
Kedua insan yang saling mencintai itu,kini masih terlelap dibawah selimut dengan tubuh yang masih polos setelah semalaman mengarungi lautan cinta .
Perlahan mata Rey terbuka dan pandangan pertama yang di lihatnya adalah wajah cantik sang istri yang masih terlelap dalam pelukannya dengan menjadikan lengannya sebagai bantal.
Rey terus saja menatap wajah cantiknya sambil merapikan anak rambut Delia yang sedikit menutupi wajahnya.
"Maaf selalu membuatmu kelelahan, terimakasih sudah berada disisi ku." Gumam Rey lalu mengecup kening dan bibir sang istri.
Awalnya hanya ingin mengecup sekilas saja,tapi Rey kecanduan akan bibir manis itu hingga mengulangnya lagi dan lagi.
Rey baru menghentikan nya saat melihat sang istri mulai menggeliat karna perlakuannya yang terus saja mengganggu tidur Delia.Rey pura-pura tidur kembali saat Delia membuka matanya dan menatap wajah Rey yang di kiranya masih terlelap itu.
"Selamat pagi." Ucap Delia lalu mengecup kening Rey kumudian beranjak dari tempatnya dengan pelan-pelan agar sang suami tak terganggu.
"Dia selalu saja membuat tubuhku bercak-bercak merah seperti ini." Gerutu Delia saat selimutnya melorot sampai keperut dan melihat tubuhnya di penuhi bekas tanda kepemilikan sang suami,Rey yang masih pura-pura tertidur itu pun hanya bisa tertawa dalam diam melihat sang istri yang terus saja menggerutu dan menyingkap selimut dari tubuhnya,Rey dapat melihat dengan jelas pemandangan yang baru saja semalam ia nikmati, bahkan mungkin setiap malam,Rey bahkan sudah menjadikan nya sebagai pekerjaan rutin yang tak bisa di lewatkan nya.
Delia yang belum menyadari jika sang suami sedari tadi sudah bangun, berdiri begitu saja dengan tubuh polos nya menuju kamar mandi karna di ruangan itu tak ada satupun yang bisa di jadikan sebagai penutup tubuhnya ,hanya selimut yang ada tapi ia tak tega untuk mengambilnya dari tubuh sang suami jadi terpaksa ia harus berjalan ke kamar mandi tanpa menggunakan kain yang menempel di tubuhnya,toh Rey juga masih tertidur jadi tidak mungkin ada yang melihatnya, padahal Rey dari tadi manatap tubuh polos sang istri hingga menghilang masuk ke kamar mandi,Rey junior bahkan sudah kembali menegang tapi Rey menahan gejolak hasratnya yang mulai menguasai dirinya mengingat istrinya pasti sangat kelelahan karna ulahnya semalam.
Delia keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan wajah yang lebih segar,ia lalu berjalan menuju meja riasnya dan duduk di sana,dari pantulan cermin Delia dapat melihat Rey yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur dengan senyum mengembang.
"Mandi gih mas,sudah hampir siang loh ini...nggak kerja kamu." Ujar Delia sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
Rey bangkit dari duduknya lalu memeluk pinggang Delia dari belakang.
"Sebentar lagi sayang,lagian Dion belum datang." Rey lalu mengecup leher Delia dan mulai meraba tubuhnya.
"Jangan macam-macam ya mas,aku sangat lelah." Ujar Delia saat menyadari suaminya itu kembali dalam mode on.
__ADS_1
"Memang aku mau ngapain?" Tanya Rey pura-pura tak mengerti.
Delia mendengus kesal.
"Sudah sana mandi mas,aku mau kerja nich kamu juga kan harus ke kantor." Delia mendorong pelan tubuh Rey dari tubuhnya .
"Iya,baiklah.." Rey beranjak dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
"Selamat pagi tuan muda dan nona muda." Sapa pak Bian saat melihat Rey dan Delia tengah berjalan menuju meja makan.
"Pagi pak Bi." Balas Delia dengan senyum ramah sedangkan Rey hanya mengangguk sebagai jawaban.
Rey dan Delia duduk di meja makan dan menyantap sarapan dengan lahap.
Tak lama setelah keduanya menghabiskan sarapan nya,Dion muncul dari luar dan bertemu dengan Rey dan Delia yang duduk di sofa ruang tamu.
