
Seminggu telah berlalu sejak kejadian malam itu,dan sejak saat itu Ramon tak pernah lagi terlihat.
"Kalian berkemas lah kita akan pulang ke Indonesia malam ini." Ujar Rey yang baru sajaasuk ke dalam kamar hotel dan menyuruh Vio dan Delia yang sedang menonton untuk berkemas.
Delia dan Vio saling pandang ,mereka sedikit terkejut atas ucapan Rey yang menyuruh mereka berkemas dan kembali ke Indonesia secara mendadak.
"Kita mas? kenapa?" Tanya Delia bingung pasalnya mereka sudah sepakat untuk tinggal beberapa hari lagi , karena mereka akan menemani Rosa ,memastikan kondisi nya baik-baik saja walau di nyatakan koma.
Rey lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa,matanya terpejam dan wajahnya terlihat lelah,seperti sedang menahan beban fikiran yang berat , Delia menoleh ke arah suaminya yang sedang duduk dengan terpejam itu,Delia dapat melihat dengan jelas raut wajah yang terlihat begitu banyak beban fikiran.
Kamu baik-baik saja?" Tanya Delia sambil mengelus lembut rambut Rey dan perlakuan Delia itu membuat Rey merasakan ketenangan saat dirinya di Landa banyak beban fikiran, Rey teringat kembali kejadian beberapa waktu lalu sebelum ia kembali ke hotel,saat Rey baru saja bertemu rekan kerjanya di sebuah restoran,tanpa sengaja matanya melihat dua sosok pria dan wanita yang begitu ia kenal,dan mereka tak lain adalah Ramon dan Sophia,di mata Rey Ramon dan Sophia terlihat begitu bahagia dan mesra karena sesekali Rey melihat Ramon tertawa dan memegang tangan Sophia,Rey juga meliaht saat Ramon mengusap bibir Sophia,sua perlakuan manis Ramon kepada Sophia tak luput dari perhatian Rey,hingga Rey hampir saja mendatangi merek dan menghajar Ramon karena telah berani mempermainkan Vio. Tapi untung saja ia dapat menguasai amarahnya hingga keributan itu tak terjadi .
"Tidak apa-apa,aku hanya lelah ,sayang." Ucap Rey tanpa membuka matanya,ia tak akan menceritakan pada Delia apa yang telah di liahrnya karna Vio ada di antara mereka ,Vio sedang asyik bermain dengan Kenan.
"Aku ambilkan minum dulu ya." Delia lalu beranjak menuju dapur tanpa menunggu jawaban dari sang suami.Tak berapa lam Vio kembali membawa segelas air putih dan di letakkan nya di atas meja kemudian ia pun duduk kembali di sofa samping Rey.
"Kenapa tiba-tiba mas?" Tanya Delia sambil menyandarkan kepalanya di dada Rey dan mengelusnya pelan.
""Dion membutuhkanku,lagian Kenan juga sudah mulai sekolah kan?"
Vio mendongakkan kepalanya menatap wajah Rey,ia mengerutkan kedua alisnya dan merasa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu padanya,arah matan Delia pun mengikuti arah mata Rey dimana sejak tadi Rey menatap ke arah Kenan dan Vio bermain di atas karpet tak jauh dari sofa tempat Rey dan Delia duduk, tapi bukan itu yang mencuri perhatian Delia,tapi Delia menatap penuh tanya saat mata Rey justru hanya tertuju pada Vio saja.
__ADS_1
"Kenap mas?" Tanya Delia penasaran akan tatapan Rey pada adiknya itu.
"Kenapa mas?" Tanya Delia tanpa mengalihkan tatapannya dari tempat Vio dan Kenan bermain.
"Hach..." Rey tergagap,ia lalu menoleh menoleh ke arah Delia.
"Dari tadi aku perhatikan kamu memperhatikan Vio?" Delia masih menatap ke arah Vio ,berbagai pertanyaan berkecamuk di fikirannya karena sedari pulang tadi Rey menatap ke arah Vio begitu dalam.
Rey menghela nafas berat,ia lalu melingkar kan kedua tangannya di pinggang Delia yang membuat tubuh Delia semakin menempel erat e tubuh Rey.
