
"Aku bahkan tidak berniat menjadi istrimu,siapa yang mengisinkanmu menikahiku,hach....?"
" Aku tidak perlu izin siapapun untuk menikah."
"Aku tidak akan menerima pernikahan ini."
"Terima atau tidak faktanya kamu adalah istriku dan aku suami mu ."
Delia memutar bola matanya malas,percuma saja berdebat dengan pria ini ujungnya pasti ia akan kalah.
"Bagaimana dengan tunanganmu dan keluarga mu,mereka pasti akan sangat marah." ujar Delia lagi namun kali ini dengan suara yang tak lagi meninggi tapi lembut .
Rey menghela nafas berat,ia kemudian kembali menatap Delia dengan penuh kelembutan dan cinta,apa pun yang akan terjadi ia akan menghadapi nya,Delia adalah wanita yang di cintainya dari dulu,Rey tidak akan peduli jika hubungan nya dengan Delia mendapatkan banyak penolakan dari orang - orang sekitarnya,kali ini ia tidak akan mengalah mengorbankan kebahagiaan dan keinginannya demi kebahagiaan keluarga, kali ini ia akan egois memilih kebahagiaan nya sendiri meski akan banyak orang yang akan terluka dengan pilihannya .
"Jangan memikirkan itu,aku akan membereskan semuanya,yang kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana membahagiakan suami mu ini,dan......."
Rey menjeda ucapannya dan menaik turunkan alisnya menggoda Delia.
Delia tiba-tiba saja merinding mendengar ucapan pria yang sudah berubah status menjadi suaminya itu,tentu saja ia paham arah pembicaraan Rey.
" Bagaimana kamu sudah siap menjalankan kewajiban mu,dirumah sakit ini juga tidak masalah untukku."
..." Janga harap kamu." kesal Delia namun wajahnya berubah merah seperti buah ceri....
" Tapi wajahmu terlihat tidak menolak nya."Sambung Rey lagi sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Delia melongo dengan mulut sedikit terbuka.
" Jangan menatapku seperti itu,atau kamu ingin mencobanya sekarang." Rey membuka kancing kemejanya bagian atas tanpa melepaskan tatapan nya dari Delia,ia begitu gemas melihat istrinya yang salah tingkah dengan wajah memerahnya.
Buk...buk...
__ADS_1
Delia memukul kepala Rey menggunakan bantal.
" Rasakan itu ...." Ledek Delia dan tanpa sadar tersenyum, hati Rey terasa begitu bahagia melihat senyum yang terbit dari wanita yang telah berhasil mengisi seluruh hati dan fikirannya.
" Bersiaplah , besok kita akan ke apartemen." Ucap Rey sembari melangkah ke arah sofa untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang seharian ini telah lelah bekerja.
" Apartemen.....?" Beo Delia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang tempatnya berbaring.
" Untuk apa...?" Tanya nya lagi.
Rey yang hampir terlelap tiba-tiba saja mengerjapkan kembali ke dua matanya,lelahnya seketika hilang akibat pertanyaan konyol istri nya.
" Untuk memakanmu..." balas asal Rey yang membuat fikiran Delia traveling kemana-mana.
" Buang fikiran kotormu itu ,atau kamu menginginkan nya,kalau aku sih yes."
" Fikiranmu yang terlalu kotor,dasar mesum." sebal Delia
" Benarkah.....?" Rey berdiri dari duduknya ,,ia tersenyum penuh misteri yang membuat tubuh Delia bergetar hebat,ia kemudian melangkah kearah dimana Delia berada.
" Jangan mendekat." Seru Delia saat kaki Rey ingin melangkah meninggalkan tempatnya,namun bukannya mendengar ucapan Delia,Rey semakin memantapkan langkahnya,ada kebahagiaan tersendiri yang di rasakan nya saat membuat wanitanya kesal bercampur malu , sejak mengenal Delia Rey merasa hidupnya menjadi berwarna tidak seperti hidupnya dulu yang monoton,dulu ia hanya melakukan apa yang di katakan sang aya,tapi sekarang ia mulai melawan sang ayah terbukti dengan menikahi Delia secara dadakan,dan keputusan itu pasti akan membuat sang ayah murka,namun kali ini ia tidak peduli.Kali ini ia hanya memikirkan kebahagiaan nya saja,apakah itu salah?
