
"Siang nanti aku akan ke Jakarta,aku akan kembali menjemput mu ." Ujar Ramon saat ia melihat Vio sedang berkemas untuk berangkat kerja.
"Kamu tidak perlu menjemput ku,bukankah kita sudah membahas nya." Balas Vio datar,ia lalu mengambil tasnya yang berada di atas meja rias dan melangkah keluar kamar, namun baru saja hendak memutar handle pintu,tangannya di hentikan oleh Ramon.
"Tidak bisa kah kita berbicara baik-baik Vi,mari kita bicarakan dan saling terbuka."
Vio menatap wajah Ramon, lalu tersenyum kecut. " Siapa yang harus terbuka Ramon,bukankah semua nya sudah terbuka. Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan dan itu adalah solusi terbaik untuk semuanya."
Ramon mengepalkan tangannya erat saat ia mendengar ucapan Vio yang selalu ingin berpisah padahal ia sudah merencanakan masa depan pernikahan mereka.
"Tidak bisakah kamu, tidak membicarakan perpisahan Vi? bisakah kita berlaku selayaknya pasangan suami dan istri." ujar Ramon sambil menyandarkan tubuh Vio ke dinding.
"Tidak bisa." Ucap Clara tegas dan yakin,ia lalu mendorong tubuh Ramon yang menindih tubuhnya.,setelah mendapat kan kesempatan ,Vio lalu membuka pintu kamar dan pergi meninggalkan Ramon sendirian di kamar.
"Dokter Vio..." Panggil dokter Farhan saat mereka berpapasan di pintu masuk klinik.
Vio menoleh ke arah dokter Farhan dan tersenyum saat melihat pria tampan itu menghampirinya.
"Selamat pagi dan apa kabar?" Sapa dokter Farhan saat ia sudah berdiri di samping Vio.
"Aku baik...kalau dokter sendiri.?"
"Ya,seperti yang kamu lihat." Ucap dokter Farhan sambil membuka kan pintu pagar yang terbuat dari kayu itu,hasil kertja gotong royong warga untuk membuatkan pagar untuk klinik di desa mereka.
Vio dan dokter Farhan pun masuk bersama dan tanpa mereka sadari ada mata yang sedang melihat mereka dengan menahan rasa kesal.
"Jika bersama ku kamu terlihat tidak begitu bahagia Vi,tapi dengan dokter itu wajah mu begitu berbinar." Gumam Ramon kesal. Ia lalu berjalan menuju klinik untuk menemui Vio,ia sudah bertekad untuk menjaga istrinya itu dari dokter Farhan.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Ramon berjalan masuk ke dalam pekarangan klinik,hari sudah, pagi-pagi seperti klinik masih terlihat sepi. hanya beberapa pengunjung yang menginap untuk menemani keluarga mereka yang di rawat inap dan berlalu lalang di sekitar klinik,dan juga terlihat beberapa perawat yang memang di tugaskan di klinik ini oleh pemerintah setempat.
"Pak Ramon..." Suara itu berhasil menghentikan langkah Ramon yang baru saja berjalan masuk ke dalam klinik.
Ramon menoleh ke arah suara yang memanggilnya tadi dan terlihat seorang wanita sedang berjalan menghampiri nya.
"Dokter Tiara." Ujar Ramon saat ia mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.
"Pagi pak." Sapa dokter Tiara sambil tersenyum.
"Pagi,kamu baru datang, bukannya tadi kamu berangkat bersama Vio." Ucap Ramon heran, karena saat ingin mengantar Vio ke klinik,Vio beralasan akan berangkat bersama Tiara,tapi kenyataannya Tiara baru saja tiba dan Vio sedari tadi berada di klinik ini bersama dokter Farhan yang perlahan mulai tak ia sukai.
"Itu pak,tadi Vio mengajakku tapi karena saya ada urusan penting jadi Vio berangkat sendirian tadi." Jelas Tiara tidak enak hati.
"Oh..." Ramon lalu melanjutkan langkahnya memasuki klinik dan meninggalkan Tiara sendirian di pintu masuk .
