Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 66


__ADS_3

Delia berjalan pelan di lorong-lorong rumah sakit,pikirannya melayang entah kemana.Tak pernah terbayangkan akan nasib rumah tangganya akan berakhir saat ia baru membuka pintu hatinya ,bayangan kebahagiaan kini telah musnah seiring langkahnya,ada sesak yang mengoyak hati,hari- hari bahagia bersama orang yang di cintai cukup singkat untuk ia rasakan namun tak akan pernah terlupakan.


Sejenak Delia memghentikan langkahnya mengusap pipinya yang sudah penuh dengan air mata,lalu menarik pelan nafasnya untuk merilekskan tubuh dan fikirannya,dengan senyum yang mengembang Delia melanjutkan langkahnya mendekati Revan sang adik yang tengah duduk bersandar di kursi tunggu depan kamar ayah mereka.


"Kakak..."Seru Revan saat ia menoleh dan menangkap sesosok wanita cantik dengan penampilan yang berbeda,kali ini penampilan Delia begitu anggun dengan dress berwarna lilac sebatas lutut dan rambut yang di ikat tinggi menampilkan leher putih jenjangnya lalu sebuah tas jinjing yang bertengger di lengannya.


Revan berdiri dari duduknya saat sesosok wanita itu ia yakini kakaknya.


"Kakak baru tiba?" Tanya Revan saat Delia sudah duduk di sampingnya.


" Iya...bagaimana dengan keadaan ayah?" Tanya Delia dengan pandangan ke depan menatap dinding- dinding kamar rumah sakit.


"Belum ada perubahan sejak kemarin." Jawab Revan sambil celingak celinguk seolah mencari seseorang.


"Kamu sedang apa?"Tanya Delia heran melihat tingkah Revan yang sejak kedatangan nya selalu menatap kedepan lorong rumah sakit.


"Apa kak Rey tidak ikut dengan kakak?"Bukannya menjawab pertanyaan Delia ,Revan justru balik bertanya ,dia terus saja celingak celinguk.


Delia terdiam ,hatinya melongos...bayangan kejadian kemarin di Jakarta berselewerang di kepalanya,namun ia tidak akan nenceritakannya pada sang adik ,cukup dia simpan dan hadapi sendiri,adiknya ini masih terlalu mudah untuk memahami semua kejadian yang menimpa keluarga mereka.


"Kakak...kak..."Panggil Revan sambil mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Delia yang membuat Delia tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Tidak...kak Rey masih sibuk." ucap Delia berbohong,tapi Revan tidak sepolos yang Delia pikir,ia cukup memahami dengan melihat tingkah kakaknya itu dan raut wajah yang jelas terlihat memyimpan kepedihan,tapi Revan hanya terdiam dan mengangguk tak lagi bertanya,ia tidak ingin membuat sang kakak semakin tertekan.


Delia beranjak dari duduknya ,melangkah masuk ke kamar ayahnya,sebelum masuk ke kamar,Delia melihat sang ayah tertidur pulas dengan selang oksigen sebagai penopang kehidupannya,bulir air mata jatuh begitu saja di pipi mulus nya,bayangan video rekaman yang menampilkan ayahnya untuk memcelakai seseorang dan yang lebih pedihnya lagi seseorang itu adalah orang tua dari pria yang di cintainya,pria yang kini berstatus sebagai suaminya tapi mungkin sebentar lagi akan berstatus mantan suami.


Delia tersedu,membayangkan nasib pernikahannya yang bertahan hanya seumur jagung.Revan yang sedari tadi memperhatikan kakaknya itu,berdiri mendekat ,ia lalu memegang bahu kakaknya sebelah kanan,Delia menoleh saat dia merasakan seseorang menyentuh bahunya,ia berbalik dan menghamburkan tubuhnya dalam dekapan sang adik,keluarga satu-satunya yang masih sehat ,ia lalu menumpahkan segala kegundahan,kepenatan dan segala kepedihan yang terpendam,akhirnya pertahanannya runtuh di bawah pelukan sang adik.


Sedangkan Revan hanya berdiri mematung membiarkan sang kakak melepas segala kepedihannya,hanya mereka berdua yang masih tersisa,sedangkan ayah dan Vio belum jelas nasibnya,apakah sanggup bertahan atau justru menyerah dan ikut sang ibu,dan Delia tidak sanggup membayangkan jika itu terjadi.


