masuk ke rumah dan mendapati pak kades duduk di meja makan bersama dua pria asing yang berbeda usia.
"Selamat pagi pak ." Sapa dokter Farhan dengan tersenyum ramah.
Semua orang yang duduk di meja makan ituenoleh ke arah pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah yang juga merupakan ruang makan.
"Dokter Farhan sudah pulang toh,ayo bergabung di sini kita sarapan sama-sama ." Ajak pak kades sambil melambaikan tangannya ke arah dokter Farhan.
Dokter Farhan itu pun melangkah menuju meja makan lalu menarik kursi di samping pak kades yang berhadapan dengan dua pria asing yang berbeda usia ,tidak dokter Farhan masih sedikit mengenal pria paruh baya yang duduk di samping pria muda itu karena sang sopir itu juga lah yang mengantarnya selalu jika ia berkunjung ke desa ini.
__ADS_1
"Ayo makan dulu,setelah makan baru saya akan memperkenalkan kalian." Ucap pak kades sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah sarapan semua pria itu kini duduk di teras rumah sambil menikmati keindahan dan kesejukan desa itu.
"Ohmya ,dokter Farhan kenalkan ini pak Ramon dan pak Ramon kenalkan ini dokter Farhan yang saya ceritakan semalam
" Ujar pak kades memperkenalkan keduanya.
Ramon dan dokter Farhan pun saling bersalaman sebagai bentuk perkenalan.
Suasana sejenak menjadi hening tak ada yang memulai pembicaraan mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sambil menikmati suasana pagi yang sejuk dan segar.
"Maaf bapak-bapak semuanya, sepertinya sudah agak siang saya pamit pulang ." Ucap sang sopir yang membuyarkan lamunan ketiga orang itu,mereka menoleh ke arah si sopir secara bersamaan.
"Kenapa cepat sekali pak,,." Ucap pak kades.
"Saya mau menjemput penumpang pak di tempat lain,lagi pula saya sudah tidak ada kepentingan di sini lagi,saya hanya mengantar pak bos ini." Jelas si sopir dengan tersenyum ramah.
Baiklah pak, hati-hati di jalan." Ujar pak kades sembari berdiri dari duduknya dan di ikuti ketiganya.
"Terimakasih sudah mengantar saya pak." Ucap Ramon sembari mengulurkan tangannya ke arah sang sopir dan sang sopir pun membalas uluran tangan Ramon dengan senang hati karena selain menjabat tangannya Ramon juga menyelipkan beberapa lembar uang merah ya di di lipat .
"Pak dokter bisa ajak pak Ramon untuk berkunjung ke klinik untuk melihat-melihat keadaan di sana,pak Ramon ini adalah atasan para tim medis itu." Ujar pak kades sambil duduk kembali di kursinya setelah kepergian si sopir tadi.
Dokter Farhan menetap Ramon dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Anda atasan dokter Vio dan rekan-rekannya?" Tanya dokter Farhan memastikan.
"Wah ini adalah suatu kehormatan untuk kami karena karena anda sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa ini." Ujar dokter Farhan tulus,tentu ia senang karena kedatangan Ramon bisa saja menjadi kan desa ini semakin berkembang jika Ramon membantu warga desa ini.
Ramon hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari mulut dokter Farhan,lalu memandang ke arah hutan yang di tumbuhi pepohonan yang rimbun.Desa itu memang masih sangat alami, meski sudah banyak perusahaan pertambangan yang masuk ke wilayah-wilayah pedalaman untuk membuka industri pertambangan khususnya batu bara.
"Baiklah siang nanti saya akan mengajak Anda ke klinik untuk melihat secara langsung kegiatan-kegiatan kami di desa ini."Lanjut dokter Farhan lagi sambil menyeruput teh hangat miliknya.
"Kalian mengobrol lah dulu,saya ada pekerjaan lain yang mau di kerjakan." Ujar pak kades sembari beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Ramon dan dokter Farhan di teras.
"Saya pikir hanya tim medis saya yang melakukan kegiatan sosial di desa ini ternyata ada tim lain juga." Ujar Ramon sambil menatap pemandangan hijau yang ada di depan rumah.
"Saya juga baru tiga hari ini berada di desa ini." Jelas dokter Farhan tenang.
__ADS_1
"Anda sendirian atau membawa tim juga."
"Tidak , saya hanya sendiri saja."
Keduanya pun kembali terdiam.
Di tempat lain, tepatnya di rumah tempat Vio dam timnya menginap,mereka sedang berada di ruang tengah untuk sarapan.
"Kalian tahu nggak sih guys." Ujar seorang perawat wanita yang duduk di kursi sambil memasukkan makanan di mulutnya menggunakan sendok.
"Apa.?"Tanya rekan seprofesi nya yang sama-sama perawat itu sedangkan teman yang lainnya memandang ke arah mereka untuk mendengarkan.Sedangkan Vio sibuk menghabiskan makanannya tanpa peduli dengan pembicaraan teman-temannya yang lain.
"Semalam pak Ramon ke rumah ini."
Huk...huk...huk...Vio yang mencuri dengar pembicaraan teman-temannya itu tiba-tiba terbatuk saat mendengar sebuah nama yang di sebut tadi.
"Dokter tidak apa-apa?"Tanya salah seorang perawat saat mendengar Vio terbatuk dan semua mata pun tertuju ke arah nya.
"Tidak apa-apa."Ucap Vio sambil meminum air putih yang berada di gelas yang ada di depannya.
"Kalian lanjutkan saja."Lanjut Vio lagi sembari melanjutkan makannya.
"
"Saya
"Iya."
.
"Farhan."
"Ramon
"
Sejenak
,,
__ADS_1
"Eh