
Setelah seminggu memakamkan jenasah ayah nya ,Delia dan Revan kembali kerumah sakit karna Vio sampai saat ini belum juga sadar.
"Jadi dia adik mu?" Tanya dokter Ramon pada Delia saat mereka berada dalam satu ruangan di kamar perawatan Vio.
"Iya..." Jawab Delia pelan.
Ramon mendesah pelan,ia tak menyangka jika wanita cantik yang terbaring koma ini adalah adiknya.Dengan senyum tipis Ramon menatap Delia dalam .
"Aku akan menyembuhkannya,aku janji." Ucap Ramon yakin,ada rasa bahagia yang tak terkira setelah bertemu dengan Vio,wanita yang sudah selama ini di kejarnya ternyata selama ini begitu dekat tanpa ia sadari.
"Makasih,dok." Delia mengembangkan senyum setidaknya ada harapan untuknya menyembuhkan adiknya itu,dia akan melakukan apapun agar tidak kehilangan lagi.
"Kita akan berjuang bersama untuk menyembuhkan nya." Semangat Ramon begitu besar,ia tidak mau kehilangan jejak wanita yang telah mencuri hatinya sejak bertemu di kampus tempat Vio menimbah ilmu.
"Hemmmmm, semangat."Ucap Delia tak kalah semangat nya.
Disisi lain ,Rey begitu tenggelam dalam kesibukannya,hari-harinya semakin di sibukkan dengan pekerjaan,dengan bekerja ia bisa melupakan sejenak permasalahan hidupnya.
"Sayang....."Mona masuk begitu saja keruangan Rey,ia dengan mudahnya keluar masuk kantor Rey karna semua karyawan sudah mengetahui kalau Mona adalah calon istri sang bos.
Rey tidak menggubris kedatangan Mona,ia masih saja sibuk menatap layar laptop di depannya daripada membalas sapaan Mona,hatinya semakin beku dan datar.
Mona yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Rey,berjalan mendekati Rey ,ia berdiri tepat di samping Rey baru saja akan duduk di pangkuan Rey.
Rey berdiri menghindari Mona,ia begitu sangat kesal dan rasanya ingin melampiaskan segala kemarahannya pada wanita yang berada dalam ruangan nya itu,tapi dia harus menahan semua itu demi mencari bukti kejahatan keluarganya terutama ayahnya otak di balik kematian ayahnya kandung Rey.
Ya saat Rey mengetahui keterlibatan ayahnya,Rey yang saat itu di selimuti kemarahan dan kekecewaan hampir saja bertindak gegabah jika saja Dion tidak segera menyadarkan nya.
Flashback on
Keadaan Rey begitu sangat berantakan setelah mengetahui semua rahasia orang tua angkat nya ,Rey yang juga begitu semakin frustasi karna kepergian Delia dari Jakarta membuatnya semakin kehilangan penopangnya.
Rey kesana kemari mencari keberadaan Delia, setelah mengetahui Delia telah menjual apartemen dan mobilnya,ke frustasiannya membawanya ke sebuah club langganan nya yang sudah begitu sangat lama tak lagi di kunjungi nya.
Di club itu Rey kehilangan kewarasannya,ia begitu banyak menenggak minuman beralkohol meski dirinya sudah sangat mabuk berat.Bartander yang melayani Rey pun begitu khawatir dengan keadaan pelanggannya itu,tentu saja bartender itu mengenal siapa pria yang berada di depannya itu dengan kondisi yang sangat berantakan.
__ADS_1
Bartender itu akhirnya menelfon Dion lagi untuk menyuruhnya datang menjemput Rey di club ,tentu Dion sudah mengetahui lokasinya.
"Huuuuuaaahhhhhh." Dion menghempaskan tubuh Rey di tempat tidur apartemen milik sang bos,Rey terlihat begitu memprihatinkan.
"Maafkan aku Delia,kamu dimana....maafkan aku.." Gumam Rey pelan, suaranya begitu tertekan mengisyaratkan bahwa begitu banyak beban berada di pundaknya.
Dion yang mengurus sang bos ,sejenak terdiam menatap nya,ada rasa iba dan sesak melihat orang yang begitu di segani dan di hormati kini begitu terpuruk dengan begitu banyak masalah yang begitu rumit.Ia tak bisa diam saja,Dion harus berterus terang sekarang tapi untuk itu ia harus menunggu Rey sadar dulu.
Rey membuka pelan matanya, kepalanya masih terasa berat dan sedikit pusing,ia kemudian bangun dari tidurnya,menatap pemandangan yang ada di hadapannya berbeda dengan pemandangan semalam . Rey mengingat -ingat kejadian semalam saat dirinya mabuk.
"Anda sudah bangun bos." Seru Dion membuka pintu kamar dengan membawa nampan yang berisi air putih dan sarapan ,ia lalu membawanya ke arah dimana Rey sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, pikirannya masih melayang tak menyadari kedatangan Dion.
"Bos..." Rey sedikit terkejut dan gelagapan saat Dion memanggilnya sambil memegang pundaknya.Rey masih terdiam tak berniat menjawab Dion,ia hanya menatap Dion yang sedang meletakkan makanan dan minuman di atas nakas samping tempat tidur nya .
"Sarapan dulu bos." Ujar Dion setelah meletakkan makanan itu,Dion masih terdiam memandang kosong ke depan ,entah apa yang ada di pikirannya.
