Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 119


__ADS_3

"Lagi mikirin apa mas?" Tanya Delia sambil memeluk tubuh Rey dari belakang yang sedang berdiri menatap bintang di langit di balkon kamar mereka.Rey tersenyum lalu mengelus lembut tangan Delia yang melingkar di pinggangnya,Delia menyandarkan kepalanya di bahu belakang suaminya.


Delia menyadari jika suaminya itu kini tengah di Liputi rasa rindu pada ibunya,tapi Delia tak ingin membahasnya,ia tidak ingin suaminya itu merasa bad mood biarlah Rey mendalami perasaannya sendiri,semoga saja hatinya tergerak untuk memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tuanya.


"Mas..." Panggil Delia lembut masih dengan posisinya,Rey lalu melepas tangan Delia yang melingkar di pinggangnya lalu membawa tubuh Delia ke depan dan melingkarkan kedua tangannya di bahu sang istri,tercium wangi shampo di rambut Delia,karna hidung Rey tepat di atas kepala Delia.


"Ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Rey,ada rasa nyaman dan damai yang dirasakan nya saat bersama dengan istrinya.


"Sedari tadi aku melihat mu termenung,apa ada yang mengganggu fikiranmu?"


Rey mengecup pucuk kepala Delia,istrinya itu selalu bisa menebak isi hatinya tanpa ia harus berbicara.


"Kamu merindukannya?" Tanya Delia lagi karna sedari tadi suaminya itu hanya diam tak menjawab segala pertanyaan nya.


"Besok ulang tahun mama." Ucap Rey ,matanya mulai berembun,hatinya akan begitu lemah jika menyangkut dengan wanita yang membesarkannya itu,hanya dua wanita yang membuatnya tak berkutik ibunya dan istrinya.


Tapi kini ia harus menahan segala kerinduan nya pada sang ibu.


Delia memutar tubuhnya menghadap ke Rey, jarak mereka begitu sangat dekat hingga Delia bisa merasakan hembusan nafas dari suaminya.Delia lalu menatap kedua bola mata Rey yang terlihat sangat jelas binar kerinduan dan kesedihan.


"Tidak ingin menemuinya?"


"Tidak."


Delia menghela nafas berat,walau mulut suaminya mengatakan tidak tapi hatinya berkata lain dan itu terlihat sangat jelas di matanya.


Sejenak mereka terdiam,menikmati keindahan malam yang berhiaskan bintang di langit,dengan semilir hembusan angin,Rey memeluk Delia agar istrinya itu tak merasa kedinginan.Delia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami ,ia dapat mendengar dengan jelas detak jantung Rey sebuah detakan yang mungkin memiliki arti tersendiri bagi Rey.


"Kapan kita berangkat ke Surabaya?" Tanya Delia mengalihkan obrolan mereka,ia tak ingin Rey terus-terusan di selimuti kesedihan yang ia simpan sendiri.


"Terserah kamu saja,kapan pun kamu ingin,tapi lihat kondisi mu juga,karna ada malaikat kecil di dalam sini." Rey mengelus pelan perut Delia,jauh dari lubuk hatinya ia ingin sekali berbagi kabar bahagia ini pada sang ibu, tempatnya berbagi perasaan,segala suka dukanya ia selalu membaginya dengan ibunya.


"Bagaimana kalau dua hari lagi? Sebelum Vio dan Revan kembali ke Jerman." Ujar Delia,ya semenjak kepulangan Vio dan Revan mereka berencana ingin kembali ke Surabaya untuk mengunjungi makam kedua orang tua mereka.


"Terserah kamu saja, ayo masuk ini sudah larut malam, kita istirahat." Ujar Rey lalu menggandeng tangan istrinya dan menuntunnya masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


*


*


*


Sejak pertemuan Vio dan ibu Rey di rumah sakit , mereka semakin sering mengobrol melalui ponsel setelah mereka bertukar nomor,dan hal itu membuat ibu Rey sedikit melupakan segala masalah yang menimpa keluarganya, seperti hari ini mereka sedang sepakat untuk bertemu di salah satu pusat perbelanjaan.


