
Rey berjalan keluar dari kamar keadaan yang sudah rapi dan wangi,ia memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Delia di atas tempat tidur saat dirinya berada di kamar mandi.Rey memakai pakaiannya sambil bersiul penuh kebahagiaan,setelah terlihat rapi Rey melangkah keluar untuk menyusul sang istri,saat membuka pintu kamar wangi masakan sudah tercium dengan langkah gontai Rey berjalan pelan agar langkahnya tak di dengar oleh Delia yang sedang berkutat di dapur.
"Wangi dan pasti sangat lezat." Ujar Rey sambil memeluk istrinya dari belakang lalu mencium ceruk leher Delia yang membuat Delia merasa geli sekaligus berdebar, jantungnya seakan ingin melompat keluar akibat perlakuan Rey.
"Lagi masak apa,?hheemmmm." Lanjut Rey masih dengan posisi yang sama.
Delia yang merasa pergerakan nya terbatas akibat pelukan suaminya itu hanya tersenyum tipis.
"Nasi goreng,kamu suka?" Balas Delia sambil mengaduk nasi goreng yang ada di wajan.
"Lepas dulu Rey aku susah geraknya." Ujar Delia ia protes karna pelukan Rey membuat ruang geraknya terbatas.
Cup..Rey mengecup pipi Delia lalu melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah meja makan ,ia menarik kursi lalu menduduki nya.
Sementara Delia yang mendapat serangan tiba-tiba itu seketika tubuhnya menegang dengan wajah yang merah merona.
" Mau sampai kapan kamu berdiri di situ,perut ku sudah lapar." Seru Rey menggoda,dengan di selingi senyum sumringah,ia tahu saat ini wajah Delia pasti sangat merah merona dan malu akibat perbuatan nya pada sang istri.
" Iya...bentar.." Delia yang tersadar dari keterkejutan nya ,segera mengambil dua piring lalu mengisinya dengan nasi goreng buatannya,lalu membawa kedua piring itu ke meja makan dimana Rey sudah menunggunya disana,dengan sedikit gugup dan malu Delia meletakkan kedua piring itu,piring yang satu di letakkan tepat di depan Rey yang tengah duduk di kursi,dan yang satunya di letakkan di bagian lain di hadapan Rey tepat di kursi yang masih kosong.
" Makasih,sayang." Ucap Rey lalu mengambil sendok dan menyantap nasi goreng yang ada di hadapannya.
Delia yang tadinya berjalan kembali ke arah dapur untuk mengambil kopi untuknya dan suaminya itu seketika menghentikan langkahnya,lalu menoleh ke arah suaminya yang tengah asyik dengan santapannya,Delia menggeleng pelan lalu tersenyum tipis ada kebahagiaan tersendiri yang di rasakan olehnya saat suaminya itu memanggilnya dengan sebutan sayang,ia lalu melanjutkan langkahnya mengambil kopi panas yang sudah di buatnya tadi.
Delia menarik kursi di hadapan Rey lalu mendudukinya,setelah meletakkan kopi panas untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri lalu melahap sendiri sarapannya.
" Hari ini kamu tidak usah ke rumah sakit." Ujar Rey saat menyantap suapan terakhir nya.
__ADS_1
Delia yang mendengar ucapan Rey seketika mendongak dengan mulut ternganga dan sendok yang masih menggantung di udara karna belum sempat Delia memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Kenapa?" Tanya Delia sambil meletakkan sendok nya di atas piring yang masih berisi sebagian nasi goreng,nafsu makannya tiba-tiba menghilang.
" Hari ini pekerjaan ku begitu banyak,aku harus menangani pasienku secara langsung,dan...."
" Aku sudah memberikan dokter lain semua pekerjaan mu seminggu kedepan." Potong Rey.
" Hach...tapi aku ada per...."
Delia yang melihat tatapan menghunus Rey seketika menghentikan ucapannya saat ia menyadari perubahan pada suaminya itu,ia hapal betul jika tatapan mematikan itu di keluarkan suaminya berarti itu tandanya ucapan dan perintahnya tak boleh di di bantah apalagi di tolak ,segala keputusan nya adalah final.
Delia memasang wajah cemberut nya Karana Rey sudah mulai mengatur pekerjaan nya.