Setelah merasa baikan,Delia melepas pelukannya sambil mengusap air mata yang membasahi wajahnya ,bahkan matanya membengkak akibat menangis.


"Dengar,sekarang hanya tinggal kita berdua...kita harus saling menjaga dan menguatkan." Ucap Delia menatap Revan sambil memegang pundaknya.


Revan hanya mengangguk pelan menyetujui ucapan Delia.


Delia dan Revan melangkah mendekati ayah mereka,Revan duduk di sofa sedangkan Delia duduk di samping tempat tidur ayahnya,ia menatap lekat wajah tua itu,melihat raut wajah ayahnya tiba-tiba bayangan rekaman penyelapan yang di lakukan ayahnya itu muncul di memorinya,Delia membuang wajahnya ke samping menahan tangis tidak sanggup menatap wajah itu,wajah yang telah melenyapkan dua nyawa sekaligus.


Delia tersedu menangis tertahan antara percaya dan tidak,ia tidak percaya ayahnya telah melakukan kejahatan di masalalu,tapi rekaman itu membuktikan kalau ayahnya lah pelakunya.


"Kakak...kak Delia." Panggil Revan sambil memegang pundak Delia,Delia menoleh kesumber suara yang sangat begitu ia kenali.


"Apa ada yang mengganggu pikiran kakak,katakan pada Revan.Revan sudah besar,Revan bukan anak kecil lagi yang tidak tahu apa-apa,Revan memahami semuanya,katakanlah...bukankah baru saja kakak mengatakan agar kita saling menguatkan,lalu apa ini,kakak memendamnya sendiri." Ujar Revan panjang lebar.

__ADS_1


Delia menatap adiknya itu dengan seksama,ia menelisik adiknya itu dari atas sampai bawah ,menatap tubuh jenjang adik bungsungnya itu ,bahkan tingginya kini melebihi tinggi dirinya,padahal Revan baru remaja yang baru menginjak kelas tiga SMA.


Delia menarik nafas pelan,berdiri dari duduknya ,menuju sofa agar pembicaraannya tak mengganggu ayah mereka,walau itu sangat kecil terjadi karna sudah dua hari ini ayah mereka belum sadar sejak terakhir ia sadar sebentar lalu kemudian kembali tak sadarkan diri hingga hari ini.


"Dengar..." Delia menjeda ucapan nya untuk mengambil nafas sekedar merilekskan pikiran dan tubuhnya.


"Mulai hari ini kita berbagi tugas,hari ini kamu yang menjaga Vio dan kakak akan disini menjaga ayah.Dan besok kamu harus kembali ke sekolah,kakak sudah memgurus kepindahanmu di sini,kita akan tinggal di kota ini."


"Kakak tidak kembali lagi ke Jakarta?" Tanya Revan karna bingung akan ucapan kakaknya itu.


Delia menggeleng pelan.


"Kakak akan mencari pekerjaan disini,dan kakak juga sudah menyewa rumah untuk kita tinggali sementara dekat dari rumah sakit ini,agar kita bisa lebih leluasa menjaga ayah dan Vio." Jelas Delia.


"Revan tidak usah sekolah,biar Revan bekerja saja membantu kakak untuk membiayai pengobatan ayah dan kak Vio."


Delia menatap tajam ke arah Revan,dan Revan paham akan tatapan itu.


"Baiklah Revan akan ke sekolah besok."Revan adalah siswa yang berprestasi di sekolahnya,bahkan dia sudah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah nya nanti.


"Fokus saja pada pendidikanmu,urusan biaya rumah sakit dan lainnya itu urusan kakak."

__ADS_1


Revan mengangguk pelan,sebenarnya dia begitu kasihan melihat kakaknya yang pasti akan bekerja keras sendirian dengan beban yang begitu berat,tapi apa dayanya dia masih seorang pelajar,belum bisa membantu kebutuhan ekonomi mereka,tapi Revan berencana untuk mencari pekerjaan paruh waktu secara diam-diam,setidaknya Delia tidak perlu memimirkan biaya pendidikannya nanti nya.


__ADS_2