
Di kamar hotel tempat Rey dan Delia menginap. Rey sedang terduduk melamun di balkon kamar,memandang langit yang bertabur bintang,angannya melayang jauh kebelakang saat ia selalu menghabiskan waktu bersama Rosa,ya Rosa begitu dekat dengannya itu,karena sejak di tinggal orang tuanya Rey lah yamg berperan menggantikan sosok ayah untuknya.Apa pun yang di minta sang ponakan Rey selalu mengabulkannya.Tapi sejak rahasia besar ayahnya terkuak hubungan itu pun merenggang.
"Mas." Sapa Delia sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rey.
"Rey lalu menoleh ke arah Delia yang duduk di sampingnya,lalu Tersenyum tipis dan mencium kening Delia sebentar.
Delia lalu menyandarkan kepalanya di dada Rey, ia dapat mencium bau parfum khas sang suami bau parfum yang menjadi favorit nya .
"Katakan saja." Ucap Rey sembari memeluk sang istri dari samping lalu mengelus lembut rambut panjang Delia.
Rey sudah hafal betul kelakuan sang istri jika ia sedang bermanja-manja padanya seperti saat ini.
Delia mendongak memandang wajah Rey,lalu kembali menatap ke arah balkon .
" Berdamailah dengan papa mas." Lirih Delia masih dengan posisinya.
Rey menunduk menatap wajah istrinya , ia mengerutkan kedua alisnya.
"Aku belum siap untuk melupakan b gitu saja perbuatan papa pada orang tuan ku. Aku begitu kecewa padanya...andai kan yang melakukan itu orang lain mungkin aku tidak akan sekecewa dan sesakit ini,tapi yang melakukan perbuatan keji itu adalah orang yang begitu dekat denganku, orang yang aku panggil ayah,orang yang begitu aku hormati.Katakan padaku bagaimana bisa aku memaafkannya,sedangkan dia sendiri tidak pernah merasa bersalah akan dosa nya.Lihatlah perlakuan nya pada kita,seolah di matanya kitalah yang melakukan kesalahan besar padanya." Jelas Rey dengan pandangan mengarah pada p katanya malam kota Hamburg.
Deli terdiam mendengar curahan hati sang suami,ia pun bisa merasakan hal yang sama dan bahkan jika dia berada di posisi Rey mungkin dia tidak akan bisa menerima kenyataan itu. Dikecewakan dan di khianati oleh orang yang paling di sayangi dan di hormati adalah pukulan terberat dalam kehidupan seseorang.Ya Delia paham itu,tapi mau sampai kapan api kebencian itu berkibar dan membuat bentangan yang sangat jauh.
Delia pun tak bisa memaksakan Rey untuk menerima dan memaafkan perbuatan ayah mertuanya itu.
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi,mari kita menjalani hidup kita sendiri,aku sudah cukup bahagia hidup dengan mu dan putra kita apalagi yang aku butuhkan,aku hanya membutuhkanmu dan Kenan untuk bersamaku ,mendampingiku selama nya."
Delia semakin mengeratkan pelukannya pada Rey .dan Rey pun membalasnya takkalah eratnya.
__ADS_1
"Ayo masuk,disini dingin dan juga sudah sangat larut." Ajak Rey lalu melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Delia dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang telah lelah seharian.
"Kak Delia,kak Rey buka pintunya." Teriak Vio dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar hotel milik Rey.
Samar-samar Delia mendengar suara teriaknan dan gedoran pintu yang bertubi-tubi,ia lalu mengucek matanya perlahan sambil menajamkan telinganya untuk mendengar suara teriakan dari luar di sertai gedoran pintu.Delia lalu mengambil ponselnya yang berada di atas meja kecil samping tempat tidur,ia lalu melihat jam yang tertera di layar ponselnya yang menunjukkan pukul dua tiga puluh dini hari
"Kakak bangun,buka pintunya." Teriak Vio lagi karena berkali -kali ia berteriak sambil menggedor pintu tapi tak juga kunjung ada yang membuka pintu.
""Ngapain sih anak itu teriak-teriak." Gerutu Delia sbil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
"Kenapa sih kamu teriak-teriak seperti orang gila,gak lihat jam kamu." Omel Delia sambil melioat kedua tangannya di dada sembari bersandar pada daun pintu.
"Kita kerumah sakit sekarang." Ajak Vio sedikit panik dengan nafas memburu.
"Rosa baik-baik saja?" Delia pun ikut panik saat Vio mengajaknya kerumah sakit di jam dini hari ini.
"Aku tidak tahu ,tapi Ramon mengutuk kita untuk segera ke rumah sakit sekarang."
"Mas bangun,mas Rey bangun mas." Panggil Delia sambil menggoyang-goyang kan tubuh Rey.
"Kenap sih sayang aku masih ngantuk." Ucap Rey masih dengan mata yang tertutup.
"Kita kerumah sakit sekarang."
Rey yang tadi sangat mengantuk tiba-tibaembuka matanya ,rasa kantuk nya menghilang seketika saat mendengar kata rumah sakit. Rey lalu duduk dengan muka bantalnya.
"Rosa jam berapa sekarang?*" Tanya Rey sedikit panik.
__ADS_1
"Dua tiga puluh." Balas Delia sbil berganti pakaian dan bersiap-siap.
"Ros baik-baik saja?"
"Tidak tahu tapi Ramon menyuruh kit kerah sakit sekarang,kamu bersiaplah aku menunggu di luar bersama Vio dan Kenan." Delia lalu beranjak keluar dari kamar menuju ruang tamu ,sedangkan Rey masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan wajahnya yang terlihat masih menahan kantuk.
Tidakbutuhkan waktu yang lama untuk tiba di rumah sakit , karena jarak hotel tempat nya menginap dengan rumah sakit tidak begitu jauh.
Mereka pun berlari menuju ruang ICU dimana Rosa dirawat, sesampainya di di depan ruang ICU mereka melihat orang tua mereka sudah berada di sana dengan wajah penuh dengan kecemasan,bahkan ibu Rey terlihat begitu terguncang dan terisak di dalam pelukan sang suami.
"Kalian." Ucap Ibu Rey saat melihat kedatangan putra dan menantu nya itu.
Ia lalu melepaskan tangan suaminya yang sedang memegang punggungnya dan berjalan menghampiri Rey dan Delia yang berdiri tak jauh dari nya.
Ibu Rey lalu menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Rey,di bahu sang putra lah ia mengeluarkan segala kesedihan dan segala kegundahan hatinya,ibu terisak pilu di bahu Rey seakan mengeluarkan semua beban pikiran yang selama ini menghujaninya.
"Rosa...Rey...Rosa...." Lirih ibu Rey masih dalam pelukan sang putra.
Ibu Rey lalu melerai pelukannya.Ia lalu menatap putranya itu dengan wajah sembab.
"Apa yang terjadi Ma?" Tanya Rey.
"Entahlah tapi tiba-tiba salah satu perawat menelfon tadi dan menyuruh kami kerumah sakit,dokter masih ada di dalam,Ramon juga ada di dalam.Mama takut Rey."
Rey hanya terdiam sambil mengusap wajahnya,ia pun tak kalah cemas dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak di harapkan terjadi.
Sedangkan ayah Rey pun merasakan hal yang sa dengan apa yang di rasakan istrinya tapi ia menutupinya agar tak ada yang melihat nya.Ayah Rey menyandarkan tubuhnya di tembok dengan kepala sedikit tertunduk.
__ADS_1
wajshnya
W