
Hari ini terlihat begitu mendung, bertanda hujan akan turun,Delia dan Revan sedang bersiap untuk keluar untuk melakukan aktivitas masing-masing.
"Hari ini aku akan pulang telat kak,mungkin agak malam." Ujar Revan saat mereka sedang berada di meja makan untuk sarapan.
"Kenapa,mau kemana kamu?" Tanya Delia yang duduk berhadapan dengan Revan.
"Ada acara penyambutan,pemilik perusahaan akan berkunjung ke kampus."
"Oh gitu,ya udah tapi usahakan jangan sampai malam."
Revan mengangguk sebagai jawaban.
Sebuah mobil mewah tengah terparkir di depan rumah Delia,Boy sang pemilik mobil pun turun dari mobil dan berjalan menuju teras rumah Delia.Rumah itu tidak begitu luas dengan cat berwarna putih menambah keindahan nya,di halaman juga terhampar rumput hijau serta bunga yang berjejer indah di dalam pagar yang berwarna putih, sederhana tapi sangat nyaman,di samping kiri kanan juga berjejer rumah - rumah dengan model yang sama.
"Kau....sepagi ini?" Ujar Delia saat ia membuka pintu dan melihat Boy tengah berdiri di depan pintu hendak menekan bel,tapi belum sempat menekan bel pintu sudah di buka oleh Delia.
"Hai...selamat pagi." Sapa Boy dengan senyum mengembang. Delia yang tadinya sempat terkejut kemudian membalas sapaan Boy dengan senyum indah yang membuat Boy semakin terpesona.
"Hhhmmm, kebetulan tadi aku lewat mau ke klinik,ya sekalian mampir untuk menjemput mu." Jelas Boy menjawab kebingungan Delia Karna melihat dirinya tiba-tiba berada di rumahnya sepagi ini.
"Oh .." Delia hanya beroria mendengar penuturan Boy.
"Kamu sudah mau berangkat,kalau begitu ikutlah denganku."
"Kak aku berang...." Ucapan Revan terhenti saat ia melihat Boy sedang berdiri di teras bersama Delia.
Revan berjalan menghampiri keduanya,lalu menatap mereka secara bergantian.
"Hai Revan..." Sapa Boy saat melihat Revan telah berdiri di belakang Delia.
Delia menoleh ke belakang melihat Revan dan benar saja Revan telah berdiri tepat di belakang nya.
"Hai pak..." Balas Revan dengan senyum agak di paksakan,entah mengapa ia begitu risih dan tak nyaman jika berhadapan dengan Boy, berbeda ketika ia berhadapan dengan Ramon dan Rey.
"Aku berangkat ya kak,nanti telat." Pamit Revan.
"Iya hati - hati."
Revan berjalan ke arah motor nya yang di parkir di depan rumah,ia lalu naik dan membalikkan motornya ke arah jalan raya,tapi sebelum melaju Revan melambaikan tangan ke arah Delia dan Boy di iringi senyum tipis lalu kembali melajukan motornya menuju jalan raya .
Delia menurunkan lambaian tangannya saat Revan sudah tak lagi terlihat dalam pandangan nya,ia kemudian menoleh ke arah Boy yang masih berdiri pada posisinya.
__ADS_1
" Jadi...mari kita berangkat." Ajak Boy dan di angguki oleh Delia.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil Boy yang terparkir di pinggir jalan.Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan melaju menuju klinik.
Sementara di tempat lain , tepatnya di kampus Revan,semua persiapan penyambutan untuk menyambut sang pemilik saham terbesar di kampus itu telah di persiapkan.
Semua dosen dan mahasiswa begitu sibuk termasuk Revan,Karna ini kali pertama nya ia akan bertemu dengan orang penting.
"Jhon....kamu kenal pemilik perusahaan X itu?" Tanya Revan di sela-sela dirinya sedang sibuk menyusun kursi yang akan di duduki para tamu nanti nya.
"Tidak....ini juga pertama kali nya aku melihatnya, katanya sih belia jarang berkunjung, biasanya hanya di wakili manager nya saja." Jelas Jhon salah satu teman Revan di kampus yang juga ikut mengambil beasiswa bersama nya.
"Tapi menurut info yang aku dapat,dia masih mudah dan belum menikah."Lanjut Jhon lagi.
Revan sejenak menghentikan pekerjaannya saat mendengar ucapan Jhon, pikirannya melayang jauh entah kemana,ada rasa bangga dan senang saat mendengar ucapan temannya itu.
"Hei....jangan melamun, selesaikan pekerjaan mu sebentar lagi acara akan segera di mulai."Tegur Jhon dan membuat Revan terkesiap lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Tak terasa waktu pun berlalu,semua penghuni kampus itu kini telah bersiap menunggu seorang tamu yang begitu spesial,terlihat semua dosen dan mahasiswa telah berada di tempat nya masing-masing,mereka kini sedang menunggu sang tamu .
sitttttttt.....sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di halaman parkir kampus itu dan beberapa mobil lainnya yang ikut di belakang mobil mewah itu pun berhenti di tempat yang sama,membuat semua orang yang berada di situ menoleh ke arah parkir di mana beberapa mobil telah terparkir disana.
Mata pria itu menyapu bersih setiap sudut kampus yang di penuhi mahasiswa yang sedang berkumpul,terlihat mereka begitu asyik mengobrol sambil bercanda.
"Selamat datang tuan..."Sapa seorang pria paruh baya yang sekaligus adalah rektor universitas itu,dengan ramah dan sedikit membungkuk pria tua itu menyambut kedatangan tamu spesial mereka .
