
Sudah seminggu sejak kejadian di apartemen itu,Delia dan Revan pun sudah pindah dari apartemen milik Ramon.
Seperti hari-hari sebelumnya Delia selalu saja di sibukkan dengan berbagai pekerjaan, seperti hari ini ia begitu di sibukkan oleh salah satu pasien kecelakaan yang begitu menguras emosi nya,pasien itu sebenarnya bukanlah pasiennya Karna dia bukanlah anak-anak tetapi seorang pria yang mungkin seumuran dengan Revan.
"Duduk dan tenanglah." Tegur Delia saat dirinya akan membalut luka di bagian lutut pria itu.
"Aku takut darah dok,aku juga takut jarum suntik." Ucap pria itu memelas agar Delia berhenti membalut lukanya.
"Diam atau aku suntik kamu." Ancam Delia sambil mengambil jarum suntik , seketika pria itu terdiam dan tak banyak protes lagi atau menggoyang kan kakinya lagi,Delia kembali membalut luka pria dengan gelengan kepala,ia begitu heran kenapa ada orang yang begitu takut terhadap darah dan jarum.
"Barry..." Panggil Boy saat dirinya sudah berada di ruang perawatan,ia melihat Delia sedang membalut luka pria yang bernama Barry itu,dengan pelan Boy melangkahkan kakinya mendekati Barry dan Delia.
Delia menoleh ke arah pintu saat seseorang memanggil nama Barry,begitupun dengan Barry ,ia menoleh saat namanya di panggil .
"Kakak..." Ucap Barry saat melihat Boy sedang berjalan ke arahnya yang di angguki dengan senyuman tipis oleh Boy, sedangkan Delia sedikit terkejut saat mengetahui pria yang sedang di obati nya ini adalah adik Boy, pemilik klinik ini.
"Delia...kok kamu yang merawatnya,kemana dokter umum yang bertugas di sini?" Tanya Boy,ia bingung melihat Delia berada di ruangan yang seharusnya bukan tempatnya.
"Ooh tadi dokter yang bertugas tiba-tiba ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan jadi Karna kebetulan tadi aku ada di sini mengobrol jadi aku yang menawarkan diri untuk mengobati pasien ini,lagi pula tidak ada luka yang serius hanya luka kecil di bagian lutut." Jelas Delia sambil melirik ke arah Barry yang di balas cengengesan olehnya.
"Kau ini,selalu saja bikin ulah." ucap Boy sambil menjitak pelan kening Barry.
"Oh. ya kenalkan ini adikku namanya Barry dan Barry ini dokter Delia,dia dari Indonesia." Lanjut Boy memperkenalkan keduanya.
Barry melambaikan tangan ke arah Delia dan di balas senyuman tipis oleh Delia.
"Baiklah,aku pikir semua sudah selesai,aku keruangan ku dulu,kalau ada apa-apa, hubungi perawat yang ada di depan saja." Ucap Delia lalu melangkah keluar ruangan menuju ruangannya sendiri, sedangkan Boy dan Barry hanya mengangguk dan memandang kepergian Delia hingga menghilang di balik pintu.
"Kakak berutang penjelasan padaku." Ucap Barry namun tatapan nya masih terarah ke pintu .
__ADS_1
Boy menghela nafas pelan,lalu beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana?" Tanya Barry saat dirinya melihat Boy beranjak.
"Keruangan ku, kenapa?"
"CK...mau meninggalkan sendirian seperti ini?" Kesal Barry.
"Heeee...sorry kakak lupa,ya sudah naik di sini saja." Boy lalu mengambil sebuah kursi roda yang berada di ruangan itu,lalu mendorong nya ke arah Barry dan membantu Barry untuk duduk di atas kursi roda itu.
*
*
*
"Sabarlah Rey,beri dia waktu..kalau kamu terus mengejarnya dia akan semakin menjauh darimu." Ucap Ramon saat mereka sedang berada di sebuah restoran dekat dari rumah sakit tempat Vio di rawat.
"Aku pikir ,semua akan lebih mudah..Tapi nyatanya semua ini sangat sulit ."
"Tidak sulit,kamu hanya perlu membangun kepercayaan nya kembali padamu,dia terlanjur kecewa jadi berjuang lah."
"Kau ini..." Rey melemparkan selembar tisu ke wajah Ramon,ia kesal karna Ramon tak memberi nya solusi apa pun.
"Sampai kapan,aku sudah sangat merindukan nya?"sudah lebih dari seminggu ini ia tidak melihat atau sekedar bertukar kabar dengan Delia.