" Aku butuh penjelasan." Lirih Delia ia masih belum bisa menerima begitu saja jika dirinya di suruh absen kerja apalagi pekerjaan nya untuk mengobati banyak anak.
Sementara Rey belum bisa berkata jujur jika keberadaan mereka mulai terendus dan sudah beberapa orang suruhan papanya atau pun Mona yang sering mengikuti Delia,informasi ini ia dapatkan dari pengawalnya yang mengawasi Delia dari jauh.
"Ikuti saja apa kata ku,kali ini menurutlah." Rey menarik tangan Delia lalu mencium jemari nya,Delia menatap sorot mata Rey ,dan ia menemukan sorot ke khawatiran dan sedikit ketakutan di mata suaminya itu,terlihat ada beban yang mungkin belum siap suaminya itu untuk mmbaginya dengan dirinya.
Delia menghela nafas berat,lalu mengangguk pelan menuruti apa yang di perintahkan oleh suaminya itu meski berat .
Rey tersenyum lebar,ia tahu betul meski istrinya itu keras kepala dan sedikit pembangkan tapi ia juga wanita yang sangat lembut dan berhati besar.
Rey beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Delia,mereka berjalan ke ruang tamu dan tak lupa Delia membawa tas kerja suaminya itu,Rey menghentikan langkahnya saat akan membuka pintu apartemen nya,ia lalu berbalik dan memberikan tangannya pada Delia.
Delia yang sigap langsung menyambar tangan suaminya lalu di cium sebagai tanda baktinya pada suaminya,Rey lalu mencium kening Delia dengan begitu lembut dan penuh cinta.
__ADS_1
"Ingat jangan keluar dari apartemen atau membuka pintu jika ada yang mengetuk siapa pun itu." Ucap Rey memperingati.
"Tapi..."
Cup... seketika protes yang ingin di layangkan Delia terhenti akibat Rey membungkam mulut Delia dengan mencium bibir nya,sejenak mereka terbawa suasana dan lupa diri,namun kesadaran mereka kembali saat Delia hampir saja kehilangan oksigen karna ia belum bisa menyesuaikan dirinya.
"Hati- hati." Ucap Delia saat mereka sudah melepas ciuman panas mereka di pagi hari .
"I love you." Rey membuka pintu lalu berlalu pergi meninggalkan Delia yang masih syok akan ucapan suaminya itu,bahkan ia tak menyadari jika Rey sudah tidak ada di hadapannya.
tringgg...suara dering telfon menyadarkan Delia dari lamunannya,ia kemudian baru menyadari jika suaminya itu sudah tidak ada di hadapannya,Delia menggeleng pelan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya lalu menutup kembali pintu apartemennya,ia berjalan mencari suara dering ponsel yang berbunyi.
"Hallo..." Sapa Delia saat sudah menemukan ponselnya yang berada di atas nakas di dalam kamar.
" Maaf dok,apa anda tidak masuk hari ini?" Tanya Boy ,ya yang menelfonnya itu adalah Boy .
" Maaf pak Boy,hari ini saya tidak masuk,tapi saya sudah mengalihkan tugas saya kepada dokter lain,dan untuk Kevin hari ini sudah bisa pulang dan hanya perlu rawat jalan saja nanti,saya juga sudah menyerahkan rekam medisnya ke dokter yang akan menggantikan saya hari ini." Jelas Delia dengan tidak enak hati,pasalnya ia sudah berjanji pada Kevin untuk menemani nya saat Kevin keluar dari rumah sakit.
"Dan tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Kevin karna tidak bisa menepati janji saya padanya,dia pasti sangat kecewa tapi sungguh saya ada sedikit urusan yang penting hari ini."Lanjut Delia lagi.
Boy sedikit kecewa karna rencananya untuk mengajak Delia jalan -jalan dengan mengkambing hitamkan putra kecilnya itu gagal,tapi bukankah masih banyak waktu dan cara untuk mengenal lebih dekat wanita idaman nya itu.
" Baiklah,dok tidak masalah..tapi lain waktu apakah dokter bisa meluangkan waktu ."
" Insya Allah,pak...kalau begitu saya tutup dulu, sampaikan salam dan permintaan maaf saya pada Kevin ."
"Ok.." Ucap Boy lalu mematikan ponselnya dengan wajah yang tak seceria sebelum ia akan berangkat ke rumah sakit untuk menjemput putra semata wayangnya itu.
__ADS_1