"Bos." Panggil Dion dengan suara sedikit meninggi karna Rey tak merespon nya tadi.
Rey menoleh menatap Dion dengan tatapan tajam yang menusuk, Seketika nyali Dion jadi ciut melihat tatapan membunuh Rey.
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Rey tanpa melihat ke arah Dion,dia masih di posisinya, sepertinya hari ini dia begitu malas untuk bergerak.
"Semalam bos mabuk berat,jadi saya menjemput dan mengantar bos kemari." Jelas Dion masih berdiri di dekat nakas .
Rey bangkit dari duduknya."Hubungi anak buah mu,suruh mereka bersiap,hari ini kita akan menyerang musuh yang sesungguhnya." Perintah Rey,Dion terkesiap mendengar perintah Rey,sedangkan Rey sudah berlalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya .
Dion berjalan keluar kamar ,ia akan menunggu Rey di luar saja, sembari berfikir,langkah apa yang harus di ambil agar tidak membahayakan orang lain.
tak..tak... terdengar suara langkah dari dalam kamar,Rey yang sudah segar dengan berpakaian lengkap keluar menyusul Dion di ruang tamu,kali ini ia akan muncul dengan wajah lainnya sebagai ketua mafia yang selama ini bekerja di balik layar.
Rey duduk di sofa berhadapan dengan Dion yang sedang duduk sembari memikirkan sesuatu.
"Hubungi mereka sekarang untuk datang kemari,kita akan ke markas untuk mengatur strategi." Ucap Rey sambil duduk.
Dion menatap Rey sembari manggut-manggut.
__ADS_1
"Sebaiknya kita jangan menyerang sekarang bos." Sela Dion.
"Kau..."Rey menggertak kan gigi nya karna Dion juga mulai membantahnya.Seketika Dion jadi pucat tatapan Rey kali ini benar-benar menakutkan.
"Ma... maksud saya bos,kita ikuti saja permainan mereka, masalahnya jika kita menyerang mereka sekarang,maka nona Delia akan dalam bahaya."
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya..." Dion menggantungkan ucapannya,ia sedikit ragu mengatakannya Karna Rey akan semakin murka jika mengetahui nya tapi daripada mereka salah langkah,lebih baik ia mengatakan kannya saja. Pikir Dion.
"Katakan jangan selalu menggantungkan ucapan mu, menyebalkan." Bentak Rey kesal.
"Nona Delia sekarang dalam pengawasan mereka bos,Karna ayah Mona sudah mengetahui kebenaran nya,dan seminggu lalu ayah Delia meninggal Karana orang suruhan ayah Mona berhasil memasukkan racun ke tubuh ayah Delia dan mengakibatkan beliau meninggal."
Rey begitu terkejut mendengar penuturan Dion, sejenak ia memejamkan matanya, ingin rasanya ia menghilang saat ini juga untuk menemui sang istri yang pastinya kini berada dalam kesedihan mendalam.
"Dan rumah orang tua nona Delia hangus terbakar,ayah Mona menyuruh orang suruhannya untuk membakar rumah itu agar mereka semua lenyap,selain karna ingin melenyapkan ayah Delia dan bukti yang di simpan nya ,ayah Delia juga inigin melenyapkan nona Delia untuk melancarkan rencananya agar anda menjadi milik putrinya, menjadikan anda menantunya adalah rencana utamanya karna semua harta , perusahaan termasuk harta dan perusahaan milik nya sebenarnya adalah hak anda bos Karna itu adalah hasil kerja keras ayah anda." Jelas Dion panjang lebar.
Rey begitu terkejut dengan kenyataan yang di paparkan Dion padanya, sebuah kenyataan yang tak terpikirkan olehnya,jadi semua ini sudah di setting sejak puluhan tahun? Pikir Rey.
Kemarahan yang sudah besar semakin membesar,karena musuhnnya yang sebenarnya adalah orang -orang terdekatnya yang begitu ia hormati.
"Tapi Delia sedang membutuhkan ku sekarang,aku harus menemui nya sekarang juga." Rey bangkit dari duduknya,ia akan menemui istrinya dan meminta maaf ,namun baru saja akan melangkah Dion menghentikan langkahnya.
"Jangan menemui nya sekarang bos." Cegat Dion, Kemarahan Rey semakin naik ke ubun-ubun mendengar ucapan Dion padanya,Rey berbalik menatap Dion dengan tatapan menghunus.
"Sepertinya kamu sudah berani mengaturku,Dion...kau..." Kesal Rey
"Bukan begitu bos, masalahnya saat ini nona Delia sedang membenci anda,Karna dia pikir anda yang menyuruh orang-orang anda untuk mencelakai ayahnya." Jelas Dion takut-takut.
Rey berjalan menghampiri Dion dengan raut yang di penuhi amarah.
"Kenapa kamu baru memberitahu ku,hach..."Rey menarik kerah baju Dion dengan kuat ,ingin rasanya dia mencabik-cabik Dion saat ini.
"Bu....bukan begitu bos,saya sudah berusaha untuk mengatakannya tapi bos selalu menolak mendengar jika itu mengenai nona Delia,jadi diam-diam saya menyuruh anak buah saya untuk mengawasi nona Delia."
__ADS_1
Rey menghempaskan tubuh Dion,dan Dion yang tak bisa menyeimbangkan tubuhnya terpaksa harus mencium lantai akibat dorongan Rey .