Rey hanya dapat melihat wajah Delia melalui ponsel saja,itu pun hanya Revan yang selalu mengirimkan foto- foto Delia yang di ambilnya secara diam-diam.
"Wanita itu jika sudah di kecewakan akan sangat sulit membuat nya kembali seperti semula,hati wanita itu sangat lembut dan sensitif sedikit saja itu akan membuat nya terluka ." Jelas Ramon gemas sendiri melihat tingkah Rey yang tak peka.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana? aku sudah melakukan semua hal yang bisa membuat nya luluh bahkan aku rela menghilang kan segala gengsi hanya untuknya."
pletak....Ramon menjitak kepala Rey saking kesalnya.
"Kamu tidak sedang meluluhkan hatinya tapi membuat hatinya makin risih iya,apa ada orang yang sedang ingin membujuk orang lain tapi mala selalu memaksa keinginan nya,harus ini,harus itu kamu tidak sadar kamu telah memaksa Delia untuk selalu mengikuti keinginan mu."
"Apa iya aku begitu?"
"Iya,kamu selalu memaksa nya untuk melakukan hal yang kamu inginkan,selalu ingin mengikuti setiap keputusan yang kamu buat, itu salah.Biarkan dia menjalani hidupnya seperti yang dia inginkan, mengambil keputusan nya sendiri, berjalan di atas kakinya sendiri,kamu hanya perlu memperhatikan nya dari jauh saja.Setelah dia merasakan semua hal yang menurutnya baik,jika itu salah dia akan kembali pada mu, percayalah." Jelas Ramon sambil menepuk-nepuk pelan bahu Rey.
"Akan aku coba."
Baru saja akan beranjak dari duduknya ,mata Rey tertuju pada dua orang pria dan wanita yang sedang berjalan memasuki restoran tempatnya berada saat ini ,kedua orang itu begitu ia kenal Rey mengepalkan kedua tangannya dan dengan menahan amarah ia ingin mendatangi kedua orang itu yang sedang berbincang dengan di iringi tawa ,Ramon menahan tangan Rey saat Rey sudah ingin melangkahkan kakinya.Ramon menggeleng pelan sebagai isyarat agar Rey tak menemui mereka.
Dengan kesal Rey kembali menghempaskan tubuhnya di kursi,hatinya begitu panas dan bergemuruh, bagaimana tidak kedua orang itu adalah Delia dan Boy, mereka sedang makan siang di restoran yang sama dengan Rey dan Ramon,namun mereka tak menyadari kehadiran Rey dan Ramon di restoran itu .
"Biarkan saja,pelan- pelan Delia akan mengetahui siapa Boy yang sebenarnya." Ucap Ramon menenangkan Rey yang masih di selimuti oleh amarah .
"Bagaimana jika Boy melakukan sesuatu yang fatal pada Delia,aku tidak ingin kejadian yang menimpa Novi juga di alami oleh Delia,jika itu terjadi aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."
"Tenang lah itu tidak akan terjadi,saat ini Delia menganggap Boy adalah pria yang baik dan kamu akan di anggapnya sebagai pria yang buruk,dan itu akan semakin membuat hubungan kalian akan semakin menjauh ."
Rey menoleh ke arah Ramon saat dirinya mendengar ucapan Ramon yang memang seperti nya benar,jika dirinya selalu menjelek-jelekkan Boy di hadapan Delia justru dirinya lah yang nantinya akan di anggap Delia tidak baik,sebaiknya Delia harus tahu sendiri.Pikir Rey sambil manggut-manggut .
...----------------...
Ayah Mona semakin frustasi setalah satu persatu usahanya perlahan-lahan hancur,bahkan sebagian besar investor yang menanamkan saham di perusahaan nya kini mulai mundur.
Perusahaan satu-satunya yang masih bisa bertahan adalah perusahaan milik ayah kandung Rey yang telah di kuasai nya selama berpuluh tahun tapi perusahaan itu pun kini mulai mengalami kerugian akibat berkurangnya produksi barang yang mereka lakukan.Perusahaan itu bergerak di bidang furniture yang di ekspor ke luar negeri,tapi bahan mentah yang mereka gunakan semakin menipis ,padahal sebelumnya semua itu lancar saja,namun beberapa bulan terakhir ini semua seakan berubah,segala masalah seolah datang bertubi-tubi di waktu yang hampir bersamaan.
__ADS_1
Adakah semua ini Karna campur tangan Rey???