Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 91


__ADS_3

Mona kini telah mengetahui keberadaan Rey setelah berminggu-minggu mencari keberadaan nya,dengan segala persiapan Mona pun berencana untuk menyusul Rey ke Jerman,melihat kondisi perusahaan ayahnya yang berada di ambang kebangkrutan,Mona harus secepatnya bertindak dan melakukan apa pun untuk memiliki Rey,ia sudah tak peduli denga harga dirinya lagi,satu hal yang pasti Rey harus menjadi miliknya bagaimana pun caranya.


"Kamu yakin,dengan rencana mu ini." Tanya ayah Mona saat Mona menceritakan rencana nya untuk menyusul Rey.


"Iya,dad...hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan kita dad,hanya Rey yang bisa membantu kita." Ucap Mona yakin,kali ini ia tidak akan melepaskan Rey .


"Baiklah,tapi kamu harus hati-hati,Rey tidak selemah yang kita kira.Jaga dirimu." Ucap ayah Mona memperingati,ia belum menyadari bahwa kehancurannya saat ini adalah justru atas perintah Rey,ia pikir Rey hanyalah seorang pengusaha sukses saja,ia tak pernah berfikir jika Rey adalah monster yang harus ia hindari.


"Daddy percayakan kepada mu."


...----------------...


"Maaf membuat mu menunggu.." Ujar Boy saat berada di bandara untuk menjemput Mona,ya sebelum Mona berangkat ke Jerman ia terlebih dahulu di beri informasi atas keberadaan Rey dan Delia oleh Boy,Karna di Jakarta tak seorangpun yang tahu kemana Rey pergi,ia bahkan berkali-kali menghubungi Dion untuk mencari tahu tapi Dion benar-benar tak bisa di ajak kerja sama.


"Tidak masalah,o ya dimana Rey?" Ujar Mona sambil berjalan menuju pintu keluar bandara bersama Boy di sisinya.


" Aku tidak tahu alamat tempat tinggalnya...tapi yang pasti dia tidak bersama Delia."


"Maksudmu?"


"Delia aman bersama ku,yang perlu kamu lakukan bawa Rey pergi dari negara ini,aku tidak ingin dia selalu mengganggu Delia."


"Kamu punya rencana?" Tanya Mona, sebelum masuk ke dalam mobil,Karna saat ini mereka telah berada di luar di dekat mobil Boy terparkir.


"Nanti saja aku ceritakan, istirahat saja dulu,aku akan mengantarmu ke hotel." Boy membuka pintu mobil bagian kemudi dan di susul oleh Mona.

__ADS_1


Mobil pun melaju menuju hotel tempat Mona menginap selama berada di Jerman.Tak butuh waktu yang lama mereka pun tiba di hotel,Boy lalu mengantar Mona masuk ke lobi untuk ceck in.


"Ini kunci kamar mu." Ucap Boy lalu memberikan kunci kamar milik Mona setelah dirinya ceck in dan Mona pun menerima nya dengan senang hati.


"Nanti malam aku akan menjemputmu untuk makan malam,jadi bersiaplah.Aku tidak bisa mengantarmu sampai kamar,jadi beristirahat lah." Lanjut Boy lagi .


"Baiklah,kalau begitu aku masuk sekarang."


Boy hanya mengangguk pelan,dan hanya menatap pundak Mona menuju kamar yang telah di pesannya, setelah Mona tak terlihat lagi ia kemudian membalikkan tubuhnya untuk pulang ke klinik,hari ini ia berencana mengajak Delia kerumah orang tua nya,untuk memperkenalkan mereka pada Delia dan tentu saja pada putra semata wayangnya yang sudah begitu merindukan Delia.


Sedangkan di klinik,Delia sudah tidak begitu sibuk,semua pasiennya telah pulang,ia tinggal berkunjung ke ruang perawatan pasien rawat inap nya lalu setelah itu ia akan kerumah sakit untuk menjenguk Vio.


Sore telah tiba ,Delia sedang bersiap untuk pulang, baru saja menutup pintu ruangan nya Delia di kejutkan oleh kedatangan Boy yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.


"Kenapa selalu muncul tiba-tiba,untung saja aku tidak punya riwayat jantung." Kesal Delia saat mendapati Boy telah berdiri tepat di belakang nya jadi saat ingin memutar tubuhnya ,ia mendapati Boy sudah berdiri di depannya.


