
Vio berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit setelah memastikan mobil Rey menghilang dari pandangannya.
"Dokter....dokter Vio." Panggil seorang perawat yang sembari berlari kecil menghampiri Vio yang sedang berjalan menuju ruangannya. Vio menghentikan langkahnya saat mendengar namanya di panggil dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Maaf dok, dokter di panggil ke ruang meeting,semua orang sudah menunggu dokter di sana." Jelas perawat laki-laki itu .
Vio menganggukkan kepalanya sebagai jawaban , setelah itu perawat itu pun berlalu meninggalkan Vio yang masih berdiri di tempatnya.
Vio lalu memutar tubuhnya dan mengurungkan niatnya untuk ke ruangannya,ia kemudian berjalan menuju ruang meeting untuk bergabung dengan yang lain.
"Oh....dokter terbaik kita akhirnya datang juga setelah membuat kita menunggu ." Sindir Ramon dingin saat Vio membuka pintu ruangan dimana saat pintu terbuka Ramon bisa langsung melihatnya karena memang Ramon berdiri tepat di depan pintu .
Vio lalu berjalan masuk ke dalam tanpa berniat untuk menanggapi sindiran Ramon yang sedari tadi menatapnya.
"Maaf jika saya membuat kaliam semua menunggu,saya tidak tahu jika ada pertemuan pagi ini." Ujar Vio saat sudah berbaur dengan rekan kerjanya yang lain.
" Apakah semua hal harus di laporkan dulu padamu? Jangan terus-terus mencari alasan ."
"Maaf pak." Ucap Vio singkat , ia tak ingin berdebat dengan Ramon di pagi - pagi seperti ini. Vio lalu duduk di samping seorang dokter wanita .
Pembicaraan berjalan dengan lancar tanpa ada perdebatan yang panjang , karena mereka hanya membahas persiapan dan segala hal yang berhubungan dengan misi sosial mereka.
Pertemuan pun berakhir setelah semua sepakat dalam keputusan yang di ambil oleh Ramon.Vio di tunjuk sebagai ketua tim dokter dalam misi itu.
"Dokter Vio." Panggil dokter wanita yang juga ikut dalam misi sosial mereka.
" Iya dokter Ri." Ucap Vio menghentikan langkahnya sembari menunggu dokter yang beranama Riana itu yang sedang berjalan menyusulnya.
" Gimana persiapannya udah beres kan semua?" Tanya dokter Riana saat ia sudah berada didekat Vio.
"Tenang saja,semua beres." Jawab Vio sambil melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
__ADS_1
" Kalau aku tidak salah info tadinya pak Ramon juga akan ikut,tapi katanya calon istrinya sedang dalam perjalanan ke kota ini,jadi beliau batal ikut karena ingin menjemput wanitanya,aduh beruntungnya calon istrinya itu." Seloroh dokter Riana tanpa memperhatikan raut Vio yang tiba - tiba berubah jadi sendu.
"Oh ..."
"Kamu kenapa Vio,kamu sakit?" Tanya Riana saat melihat wajah Vio yang tiba-tiba pucat.
"Tidak,aku hanya sedikit lelah."
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu,hari ini kamu kan tidak dalam bekerja sudah ada dokter pengganti yang menggantikan kamu,kamu istirahat saja dulu sambil menunggu jam keberangkatan kita ke bandara." Ucap Riana perhatian,selain rekan kerja Vio dan Riana memang dekat ,mereka sering bertukar cerita jika ada waktu luang.
Vio dan Riana akhirnya berpisah di koridor karena ruangan mereka berbeda arah.
Vio membuka pelan pintu ruangannya dengan tak bersemangat, setelah mendengar cerita Riana tadi mengenai tunangan Ramon yang akan datang.
Vio menghempaskan tubuhnya di sofa kecil yang ada di ruangannya,ia kemudian bersandar sambil mendongak menatap langit - langit ruangannya,fikirannya menerawang ke masalalu .
"Aku pikir mereka sudah menikah ." Gumam Vio pelan pada dirinya sendiri.
