
Ibu Rey berjalan memasuki kediamannya.
"Tuan di mana?" Tanya ibu Rey saat asisten rumah tangganya membukakan pintu untuknya.
"Di kamar Nya."
Ibu Rey lalu menghela nafas berat kemudian melirik ke lantai dua.Setelah itu ia pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Ibu Rey kemudian membuka pintu kamar dan untungnya tidak terkunci, pandangan pertamanya saat pintu kamar terbuka adalah sosokk suaminya yang sedang duduk bersandar menatap langit-langit kamar,entah apa yang sedang di pikiran nya sehingga ia tak menyadari kedatangan istrinya.
Ibu Rey lalu berjalan menghampiri sang suami,walau selalu di buat kesal oleh suaminya tapi ia tetap tak bisa melihat suaminya seperti ini yang tiba-tiba jadi pendiam dan seakan menghindari semua orang.
"Pa....." Panggil ibu Rey,namun panggilannya tak di gubris oleh sang suami.Ibu Rey kemudian duduk di pinggir tempat tidur di samping suaminya.
"Pa..." Panggil ibu Rey lagi sambil menepuk bahu ayah Rey dan hal itu membuat ayah Rey tersadar dari lamunannya.
"Ma...KA...kamu di sini?" Tanya ayah Rey sedikit karena sedikit kaget.
"Kamu belum makan ?" Tanya ibu Rey lagi sambil mengelus lembut tangan suaminya yang sudah mulai keriput di makan usia.
"Aku tidak lapar."
"Ada apa? katakan padaku ...tidak baik menyimpan luka sendiri pa."
"kamu sudah makan?" Tanya ayah Rey mengalihkan pembicaraan.Sepertinya ia belum siap untuk menceritakan segala keresahan hatinya.
"Belum,ayo kita makan sama-sama." Ajak ibu Rey lalu berdiri dan menatap sang suami yang masih enggan berdiri.
"Pa..."
"Iya,baiklah,ayo kita makan."
Ayah Rey lalu berdiri dan berjalan beriringan dengan sang istri,mereka berjalan menuju meja makan.
#
__ADS_1
#
#
Delia menggeliatkan tubuhnya lalu membuka matanya perlahan,ia kemudian mengucek matanya pelan.Matahari sudah mulai terbit dari peraduannya. Ia lalu menoleh ke samping dimana Rey masih tertidur pulas.Delia tersenyum tipis melihat sang suami ia lalu mengelus pipi Rey kemudian menciumi nya.
"Jangan menggodaku pagi-pagi ,Sayang." Ucap Rey dengan mata terpejam.
Delia terperanjat ketika suaminya itu menangkap basah dirinya.
"Jamu pura-pura tidur ya mas?" Ucap Delia dengan pipi merona,meski mereka sudah hidup bersama lebih dari lima tahun tapi tetap saja Delia malu-malu jika suaminya terus saja menggodanya.
"Tidak,kamu membangunkanku,sayang....ciuman mu mbuatlu terbangun dan....." Rey menggantungkan ucapannya lalu menarik pelan tubuh sang istri ke dalam pelukannya,dan terjadilah peristiwa panjang yang indah di pagi hari.
"Mommy,Daddy.....buka pintunya." Teriak Kenan sambil mengedor-ngedorkan pintu kamar Rey dan Delia.
"Anak itu,tidak tahu apa orang tuanya sedang , membuat kannya adik." Gerutu Rey saat ia ingin mengulang kembali pagi panas mereka untuk kedua kalinya.
"Bukankah pintu untuknya mas,atau dia akan mengamuk nantinya." Suruh Delia sambil bergegas memperbaiki posisinya yang sudah polos itu,ia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya lalu beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya tadi bersama sang suami.
Rey lalu memakai celana pendeknya dan baju kaos lengan pendek ,setelah itu ia berjalan menuju pintu dan membuka.
"Daddy dan Mommy ini tidurnya jorok sekali sih,kenapa tempat tidur berantakan seperti ini sih." Omel Kenan sambil memperhatikan tempat tidur orang tuanya yang sudah tak berbentuk lagi akibat pergulatan tadi.
"Kau ini,mengganggu Daddy dan Mommy saja sih, ngapain kamu kemari?" Ujar Rey sambil berbaring di samping Kenan yang duduk memperhatikan seisi kamar orang tuanya.
"Mommy dimana?" Tanya Kenan sambil mencari-cari sosok wanita yang melahirkannya.