"Maaf,abis kamu serius amat menutup pintunya."


Ucap Boy sambil melangkah mensejajarkan langkah Delia yang berjalan mendahului nya.


"Kamu ada waktu hari ini?" Tanya Boy saat mereka telah berjalan bersisian.


Delia menoleh ke arah Boy sejenak,lalu kembali menatap ke arah depan.


"Aku mau kerumah sakit sekarang."

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu." Tawar Boy.


"Tidak usah,aku sudah memesan taksi,aku duluan ya." Ujar Delia menolak lalu meninggalkan Boy yang terdiam di tempatnya, sementara Delia sudah berjalan jauh meninggalkan nya.


"Kenapa begitu sulit untuk menaklukkan mu,tapi itu membuat ku semakin tertantang untuk mendapatkan mu." Lirih Boy pelan dengan senyum penuh arti.


Delia telah berada di jalan menuju rumah sakit,entah mengapa ia merasa tidak nyaman jika bersama dengan Boy.Tanpa sadar pikiran Delia melayang kebelakang, membayangkan hari-hari bahagia yang di habiskan bersama Rey,sejak awal bertemu dengan Rey,Delia sudah merasa begitu nyaman dan aman.Tiba-tiba saja ia merindukan Rey ,ingin menemui nya tapi ego nya tak membolehkan dirinya,apalagi ia masih menyimpan kekecewaan atas perlakuan Rey padanya,jika mengingat hal itu api kebencian kembali menguasai hatinya .


"Maaf nona,kita sudah sampai." Ujar sang sopir taksi yang mengantar Delia.


Delia terkesiap dari lamunannya,dan dengan sedikit linglung ia memperhatikan sekeliling nya.


"Maaf nona,Kita sudah sampai." Ucap sopir taksi itu kembali dan saat itu pun Delia sudah kembali dalam kesadaran nya setelah beberapa saat merasa linglung,dengan senyum malu-malu Delia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lalu di berikan nya kepada sang sopir.


"Makasih pak." Ucap Delia setelah memberikan uang kepada sang sopir lalu membuka pintu taksi yang di tumpanginya,setelah keluar dari taksi ia pun segera memasuki rumah sakit tempat Vio di rawat,namun sebelum melangkah kan kakinya sejenak ia terdiam untuk mengambil nafas lalu membuangnya secara perlahan.


Delia berjalan pelan melewati lorong-lorong rumah sakit,yang entah mengapa hari ini terlihat begitu ramai.


Tidak butuh waktu lama ia pun telah tiba di depan kamar Vio,Delia menghela nafas pelan lalu membuka pintu kamar Vio,saat membuka pintu pemandangan pertama yang di lihatnya adalah tubuh Vio yang terbaring lemah yang di topang oleh alat-alat penunjang hidupnya.


Delia melangkah pelan mendekati ranjang Vio,di tatapnya wajah pucat sang adik,wajah yang begitu ceria dan cerewet,dulu Vio adalah gadis yang begitu ceria dan juga begitu cerewet,rumah akan begitu ramai jika ada dirinya,di kampus pun seperti itu.Wajahnya cantik takkalah cantik dengan Delia,


"Kapan kamu akan bangun Vio,kamu tidak lelah tidur terus,aku bahkan lelah melihat mu tidur terus." Ujar Delia sambil mengusap rambut Vio dengan lembut serta tatapan nya terarah ke wajah pucat itu tapi tak mengurangi kecantikan nya.


"Kamu tidak ingin menyelesaikan kuliahmu,sudah begitu lama kamu tidak masuk kampus,nanti dosen killer yang kamu ceritakan tempo hari itu pasti sedang uring-uringan mencarimu,kamu kan pernah cerita kalau dosen baru yang mengajar di kelas mu itu selalu mengerjai dirimu,aku yakin dia saat ini pasti sedang pusing mencarimu, bangunlah...Revan juga sudah kuliah,kamu mau di dahului oleh Revan wisuda nanti. Kami merindukan mu,bangunlah...banyak hal yang tidak kamu ketahui,kamu kan sangat kepo,sudah banyak loh berita yang kamu lewatkan." Ujar Delia panjang lebar,ia tak menyadari jika di balik pintu kamar itu ada seseorang yang sedang menahan tawanya mendengar ucapan Delia.

__ADS_1


__ADS_2