
"A....a...ada apa bos?" Tanya Dion gugup,saat ini ia benar-benar ketakutan melihat kilatan Kemarahan di wajah Rey.
Rey kemudian melemparkan map yang berisi dokumen perceraian yang telah di tandatangani oleh Delia,dengan sigap Dion menangkapnya lalu perlahan membuka map itu,dan seketika ia pun begitu terkejut melihat isi dari map itu,ini tidak seperti yang di rencanakan,bukan seperti ini ,Dion kemudian menatap ke arah Rey dengan ketakutan yang luar biasa sekarang karna dialah yang terus menghalangi Rey untuk bertemu dengan Delia waktu itu,jika saja dia mengantarkan Rey waktu itu ke Surabaya semua ini tidak akan terjadi,dengan tubuh sedikit bergetar Dion memasukkan kembali dokumen itu ke tempatnya semula,sedangkan Rey beranjak dari duduknya mendekati Dion yang tengah berdiri dengan penuh ketakutan.
" Jelaskan padaku sekarang?" Ujar Rey dengan penuh penekanan matanya terlihat memerah dengan tatapan tajam menghunus hingga ke jantung Dion.
"A...aku juga tidak tahu bos,ini di luar dugaan saya bos,saya pikir waktu itu..." Dion menghentikan ucapannya saat melihat sorot mata beringas dari Rey.
Bug...bug...
Rey memberikan Bogeman mentah di perut Dion hingga membuat tubuh Dion terjungkal ke lantai,tidak selesai sampai di situ Rey kembali menarik kerah baju Dion dan membuatnya berdiri dan kemabali memukulnya,Dion hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Rey padanya,ia juga merasa begitu bersalah karna rencana yang dia susun ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Rey menjatuhkan tubuhnya di lantai saat dirinya sudah puas melampiaskan segala kemarahan nya pada tubuh Dion,ia terlihat begitu sangat memprihatinkan, bagaimana tidak dirinya sudah di khianati keluarga nya sendiri lalu belum selesai istrinya pun menandatangani surat perceraian itu,ia begitu sangat menyesal telah memberikan dokumen perceraian itu dulu pada Delia.
Rey tertunduk tersedu menahan tangis dan itu tidak lepas dari perhatian Dion ,meski sudah tak berdaya akibat amukan Rey padanya tapi melihat Rey yang begitu rapuh sekarang Membuat nya iba,dengan pelan di sertai rasa sakit pada tubuhnya Dion berjalan mendekati Rey yang masih terkulai lemas di lantai.
"Ayo bos ,kita menyusul nona Delia sekarang,dia berada di Surabaya,di rumah sakit milik Ramon,saya akan menghubungi Ramon dulu untuk bersiap di sana." Ucap Dion sambil menekan nomor Ramon dan menghubungi nya,namun tak ada jawaban dari ponsel Ramon,Dion mencoba menghubungi nya lagi tapi tetap tak ada jawaban,Dion menatap ke arah Rey yang juga menatapnya dengan tatapan membunuh,Dion sudah keringat dingin di buatnya,lalu mencoba lagi dan lagi tapi tetap tak ada Jawaban, setelah mencoba berkali-kali akhirnya Dion menghentikan panggilan nya dan menyimpan kembali ponselnya di kantong jas yang di gunakan nya.
"Sebaiknya kita langsung saja ke Surabaya,saya akan menyiapkan jet pribadi biar kita tiba secepatnya." Ujar Dion lagi.
Rey hanya terdiam dan berjalan meninggalkan ruangannya dan Dion sedang menghubungi pilot untuk segera bersiap. Setelah selesai berbicara Dion pun keluar menyusul Rey.
*
*
*
Di rumah sakit Delia,Revan dan Ramon kini bersiap untuk ke bandara.
__ADS_1
"Kita akan menggunakan jet pribadi saja." ucap Ramon saat mereka tengah dalam perjalanan menuju bandara.
Delia menoleh ke arah Ramon yang duduk di sampingnya di kursi belakang , sedangkan Revan duduk di depan samping sopir,dan Vio di antar menggunakan ambulance .
"Pasti biayanya sangat mahal."
"Jangan memikirkan biaya nya,kita menggunakan jet pribadiku."
Mata Delia berkaca-kaca saat mendengar ucapan Ramon,ia begitu terharu karna Ramon bersedia dan begitu tulus membantu nya,dia tidak bisa membayangkan jika saja Ramon tidak ada di saat tersulit yang dia alami.
"Terimakasih,Karna sudah membantuku,aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan mu pada kami." Ucap Delia dengan penuh haru.
"It's ok , itu bukan apa-apa."
Tak terasa mereka pun tiba di bandara, ketiganya kini keluar dari mobil bersamaan tibanya mobil ambulance yang mengantar Vio.
Saat semua telah siap,tiba-tiba ponsel Ramon berdering,ia kemudian menghentikan langkahnya lalu mengambil ponselnya di saku celananya .