*
*
*
"Kemana Daddy Oma?Rosa kangen Daddy tidak pernah menemui Rosa."Ujar Rosa saat ibu Rey menjenguk Rosa di salah satu rumah sakit di Jerman,ya Rosa di pindahkan dari Singapura ke Jerman.
Hati ibu Rey begitu teriris saat sang cucu menanyakan keberadaan Rey,pria yang di panggil Daddy oleh Rosa,sejak dari kecil Rosa memang sudah memanggil Rey Daddy itu karna kedua orang tua Rosa mengajarinya untuk memanggil Daddy pada Rey dan Rey pun merasa tak keberatan akan sebutan Daddy yang di sematkan padanya.
Keadaan Rosa perlahan-lahan membaik,tapi walau begitu tetap saja dia harus berada di bawah pengawasan dokter karna penyakit nya itu sudah memasuki stadium empat,yang lambat lain akan merenggut kehidupan nya.
__ADS_1
"Daddy sedang sibuk sayang,tidak usah mencarinya,ada Oma dan opa di sini." Bukan ibu Rey yang menjawab tapi sang suami yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Kedua wanita yang berbeda generasi itu menoleh kearah pria yang sedang berjalan menghampiri keduanya .
"Tapi Daddy tidak pernah mengesampingkan Rosa,Daddy selalu temenin Rosa." Ucap Rosa tak terima dengan ucapan opa nya itu.
Ayah Rey duduk di samping sang cucu sambil membelai lembut rambutnya, pikirannya melayang entah kemana.
Sedangkan sang istri keluar dari ruangan tak sanggup lagi menahan segala sesak yang ada di dada.
"Adakah yang bahagia dengan keputusan yang kamu ambil ini, lihatlah cucu mu mencari daddy-nya tidak kah tergerak hatimu untuk mu mengembalikan senyum di wajahnya,temuilah Rey dan minta maaflah padanya,walau usia kita lebih tua,tapi kita bersalah padanya,akui semua kesalahanmu dan perbaiki semuanya, keluarga ku hancur karna ulahmu." Ujar ibu Rey saat melihat suaminya duduk disampingnya.
"Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang telah berlalu, pelan-pelan Rosa akan melupakannya,yang penting kita selalu berada di sisi nya dan menemani nya,jelaskan padanya untuk jangan mengingat Rey lagi,dia sudah mati bagi kita." Ujar ayah Rey masih dengan kekerasan hatinya.
"Jangan sampai kamu menyesali semua keputusan mu ini,karna jika saat itu tiba mungkin semua tidak akan pernah kembali lagi,dan kamu akan berakhir dengan penuh penyesalan." Ibu Rey lalu berdiri meninggalkan suaminya yang sedang duduk di depan kamar Rosa,ibu Rey kembali masuk ke kamar Rosa, kekecewaan pada suaminya semakin membesar.
Ayah Rey masih duduk di tempatnya,hatinya tak melunak sekali pun itu permintaan sang cucu yang sedang berjuang melawan sakitnya.
Di ruangan lain tapi di rumah sakit yang sama,Vio dan Revan sedang berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, keadaan Vio sudah semakin membaik tinggal pemulihan saja setelah itu ia bisa di nyatakan benar-benar sembuh, hari ini Vio sedang ada jadwal control ke dokter Ramon,karena sudah sebulan ini ia sudah keluar dari rumah sakit dan tinggal di apartemen milik Rey bersama Revan.
"Maaf pak,saya tidak sengaja." Ucap Revan saat tanpa sengaja menabrak seorang pria paruh baya yang juga sedang berjalan dari arah berlawanan dengan Revan dan Vio.Pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Rey.
Revan yang merasa tak enak langsung menunduk mengambil ponsel yang terjatuh ke lantai lalu memberikan nya kepada ayah Rey yang masih berdiri dengan wajah terlihat menahan kesal.
"Jika berjalan sebaiknya hati-hati,gunakan matamu itu, dasar." Ujar ayah Rey kesal lalu berlalu meninggalkan Revan dan Vio yang masih di posisi yang sama.
Revan dan Vio saling berpandangan sesaat setelah ayah Rey pergi, keduanya kemudian tersenyum lalu melanjutkan langkah mereka.
__ADS_1
"Padahal dia yang nabrak,malah dia yang marah-marah."Ujar Revan .