"Mau kemana kamu?" Tanya Delia saat melihat Vio yang berpenampilan seolah akan bepergian.

__ADS_1


"Ini kak,mau keluar bentar mau ketemu sama ibu yang tempo hari di rumah sakit itu." Jawab Vio sambil duduk di samping Delia.


"Kakak tidak kerja?"Tanya Vio saat menyadari penampilan kakaknya itu biasa saja, hanya menggunakan dress rumahan di bawah lutut.


"Tidak,aku masih sedikit pusing dan mual,mas Rey melarang ku masuk kerja."


"Sebaiknya begitu kak,tunggu sampai kakak stabil dulu baru bisa kerja lagi."


"Iya."


"Kak aku keluar bentar ya,boleh?"


"Ya sudah hati-hati kamu,baiknya kamu di antar sopir saja,Revan ngga ada ,dia ikut dengan mas Rey ke kantor."


"Oke bos." Ucap Vio sambil memberi hormat pada sang kakak,ia pun kemudian beranjak pergi dengan di temani sopir yang bekerja bersama Rey dan Delia.


Tak butuh waktu yang lama untuk tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta,Vio keluar dari mobil setelah menelfon ibu Rey jika dirinya telah tiba dan ternyata ibu Rey sudah berada di sebuah kedai makan yang berada di dalam pusat perbelanjaan itu.


Vio memasuki mall dan langsung menuju tempat dimana ibu Rey sedang menunggunya.


"Hai ..." Sapa ibu Rey sambil melambaikan tangannya saat melihat Vio sedang sibuk mencari dirinya .Vio yang melihat lambaian tangan ibu Rey tersenyum lalu berjalan menghampiri meja dimana ibu Rey sedang duduk menunggu nya.


"Maaf Bu,aku membuat mu menunggu." Ujar Vio saat berada di dekat ibu Rey lalu menarik kursi di depan ibu Rey.


"Tidak apa-apa,lagian saya juga baru tiba." Ujar ibu Rey di iringi senyum bahagia.Ia seolah terhibur dengan adanya Vio .


"Sabarlah Bu,suatu hari nanti ibu akan merasakan nya,dan saat itu tiba ibu adalah orang yang paling bahagia." Ucap Vio mencoba menghibur ibu Rey agar tak larut dalam kesedihannya.


Keduanya terdiam saat seorang pelayan membawakan pesanan yang telah di pesan keduanya,sebelum Vio tiba ibu Rey telah memesan beberapa menu dan minuman.


"Jadi kapan kamu kembali ke Jerman?" Tanya ibu Rey sambil meminum minuman yang di pesannya tadi.


"Tiga hari lagi Bu,besok rencananya kami sekeluarga ingin ke Surabaya dulu setelah itu baru berangkat ke Jerman."


"Wah pasti sangat menyenangkan pergi bersama keluarga,ibu juga menginginkan hal itu, ngapain kalian ke Surabaya?"


"Berkunjung ke makam kedua orang tua kami." Ucap Vio,matanya tiba-tiba meneteskan air mata saat teringat kedua orang tua nya,jika ibu Rey begitu merindukan putranya maka Vio pun begitu merindukan kedua orang tuanya,dimana hingga akhir hayat kedua orang tua nya Vio tak sempat melihat mereka, tiba-tiba bayangan kebakaran itu merasuki pikiran nya,trauma Vio perlahan muncul namun sebisa mungkin Vio melawan rasa trauma itu agar kesehatan mentalnya tak lagi terganggu.Ya rasa trauma itu adalah salah satu penyebab Vio koma,hingga ia bangun dari komanya rasa trauma itu masih bersarang dalam dirinya,ia bahkan harus di tangani oleh psikolog di Jerman agar ia bisa mengendalikan traumanya itu.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya ibu Rey yang terlihat cemas saat melihat perubahan pada diri Vio dan dahinya mulai berkeringat.


Vio mengambil nafas lalu membuang nya perlahan,untunglah ia selalu berhasil mengendalikan rasa traumanya jika saja muncul secara tiba-tiba.


