Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 172


__ADS_3

"Akhirnya kamu ingat pulang juga." Seru ibu Ramon saat mendapati putranya itu pulang ke apartemen di pagi-pagi buta.


"Mama?" Ramon menghentikan langkahnya saat melihat mamanya berdiri tepat di depan pintu kamarnya,tadinya sang ibu ingin masuk kedapur untuk mengambil minum,tapi saat baru saja membuka pintu kamar bersamaan itu pintu pintu rumah terbuka dan muncullah sosok sang putra yang beberapa hari ini tidak ia ketahui keberadaan nya.


Ramon berjalan masuk kedalam rumah tanpa menjawab sindiran sang ibu.


"Dari mana saja kamu Ramon?" Tanya ibu Ramon sedikit berteriak karena Ramon melewatinya begitu saja . Ramon menghentikan langkahnya saat ia baru saja ingin melangkahkan kakinya menaiki anak tangga pertama.


"Aku lelah ,Ma,besok kita bicarakan." Ujar Ramon tanpa menoleh ke arah ibunya,ia lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Tidak perlu menunggu besok,mama ingin membicarakan nya sekarang." Ucap ibu Ramon dengan berteriak karena Ramon sama sekali mengacuhkan dirinya.


Ramon kembali menghentikan langkahnya , ia lalu menoleh ke arah ibunya . "Aku lelah Ma,aku ingin istirahat." Ucap Ramon dingin, sejujurnya ia merasa kesal tapi karena ibunya yang ada didepannya ia terpaksa menahan rasa kesal nya.


"Apa hany kamu yang lelah,kami pun sama sangat lelah menghadapi sikapmu yang seperti ini."


Ramon yang sedikit terpancing akan ucapan ibunya ,lalu mengurungkan niatnya untuk naik ke kamarnya,ia lalu menuruni anak tangga dan menghampiri ibunya yang masih berdiri. di depan pintu kamarnya.


"Mau nya mama apa, bukankah Ramon sudah menuruti semua keinginan kalian,lalu apa lagi." Ramon tak bisa lagi menahan rasa kesalnya karena kehidupan nya terus saja di atur oleh sang ibu.


"Aku lelah Ma,tidak bisakah memberikan aku sedikit waktu untuk beristirahat sebentar."


"Mama...."


"Ada apa ini, pagi-pagi buta membuat keributan." Ucap ayah Ramon memotong pembicaraan istrinya,ia baru saja bangun dari tidurnya dan mendengar perdebatan dari luar.


"Lihat putramu ,Pa...entah dari mana saja dia tidak memberi kabar." Ucap ibu Ron pada sang suami berharap ia dapat pembelaan dari suaminya.


"Ramon,naiklah beristirahat,nanti kita lanjutkan lagi...ini masih pagi sekali." Ucap ayah Ramon .


"Baik Pa." Ramon pun kembali naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah pulang perjalanan dari desa menuju Jakarta.


"Apa-apaan kamu Pa." Protes ibu Ramon tak terima suaminya justru menyuruh Ramon naik ke kamarnya.

__ADS_1


"Kamu yang apa-apaan Ma,anak baru pulang sudah kamu sodorkan berbagai pertanyaan,biarkan dia istirahat ,setelah ia beristirahat baru kita akan meminta penjelasan darinya." Ujar ayah Ramon lalu kembali berjalan masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Ibu Ramon menghentakkan kakinya sambil berjalan menuju dapur,di dapur ia menemukan asisten rumah tangganya sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.


Ibu Ramon lalu kembali berjalan menuju kamarnya,hatinya masih kesal karena ia belum puas memarahi Ramon tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa jika suaminya sudah memutuskan sesuatu maka tak ada yang bisa menolaknya. Ayah Ramon memang tipe orang yang tidak banyak bicara tapi sekali ia berbicara semua orang yang ada di sekitar jadi bungkam.


"Mandi gi Ma,biar otak dan hatimu dingin." Ujar ayah Ramon sambil menggoda sang istri,yang duduk di sofa di dalam kamar dengan raut wajah kecut.


Tanpa membalas ucapan suaminnya,ia lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar mandi dengan menghentakkan kakinya sebagai bentuk protes untuk sang suami karena suaminya itu tidak mendukungnya.


Ayah Rey hanya menggeleng pelan. melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk itu. Menikah selama puluhan tahun membuatnya begitu sangat mengenal karakter sang istri,yang keras dan tak mau mengalah.


Setelah selesai berpakaian dan merasa sudah rapi, ayah Ramon lalu keluar kamarnya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar sang putra.


Ayah Ramon membuka perlahan pintu kamar Ramon yang kebetulan tidak terkunci,dari luar ia melihat sang putra baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah rapi, sepertinya ia sedang bersiap untuk ke kantor.