"Di kamar mandi."
"Sayang...." Sapa Delia saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh ysng segar.
"Kenan lapar Mom." Ucap Kenan sambil memegang perutnya.
"Ya sudah,kita sarapan di restoran di bawah saja ya."
__ADS_1
Kenan hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Rey sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Delia lalu berjalan ke arah meja rias untuk menyisir rambutnya dan sedikit menggunakan makeup natural.
Rey keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap melekat di tubuhnya,wajahnya terlihat begitu cerah dan semakin tampan.
"Ayo,kita sarapan di bawah." Ajak Rey sambil menggenggam tangan putra kecil nya itu, sedangkan Delia mengikuti dari belakang.
"Kemana aunty?" Tanya Delia saat ia menyadari tak ada Vio di antara mereka.
"Aunty tadi pergi di jemput uncle Ramon setelah mengantarkan Kenan ke kamar Mommy." Jelas Kenan polos.
ketiga pun berjalan menuju lantai satu hotel tempat mereka menginap untuk sarapan.
Di kediaman orang tua Rey,mereka pun juga sedang sarapan bersama di meja makan.
"Aku ingin kerumah sakit setelah sarapan ,apa kamu mau ikut juga?" Ujar ibu Rey di sela - sela sarapan mereka.
"Kamu duluan saja,aku akan menyusul mu setelah dari kantor, ada pertemuan yang harus kau lakukan dan ini sangat penting,ada lliien yang akan berkunjung ke kantor." Ucap Ayah Rey sembari mengusap mulutnya menggunakan tisu. Setelah itu mereka pun beranjak dan berjalan menuju pintu utama untuk pergi dengan tujuan yang berbeda.
Setibanya di kantor ayah Rey langsung menuju ke ruangan nya.
"Maaf pak, klien kita sudah menunggu di ruang meeting." Lapor sekertaris ayah Rey saat ayah Rey baru saja memasuki ruangannya.
"Baiklah, siapkan semua dokumennya." Ayah Rey lalu kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan ruangannya untuk bertemu dengan klien yang telah menunggunya di ruang meeting.
""Maaf membuat anda semua menunggu." Ucap ayah Rey saat dirinya memasuki ruang meeting dan mendapati beberapa orang yang sudah duduk di meja menunggunya,namun matanya tak sengaja menangkap sosok pria yamg begitu sangat di kenalnya.
Begitupun sang pria yang duduk di salah satu kursi terkejut saat mendengar dan melihat pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruang meeting.
"Tidak masalah pak,kami juga baru saja datang." Ucap salah satu peserta meeting sambil tersenyum.
Walau terkejut melihat kehadiran Rey di antara rekan bisnisnya ,ayah Rey berhasil menguasai dirinya hingga dengan cepat ia bisa mengendalikan dirinya dan bersikap biasa saja.Bukankah di dunia kerja semua harus profesional,begitupun dengan ayah Rey , ia bersikap profesional dan biasa saja saat tatapan matanya dan Rey saling nertemu.
"Baiklah karena semua sudah hadir kita mulai meetingnya,tapi sebelum nya saya akan memperkenalkan kalian semua seorang investor terbesar yang akan menanamkan sahamnya dan akan bergabung dengan proyek yang tengah kita gencarkan." Ucap pak Stefen rekan kerja Rey tapi juga rekan kerja ayah Rey dan dia menawarkan kerja sama dengan perusahaan Rey untuk ikut bergabung dengan proyek yang raksasa yang akan di kerjakan.
__ADS_1
"Namanya Pak Rey dari Indonesia dan tentu saja beliau bukanlah pengusaha asing yang tidak kita kenal,tentu nama beliau sudah sangat familiar di telinga para pengusaha." Jelas Stefen lagi dan tentu semua yang di ucapkan nya adalah benar karena di antara peserta meeting itu tak ada yang tidak mengenalinya.
"Sebuah kebanggaan untuk kami jika perusahaan anda ikut bergabung dengan kami dan tentu itu adalah sebuah kehormatan untuk kami." Ucap salah seorang dari mereka,tentu mereka akan sangat senang jika Rey menanam kan sahamnya di proyek raksasa yang sedang mereka kerjakan.Sedangkan ayah Rey hanya terdiam membisu mendengar segala pujian yang di lontarkan rekan-rekan bisnisnya.Andai mereka tahu kalau Rey adalah putranya tentu itu akan sangat membuatnya begitu bangga.