"Iya saya baik-baik saja Bu."


Ibu Rey bernafas lega." Bagaimana kalau kita berbelanja saja,biar ibu yang traktir." Ajak ibu Rey lalu berdiri dari duduknya,Vio pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah ibu Rey yang terlebih dahulu berjalan.

__ADS_1


Keduanya pun mulai berkeliling mall,saat melewati sebuah toko jam tangan langkah ibu Rey terhenti,Vio yang melihat ibu Rey menghentikan langkahnya pun ikut berhenti dan menatap ke arah toko yang di tatap oleh ibu Rey.


"Toko jam itu adalah langganan Rey.Semua jam miliknya di beli di toko itu." Tunjuk ibu Rey ke toko jam tangan yang saat itu terlihat ramai oleh pengunjung.


Sedangkan Vio sedikit terpaku saat mendengar ibu Rey menyebut nama Rey.Nama kakak iparnya,apakah sebuah kebetulan nama mereka yang sama ataukah...? Vio mulai curiga namun ia tak menampakkan kecurigaan nya itu pada ibu Rey.


"Putra ibu nama nya Rey?" Tanya Vio,ia ingin memastikan apakah ia salah dengar atau tidak.


"Reyhan Pratama."


Deg....


Dunia Vio seolah berputar saat mendengar nama yang sama persis dengan nama kakak iparnya.Kini ia yakin jika wanita paruh baya yang kini bersama nya adalah ibu Rey.Vio yang sudah tahu permasalahan keluarga kakak iparnya itu kini semakin memahaminya,ia akan melakukan sesuatu tapi sebelum itu ia ingin melihat respon dari sang kakak.


"Ayo." Ajak ibu Rey sambil menggandeng tangan Vio.


Setelah seharian menghabiskan waktu di mall keduanya pun berpisah di area parkir dan menuju mobil masing-masing.


Vio berjalan menuju mobilnya sambil menentang beberapa paper bag yang di belanja kan oleh ibu Rey,Vio sempat menolak tapi ibu Rey memaksa sebagai hadiah katanya.


Malam telah tiba,semua penghuni mansion itu baru saja selesai makan malam.Vio dan Delia tengah duduk di ruang televisi untuk menonton acara televisi,sedangkan Rey masuk ke ruang kerjanya dan Revan tengah sibuk menatap layar laptopnya untuk menyelesaikan tugas akhirnya di kampus.


"Kakak." Panggil Vio pelan, sebenarnya ia pun bingung saat ingin memulai ceritanya darimana.


"Ya." Jawab Delia tapi tatapannya tak lepas dari layar televisi.


"Bagaimana kalau kita berkunjung kerumah mertua kakak?"


Deg....


Delia menoleh ke arah Vio yang duduk di sampingnya.


"Maksudmu?"


"Maksudku kakak belum pernah membawa kami bertemu dengan mertua kakak,kita tinggal di kota yang sama lalu kenapa seperti nya kita begitu jauh padahal....."


"Jangan membahas nya di sini Vio." Potong Delia.


"Tapi kak?"


"Vio...kakak sudah katakan pada kalian jangan pernah membahas mereka di rumah ini,jika mas Rey mendengar nya itu akan menyakiti nya."


"Tapi sampai kapan kalian seperti ini,kenapa tidak mencobanya du..."


"Vio..." Bentak Delia dengan sedikit meninggikan suara nya,Vio pun terkejut dengan respon yang di berikan oleh kakaknya itu.

__ADS_1


"Jangan membicarakan apapun perihal keluarga nya,jika mas Rey mendengar nya itu akan sangat menyakiti nya."" Delia lalu beranjak meninggalkan Vio sendirian.Sedsngkan Vio hanya terdiam melihat langkah kaki Delia yang menjauh dan memasuki lift.


"Vio tidak akan diam saja kak,aku akan melakukan sesuatu untukmu dan kakak ipar.Aku tahu walau mulut kalian tak pernah menyebut namanya tapi jauh di dasar hati kalian,kalian begitu merindukan nya." Bathin Vio dan setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya.


__ADS_2