...----------------...
Sementara di bagian negara lain tepatnya di Indonesia, seseorang terlihat begitu murka ,semua barang yang berada di ruangan itu berserakan tak bersisa , ia begitu murka karna orang suruhannya hilang kontak dengannya ,ia kini kehilangan jejak orang yang di mata-matai nya.
"Aku ingin tahu kemana mereka,bahkan rumah sakit tempat mereka berada pun kini sulit di masuki,hach....brengsek bagaimana pun caranya aku akan membuat perhitungan padanya ." Sengit seseorang itu penuh amarah dan kebencian.
"Tenanglah aku sudah menyuruh orang-orang ku untuk melacak keberadaan mereka , tunggu saja hasilnya."
__ADS_1
"Kamu bilang tenang hach, aku bahkan sulit bernafas sebelum tahu keberadaan mereka,lakukan apa pun dan dengan cara apa pun."
" Sabarlah sayang , semua akan terjadi sesuai keinginan mu ." Senyum licik dan penuh misteri tergambar dari wajah seseorang yang berada di ruangan 4×4 itu,ia kemudian memeluk wanita yang tadi begitu marah padanya.
......................
Kembali ke Singapura
Delia dan Rey kini sudah berada di apartemen setelah mereka melewati berbagai perdebatan sengit yang tentu saja di menangkan oleh tuan muda yang tampan nan arogan dan juga karismatik itu.
Sejak berada di apartemen baik Rey mau pun Delia masih sering berdebat meski pada akhirnya Delia lah yang terus mengalah karna meladeni Rey akan membuat tenaga dan suaranya habis dengan percuma,dari kecil Rey memang selalu mendapat kan keinginannya,dan kali ini seumur hidupnya ini kali pertamanya semua perkataan dan tindakan nya tidak di turuti seseorang bahkan berani mendebatnya,Rey yang telah terbiasa membuat orang lain patuh dan tunduk padanya kini tertantang dengan istrinya sendiri yang menurutnya pembangkang selalu saja membuatnya kesal sekaligus gemas sendiri.
Jika dulu ia akan murka jika ada orang yang berani membantahnya atau melawan setiap ucapannya maka bisa di pastikan esok orang itu akan kehilangan suara bahkan nyawanya,Rey adalah pria berdarah dingin meski orang - orang yang mengenal nya sebagai pria yang tampan dan sukses yang selalu berkata lembut meski bersikap dingin,tapi di balik semua itu ia adalah monster yang tertidur,jiwa monster akan bangun jika ada yang berani mengusik ketenangan nya seperti saat itu ada yang telah berani mencelakai istrinya.
Tring.....tring.....
Dering telfon memecah keheningan di meja makan saat Rey dan Delia sedang bersantap siang .
" katakan...." Ucap. Rey saat ia menerima panggilan dari si penelpon,ia kemudian melirik kearah sang istri yang sedang asyik mengunyah makan siangnya tak peduli dengan siapa Rey berbicara menurutnya itu adalah privasi sang suami yang tak pantas Delia ikut campur .
"Baiklah...". Ucap Rey lagi saat mendapat kabar dari orang yang menelfonnya ia kemudian mematikan ponselnya saat pembicaraan mereka di rasa sudah cukup .
" Mau kemana..? Tanya Rey saat Delia beranjak dari kursinya.
Delia menunjuk piring yang di pegangnya dengan mengarahkan matanya pada benda yang berada di tangannya.
" Duduk ..." Perintah Rey yang tak terbantahkan.
Delia yang kesal dengan tingkah Rey ,mau tidak mau terpaksa menurut,bukan karna takut tapi malas berdebat,setelah menjadi istri Rey dan tinggal bersama dengan laki -laki yang kini duduk menghabiskan makanannya di depannya itu,sedikit banyak ia mulai mengenal dan memahami sifat dan karakter suaminya.
__ADS_1