"Kalian duluan saja,aku akan menyusul aku angkat telfon dulu." Ucap Ramon dan di angguki oleh Delia lalu berjalan meninggalkan Ramon, sedangkan Ramon tengah gusar antara ingin menjawab telfon atau tidak .
Baru saja akan menjawab panggilan yang berbunyi di ponselnya ,panggilan itu sudah berakhir,namun baru saja bernafas lega ponsel Ramon kembali berdering.
"Hallo..."
"Maaf dokter,ada pasien gawat dan butuh penanganan dokter segera " Ucap seseorang di balik telfon ."
"Apa tidak ada dokter lain yang menangani nya?aku sedang di bandara sekarang bukankah kamu tahu aku sedang mengantar pasien sekarang." Ucap Ramon menahan kesal.
"Tapi dok,ini benar-benar darurat."
__ADS_1
Ramon menghembuskan nafas berat, sekarang dirinya dalam di lema antara kembali ke rumah sakit atau melanjutkan perjalanan.
"Kembalilah..." Suara itu mengejutkan Ramon dari pikirannya,ia kemudian menoleh ke arah sumber suara dan melihat Delia sedang berjalan ke arahnya .
"Kembali saja dulu,aku tidak apa-apa berangkat sendiri,lagi pula ada Revan yang menemani kami,kamu harus mengutamakan kewajiban mu untuk menolong pasien." Ucap Delia setelah berada di dekat Ramon.
Ramon masih di lema tapi ia juga tidak bisa mengesampingkan pasien-pasiennya yang lain .
"Baiklah,aku ke rumah sakit sebentar,aku akan menyusul kalian jika semua sudah beres,dan di Jerman semua sudah siap,di bandara nanti akan ada yang menjemput kalian dan mengantar kalian kerumah sakit " Jelas Ramon pada akhirnya.
"Baiklah."
"Oke kalau begitu aku pulang sekarang." Pamit Ramon yang di angguki Delia.
Ramon berjalan begitu tergesa -gesa keluar dari bandara,ia ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya dan menyusul Delia.
Sedangkan Delia ,Revan dan Vio kini tengah berada didalam jet pribadi milik Ramon dan bersiap untuk terbang.
Sementara di sudut bandara lainnya,terlihat Rey dan Dion sedang berjalan keluar bandara setelah beberapa menit yang lalu jet pribadi yang di tumpanginya mendarat di bandara,dengan sedikit terburu-buru keduanya memasuki mobil yang sudah sedari tadi menunggu di depan pintu.
Mobil pun melaju memecah keramaian jalan raya di kota Surabaya,hati Rey begitu tidak karuan dan gelisah .Hatinya kini tengah di liputi rasa bahagia dan penyesalan, Bahagia karna sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan sang istri,wanita yang begitu amat berarti untuknya,dan menyesal karna terlambat menyadari kebenaran yang sesungguhnya yang hampir saja akan membuat dirinya kehilangan wanitanya,untung saja Rey belum menandatangani dokumen perceraian itu .
"Kita sudah sampai,bos." Seru Dion yang berada di depan samping sopir, sementara Rey sedikit terkejut,ia kemudian keluar dari mobil saat dirinya sudah sedikit lebih tenang tapi entah mengapa ia juga begitu gelisah.
Baru saja keduanya keluar dari mobil,mereka melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam tengah berhenti tepat di samping mobil mereka,Rey merasa tak asing dengan mobil tersebut,namun saat otak nya sedang mengingat - ingat mobil yang baru saja tiba itu,ia kembali di kejutkan dengan keluarnya seorang pria yang begitu ia kenal dengan baik, bibirnya tersenyum bahagia karna orang yang juga akan di temuinya kini sedang berada di depannya.
"Tuan Ramon." Panggil Dion saat Ramon sedang menutup pintu mobilnya,Ramon yang mendengar namanya di panggil seketika menoleh dan matanya melihat dua pria yang sedang berdiri di samping mobilnya.Tanpa membalas sapaan Dion,Ramon malah meninggalkan kedua nya dan kedua pria itu pun melongo dengan apa yang di lihatnya,dengan cepat Rey dan Dion menyusul langkah Ramon yang berjalan masuk kerumah sakit.
" Ngapain kalian di sini?" Tanya Ramon saat Rey dan Dion sudah berada di sisinya,ada rasa kesal yang terlihat jelas di wajah Ramon dan kedua pria yang berada di sisinya menyadari itu.
__ADS_1
"Hhhhmmmm. dimana Delia?" Tanya Rey to the point, mendengar nama Delia,Ramon menghentikan langkahnya dan di ikuti Rey dan Dion.Ramon kemudian menatap ke arah Rey,tatapan kekecewaan dan kekesalan itu yang di lihat oleh Rey di mata Ramon dan membuat Rey semakin bersalah di buatnya.