Tring...tring...ponsel Ramon berdering di atas meja dan membuat Ramon membuyarkan lamunannya, tapi Ramon tak sedikit pun beranjak dari duduknya untuk mengambil ponselnya yang berdering tak henti. Ponsel Ramon terus berdering hingga membuat telinga Ramon sampai sakit mendengarnya.
"Hhhmmm." Ucap Ramon setelah mengangkat telfon dari seseorang .
"Aku sudah tiba dan kamu tidak menjemputku di bandara." Ujar seseorang yang menelfon Ramon.
"Aku sudah menyuruh sopir untuk menjemputmu,aku sibuk tidak bisa menjemputmu." Ucap Ramon dingin dan datar ,tak ada rasa bahagia yang di tunjukkan akan kedatangan sang tunangan .
"kamu selalu saja seperti itu Mon,selalu tidak punya waktu untukku..kamu selalu sibuk dan sibuk kamu bahkan..."
Tut...tut...Ramon memutuskan panggilannya secara sepihak, sejak bertunangan dengan Sophia ia bahkan tak pernah tersenyum lagi,keceriaan dan keramahannya perlahan menghilang seiring waktu. Ramon menghabiskan waktunya hanya bekerja dan bekerja, ia bahkan selalu menolak jika keluarga nya atau Sophia membicarakan perihal pernikahannya.
"Siiitttt.... Keterlaluan kamu Ramon." kesal Sophia saat panggilannya di putus oleh Ramon begitu saja.
__ADS_1
"Maaf nona monil sudah siap,apa ksh nona sudah mau berangkat sekarang?" Tanya sang sopir dengan sedikit tertunduk.
Sophia mengalihkan pandangannya ke arah sang sopir , lalu berjalan begitu saha meninggalkan sang sopir tanpa menjawab pertanyaan dari si sopir tersebut.
Sopir itu hanys menggeleng pelan melihat sikap tunangan bosnya itu ysng terlihat angkuh. Ia pun lalu berjalan menyusul sang majikan dari belakang.
" Kenapa jalan mu lsmban sekali sih, kamu pikir kamu siapa membuatku menunggu di sini dengan terik matahari." Omel Sophia kepada sang sopir saat sang sopir baru saja datang di belakang.
"Maaf nona."
" Buka pintunya." Perintah Sophia dengan nada sedikit membentak membuat sang sopir sedikit terkejut dan dengan sigap sang sopir pun membukakan pintu mobil untuk Sophia.
Setelah sang majikan sudah masuk di dalam mobil , ia pun berjslan menuju pintu depan mobil dan duduk di kursi kemudi.
" kata tuan nona akan saya antar ke apartemen." Ucap sang sopir di tengah perjalanan menuju apartemen milik Ramon.
"Tidak , antar aku ke rumah sakit,aku ingin bertemu Ramon." Perintah Sophia tegas tak ingin terbantahkan.
"Tapi....."
"Ikuti perintahku saja,jangan banyak protes." Bentak Sophia tanpa sopan santun padahal sang sopir jsuh lebih tus darinya , meskipun beliau hsnya seorang sopir.
Tanpa berkata apa pun sang sopir pun memutar arah menuju rumsh sakit sesuai permintaan tunangan bosnya itu.
Tak memerlukan waktu yang lama mereka pun telah tiba di rumah sakit , Sophia keluar dari dalam mobil setelah sang sopir membukakan pintu untuknya.
Sophia melenggang masuk ke dalam gedung rumah sakit , semua mata tertuju padanya,tapi ia tidak peduli akan pandangan orang - orang padanya, ia bahkan semakin memperlihatkan sikap arogannya.
Di sisi lain , Vio bersama teamnya sedang berjalan keluar dari gedung rumah sakit menuju bandara dan terbang ke desa tujuan mereka.
Vio dan Sophia berjalan saling bersisihan jijs Vio berjalan menuju pintu keluar maka Sophia berjalan masuk menuju lift untuk mengantarkan nya ke ruangan Ramon.
__ADS_1
Walau berjalan begitu dekat tapi mereka saling tidak menyadari akan keberadaan masing-masing.