"Papa." Ucap Ramon saat menyadari ayahnya sedang berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.


Ayah Ramon lalu berjalan masuk menghampiri putranya,ia lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap Ramon yang tengah sibuk dengan dirinya sendiri.


"Kamu ingin menceritakan sesuatu?". Ucap ayah Ramon yang berhasil membuat Ramon menghentikan aktivitas nya,ia lalu menoleh ke arah ayahnya dengan raut bingung dengan arah pembicaraan ayahnya itu."Maksud Papa?" Tanya Ramon bingung lalu melanjutkan kembali kegiatannya.


Ayah Ramon menghela nafas panjang,ternyata putranya ini tidak mudah berbagi sesuatu padanya,ia pun menyesali karena mereka begitu jarang menghabiskan waktu bersama hingga keputusan penting dalam hidup putranya pun tak membaginya pada dirinya.


"Kamu pikir papa tidak tahu."


"Tanpa Ramon ceritakan pun papa pasti sudah tahu." Ramon lalu berjalan ke arah ayahnya ,ia kemudian menatap wajah sang ayah dengan raut yang begitu serius.


"Lalu langkah apa yang akan kamu lakukan selanjutnya."


"Aku sedang memikirkan nya Pa,tapi satu hal aku tidak akan melepaskan istriku apa pun yang terjadi."


"Istri...?"

__ADS_1


Ramon dan ayahnya menoleh kearah yang sama,dimana seorang wanita yang begitu mereka cintai sedang berdiri di depan pintu kamar dengan raut wajah kesal dan amarah.


"Istri siapa?" Tanya ibu Ramon sambil berjalan menghampiri kedua lelaki nya itu.


Ramon dan ayahnya terdiam,mereka masih di Liputi rasa keterkejutan karna kehadiran ibu dan istri mereka tiba-tiba berada di pintu dan mendengar kan percakapan keduanya.


"Kenapa diam? istri siapa?" Tanya ibu Ramon lagi sambil mengguncang tubuh Ramon dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.


Ia begitu syok dan tak percaya,ketika baru saja ia akan memanggil mereka untuk sarapan bersama,tapi setelah berada di depan pintu kamar Ramon yang terbuka dan tanpa sengaja mendengar percakapan antara suami dan putranya itu,sebuah obrolan yang begitu mengguncang hatinya.


"Istriku..." Ucap Ramon tegas dan yakin.


Praaaannnnnggggg.....sebuah benda jatuh dari depan kamar Ramon dan membuat ketiga orang yang berada di dalam kamar menoleh ke arah yang sama.


""Sophia..." Lirih ibu Ramon saat mendapati Sophia sedang berdiri di depan pintu dengan begitu syok,nampan yang berisi sarapan yang tadinya ingin ia bawakan untuk Ramon kini terjatuh dan pecah tak berbentuk.


"Sayang..." Ibu Ramon lalu melangkah menghampiri Sophia yang begitu syok dengan tubuh bergetar. Tadinya ibu Ramon menelfon Sophia dan mengabari nya jika Ramon sudah kembali dan berada di rumah,mendengar kabar itu , Sophia pun bergegasenuju rumah kedua orang tua Ramon untuk menemui calon suaminya itu,karena ia begitu sangat merindukan nya. Tapi sekarang apa yang terjadi ia mendengar sesuatu yang begitu menyakiti dan melukai hatinya.


"Ini tidak benarkan ,Ma..apa yang aku dengar tidak benarkan?" Gumam Sophia saat ini Ramon sudah berada di dekat Sophia sambilmemeluknya tapi tatapan Sophia tak lepas dari arah Ramon yang juga menatapnya sekilas kemudian membuang wajahnya kesamping untuk memutus tatapan mereka.


"Hiks....hikss....hiks...." Sophia tak mampu lagi menahan tangisnya,hatinya begitu terluka mendengar Ramon mengatakan hal yang tak pernah ingin ia dengar.


"Itu tidak benar sayang,kamu salah paham." Ucap ibu Ramon menenangkan Sophia yang masih berada dalam pelukannya.


"Maksud Mama?" Tanya Sophia ketika ia mulai tenang.


"yang di maksud Ramon itu adalah kamu sayang,kamu yang di sebut Ramon sebagai istrinya."


"Sungguh?" Sophia tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan dari ibu Ramon,kesedihan perlahan berubah menjadi rasa bahagia,ia lalu menatap Ramon yang masih berdiri di tempatnya,perlahan Sophia melepaskan pelukan ibu Ramon dan berjalan menghampiri Ramon.


"Sungguh,Ramon kamu mengatakan aku istrimu?" Tanya Sophia meyakinkan hatinya masih gamang .


Deg...-

__ADS_1


__ADS_2