" Suatu kehormatan untuk kampus kami Karna tuan dengan berbesar hati mau berkunjung ke kampus kami." Lanjut rektor itu sambil berjalan mengikuti langkah tamu spesial nya.Mereka berjalan beriringan menuju panggung yang telah di sediakan untuk memperkenalkan nya pada mahasiswa dan dosen yang belum pernah bertemu dengannya,Karna selama ini hanya bawahannya yang selalu berkunjung atas perintah nya.
"Silahkan duduk tuan." Ucap sang rektor mempersilahkan nya untuk duduk di kursi yang telah di sediakan khusus untuknya.Dan acara pun segera di mulai..
"Dan mari kita sambut, tamu spesial kita hari ini sekaligus pemilik saham terbesar di kampus kita dan juga pemilik perusahaan X yang telah bekerja sama dengan pihak universitas untuk merekrut mahasiswa yang berprestasi melalui beasiswa untuk nantinya di ajak bekerjasama dengan perusahaan X . Dan mari kita sambut tuan Reyhan Pratama." Seru seorang pembawa acara yang membawakan acara hari ini.
Deg ....
Revan seakan familiar mendengar nama itu,ia yang tadi berkumpul bersama temannya di bagian tengah,perlahan melangkah kedepan untuk memastikan rasa penasaran nya,dan betapa terkejutnya dia saat mendapati orang yang begitu ia kenal bahkan sangat dekat dengannya ternyata adalah orang yang sangat penting dan berpengaruh.Revan mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan apa yang sedang ia lihat.
"Kakak ipar." Lirih Revan dengan tubuh yang masih syok . Ia tak habis pikir ternyata kakak iparnya itu adalah orang yang hebat,jika saja teman-temannya tahu hubungan dirinya dengan Rey bisa heboh satu kampus ini.Revan masih menatap tak percaya ke arah panggung di mana Rey sedang berdiri berpidato, matanya mengarah ke depan dimana semua mahasiswa sedang berdiri mendengar kan pidato nya dengan antusias,namun Rey hampir saja tersedak dengan kata-katanya saat matanya tak sengaja menangkap sesosok laki-laki yang berdiri di tengah-tengah kerumunan mahasiswa, seketika mata mereka bertemu.Untung saja Rey dengan cepat menguasai dirinya kembali dan melanjutkan pidato nya tapi matanya tetap mengarah ke arah Revan yang juga masih menatap nya hinnga pidato nya berakhir.
Setelah melakukan rangkaian acara akhirnya semua nya telah selesai,Revan yang sedang berjalan menuju kantin seorang diri hampir saja terjungkal akibat di kejutkan oleh kedatangan seseorang yang entah darimana tiba-tiba berada di depannya.
"Hach....Ka...kak Rey." Ucap Revan saat menyadari Rey telah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Hhhhmmmm kamu kuliah di sini rupanya." Ucap Rey .
"Kenapa tidak memberitahu ku,kalau kamu kuliah di sini." Lanjut Rey lagi sambil merangkul pundak Revan dan berjslan menuju kantin.Semua mahasiswa yang melihat Revan sedang di rangkul oleh orang besar seperti Rey pun begitu penasaran akan hubungan mereka .
"Hheeee mana aku tahu kalau kakak adalah pemilik universitas ini,kalau aku tahu aku kan tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa." Ujar Revan sambil cengengesan saat melihat tatapan tajam Rey padanya.
"Peace." Lanjut Revan lagi.
Rey tersenyum tipis saat melihat tingkah Revan,ia pun kembali teringat akan Delia istrinya,sudah begitu lama sejak kejadian di apartemen itu dia tak lagi melihat atau mengobrol dengan Delia .
"Aku akan ceritakan pada kakak nanti kalau ternyata kak Rey adal..."
"Jangan memberitahu kan apapun padanya." Potong Rey.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan beritahu,kalau kamu beritahu aku cabut beasiswa mu." Ancam Rey yang membuat Revan bungkam seketika, ternyata kakak iparnya ini menakutkan juga, pikir Revan.
"Tadi kak Delia di jemput oleh pak Boy." Ujar Revan sambil mengunyah cemilan yang sudah tersedia di meja.
"Apa..." Rey memukul meja begitu keras hingga membuat semua orang menoleh padanya.
"Apa yang kalian lihat?" Bentak Rey pada semua orang yang menoleh padanya dan membuat mereka seketika kembali fokus pada meja mereka masing-masing,Revan merasa bulu kuduknya mulai merinding saat melihat gurat amarah di wajah kakak iparnya.
"Kenapa membiarkan mereka pergi, bukankah aku menyuruhmu untuk mengawasi Delia." Ucap Rey dingin.
"Maaf kak,tadi aku buru- buru,Karna penasaran ingin bertemu tamu istimewa itu,kalau tahu ternyata tamu istimewa itu ternyata adalah kakak saya tidak perlu buru-buru tadi."
pletak...sebuah jitakan mendarat di kepala Revan,Rey terlihat kesal saat mendengar ucapan adik istrinya ini,yang secara tidak langsung menganggap nya tidak penting.
"Aku cabut beasiswa mu,baru tahu kamu."
"Hach...jangan kak,aku cuma bercanda kok.Aku janji deh,akan jadi mata-mata kakak,tenang saja."
"Bukan hanya menjadi mata-mata,tapi tugasmu, menjauhkan Delia dari pria bernama Boy itu."
"Kenapa?"
Revan merinding sendiri saat Rey menatap tajam ke arah nya, tatapan nya itu seakan menembus jantung Revan saking tajam dan dingin nya.
"Iya,baiklah." Ucap Revan dengan takut -takut.
__ADS_1