"Tadi aku bertemu dengan Ramon,dia bersama dengan Sophia di restoran,mereka begitu dekat dan terlihat bahagia,aku tidak ingin Vio melihat kemesraan mereka dan itu akan menyakitinya ,sayang....jadi mari kita pulang saja,menjauh dari orang - orang munafik seperti mereka.Kita akan menjalani hidup kita dengan bahagia." Jelas Rey pelan agar Vio tak mendengar percakapan mereka.
ini,Delia dan Rey memberi tanggung jawab sepenuhnya pada Ramon tapi apa yang terjadi Ramon menyakiti mereka. Tentu saja perbuatan Ramon itu membuat mereka begitu kecewa.??..
"Baiklah aku beres-beres dulu." Delia lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.
"Vi...bereskan pakaianmu kita akan kembali ke Indonesia." Perintah Delia sebelum ia berjalan menuju kamarnya.
"Iya kak " Jawab Vio lalu berdiri dari tempatnya meninggalkan Kenan yang sedang bermain mobil-mobilan .
Setelah semua barang-barang mereka masuk ke dalam koper mereka pun beranjak meninggalkan kamar hotel,Delia dan Vio serta Kenan terus berjalan ke parkiran dimana mobil mereka terparkir sedangkan Rey ke bagian resepsionis untuk cek out.
__ADS_1
"Kita tidak kerumah sakit dulu mas?" Ujar Delia saat mobil mulai melaju meninggalkan area parkir menuju bandara.
"Tidak usah,kita langsung ke bandara saja."
Delia tak lagi mendebat ucapan Rey,ia lalu menatap pemandangan sepanjang jalan yang mereka lewati melalui kaca mobil .
Hening tak ada lagi ?yang membuka percakapan sepanjang perjalanan mereka menuju bandara,mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mobil memasuki halaman bandara dan berhenti tepat di pintu masuk.Mereka keluar dari mobil dan mobil yang mereka tumpangi pun melaju pergi di bawa oleh sopir yang mengantar mereka.
Mereka menunggu di ruang tunggu setelah cek in ,menunggu informasi penerbangan mereka.
Delia duduk sambil mengelus lembut rambut Kenan yang tidur di pangkuannya,sedangkan Rey duduk di samping Delia sembari memainkan ponselnya bertukar pesan dengan Dion sang asisten. Dan Vio ia duduk berjarak dengan Rey dan Delia sambil menyandarkan kepalanya di dinding ,fikiran nya melayang entah kemana,tubuhnya ada di bersama Rey dan Delia tapi jiwanya jauh mengembara.
Ingatan nya mengembara jauh ke belakang, bayangan-bayangan hari-harinya bersama Ramon memenuhi fikirannya. Ingin marah tapi apa haknya,tapi kecewa tentu saja di rasakan nya , karena diam-diam ia telah menaruh hati pada pria yang selalu bersama nya seperti bayangan. Tapi sebuah fakta membuka matanya bahwa pria itu kini ternyata milik orang lain tanpa ia ketahui.Di bohongi tentu saja ia merasa di bohongi,meski firasat itu telah mengganggunya sejak mereka tiba di kota ini dan tinggal di apartemen Sophia. Kedekatan Ramon dan Sophia yang begitu intim tanpa jarak membuatnya menarik kesimpulan jika keduanya memiliki hubungan yang begitu dekat,tapi perasaan itu ia buang jauh-jauh karena Ramon tetap bersamanya dan tidak meninggalkan nya dan masih bersikap manis seperti biasanya,jika orang lain melihat kedekatan mereka mungkin orang itu akan salah mengira hubungan mereka,mungkin mereka akan berfikir jual Rey dan Vio adalah sepasang kekasih.
Tapi kenyataannya kini,Ramon bukanlah miliknya dia milik wanita lain.
"Kamu jahat Mon,kamu membencimu." Batin Vio di di barengi dengan jatuhnya butiran air yang tak mampu lagi di tampung oleh matanya.Menyadari itu Vio cepat - cepat menghapusnya agar Rey dan Delia tak melihatnya tapi tanpa ia sadari sejak tadi Rey dan Delia menatap ke arahnya.
"
__ADS_1