"Sabarlah sayang,Ramon sedang keluar kota ada pekerjaan yang harus di selesaikan nya, pernikahan kalian kan tinggal seminggu lagi jadi Ramon harus menyelesaikan samua pekerjaan nya ." Jelas ibu Ramon menenangkan Sophia,sejujurnya ia pun merasa kesal dengan putra semata wayangnya itu.
"Tapi Ma,aku hanya ingin Ramon,kami bahkan belum fitting baju pengantin, sementara acaranya semakin dekat."
"Mama akan menelfon Ramon lagi untuk segera menyuruhnya pulang,percayalah."
Mendengar ucapan ibu Ramon,Sophia perlahan jadi tenang , ia tidak lagi mengamuk seperti tadi.
"Dan juga orang tuamu sedang dalam perjalanan kemari,kita harus menyambut mereka dan kita harus memperlihatkan wajah bahagia." Sambung ibu Ramon lagi lalu melepas pelukannya dari Sophia.
"Istirahatlah." Ibu Ramon lalu berdiri dari tempat dan perlahan meninggalkan kamar Sophia ..
__ADS_1
Ibu Ramon lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Ramon yang entah sudah kesekian kalinya ia hubungi tapi tak kunjung tersambung.
"Kemana anak ini." Omel ibu Ramon lalu melemparkan ponselnya dia atas tempat tidur.
"Ada apa sih Ma?" Tanya ayah Ramon saat ia baru saja membuka pintu kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
"Putramu itu,entah kemana dia...nomor nya bahkan tidak bisa di hubungi,apa dia lupa pernikahan nya seminggu lagi tapi dia pergi entah kemana." Omel ibu Ramon sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Dia akan kembali jika sudah ingin." Ucap ayah Ramon santai tapi ucapannya itu semakin membuat emosi sang istri Semakin naik.
"Apa maksudmu Pa? dia tidak bisa datang pergi se enaknya dia...apa dia berencana ingin mempermalukan keluarga kita?"
"Kenapa kamu selalu menekan hidup putramu mu sendir,biarkan dia mencari kebahagiaan nya sendiri,kita semua tahu bahwa Ramon tidak menginginkan pernikahan ini." Ujar ayah Rey dengan nada sedikit meninggi, ia pun mulai terpancing dengan istrinya yang selalu memaksakan kehendak pada putranya.
"Karena aku mencintainya,aku tidak ingin dia salah memilih wanita. Sophia adalah wanita yang tepat untuk mendampinginya." Balas ibu Ramon tak ingin kalah.
Tak ingin berdebat lebih lama lagi,ayah Ramon memutuskan keluar dari kamarnya , sedangkan istrinya hanya terdiam menatapnya keluar dan menghilang dari balik pintu..
Sejak dulu ayah dan ibu Ramon selalu tak sependapat jika itu mengenai kehidupan Ramon. Jika ayahnya membebaskan Ramon memilih kebahagiaan nya sendiri berbeda dengan sang ibu yang selalu mengontrol dan mengatur kehidupan Ramon. Ibu bahkan tak senang jika Ramon berteman dengan sembarangan orang,gaya hidup dan gengsinya begitu besar sehingga sang ibu selalu memandang rendah orang yang tidak selevel dengan keluarganya.
Ramon menunggu Vio hingga sore hari,padahal rencananya ia akan kembali ke Jakarta siang tadi tapi ia membatalkan nya karena sulit baginya melepaskan Vio apalagi ada dokter Farhan yang selalu mendekati istrinya .
"Kamu di sini?" Tanya Vio saat ia melihat Ramon terduduk di kursi tunggu sambil bersandar.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Ramon balik tanpa menjawab pertanyaan Vio tadi.
Vio mengangguk sebagai jawaban,Ramon lalu berdiri dan menggenggam tangan Vio dan membawanya berjalan keluar dari klinik,sedangkan adegan sepasang suami istri itu tak lepas dari tatapan dokter Farhan yang tadinya hendak menghampiri Vio yang sedang berjalan sendirian, namun saat ia melihat kehadiran Ramon , ia pu. mengurungkan niatnya.
__ADS_1