Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode ,,,160


__ADS_3

Braaaaaakkkkk....pintu ruangan Ramon di buka dengan kasar oleh Sophia dengan tatapan penuh amarah kepada Ramon yang sedang duduk menatapnya tanpa ekspresi.


"Maaf pak , nona ini memaksa masuk." Ucap sekertaris Ramon yang ketakutan karena membiarkan Sophia masuk meski tadi ia telah berusaha untuk menahannya.


"Tidak apa- apa,keluarlah." Ucap Ramon .


Sekertaris Ramon pun keluar dengan perasaan lega karena tadi ia pikir bosnya itu akan memarahinya abis-abisan.


"Kenapa kemari? Bukankah aku menyuruh sopir mengantarmu ke apartemen?" Tanya Ramon setelah sekertarisnya keluar . Sophia menatap Ramon dengan menahan amarah.


"Aku yang menyuruhnya mengantarku ke sini,kenapa? Kamu keberatan?" Sophia tak bisa lafi menahan kekesalan yang di simpannya sejak menginjakkan kakinya di kota ini.


"Aku lihat kamu melakukan apa pun dari tadi,lalu kenapa bukan kamu yang menjemputku?"


"Aku sudah mengatakan aku sibuk,baru saja aku sekesai meeting...lagi pula ngapain kamu kemari."


Bagai bom waktu Sophia benar - benar sudah kehabisan kesabaran menghadapi sikap Ramon yang tak pernah bersikap manus padanya sejak mereka resmi bertunangan,padahal ia dan Ramon adalah sahabat yang begitu dekat,Ramon bahkan selalu mengajak nya kemana pun dulu mereka layaknya sepasang kekasih,tapi setelah resmi bertunangan Ramon berubah padanya menjadi dingin dan menjengkelkan.


Sophia lalu menghela nafas panjang agar ua tak terpancing dengan sikap acuh Ramon padanya.


"Apa harus ada alasan tertentu untuk aku menyusulmu ingat Mon aku tunanganmu dan aku berhak untuk menyusulmu tanpa perlu alasan apa pun." Ujar Sophia sembari duduk di kursi di depan meja kerja Ramon.


Ramon lalu beranjak dari duduknya,ia tak ingin menanggapi ucapan Sophia yang ujung-ujungnya akan mrmbuat meteja bertengkar seperti yang sudah-sudah.


"Aku antar kamu ke apartemen." Ajak Ramon lalu mrngambil kunvi mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya.


"Kenapa kamu selalu menghindariku,seakan kamu tidak ingin bersamaku dalam waktu yang lams." Ujar Sophia dan ucapannya itu berhasil menghentikan langkah Ramon.

__ADS_1


"Aku tidak perlu menjawab setiap pertanyaan mu yang selalu sana katena kamu tahu jawabannya pun tetap sama."


Deg.....


Hati Sophia bagai di remas mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ramon. Ia lalu berdiri menghampiri Ramon yang berdiri membelakanginya.


"Tidak bisa kah kamu memberikan tempat sedikit saja di hatimu untukku, Mon ? Kamu tahu aku begitu mencintaimu,aku tidak bisa hidup tanpa mu,aku tidsk menginginkan apa pun , aku hanya ingin dirimu dan cintamu." Ucap Sophia memelas saat ia sudah berdiri di hadapan Ramon .


Ramon hanya terdiam mendengar ucapsn Sophia yang sudah sering kali Sophia ucapkan padanya,tapi entah mengapa pengakuan cinta Sophia padanya tak membuatnya bergeming , ia bahkan terlihat tak senang mendengar pengakuan cinta dari tunangannya itu.


"Ayo..." Ramon lalu berjalan meninggalkan Sophia tanpa membalas pengakuan cintanya,Sophia mengusap air mata yang jatuh di pipi mulusnya itu,meski selalu di perlakukan dingin oleh Ramon tapi cintanya tak sedikit pun berkurang,semakin Ramon bersikap acuh semakin ia tertantang untuk menaklukkan Ramon , ia begitu yakin suatu hsri Ramon yang akan datang padanya dan mengatakan cinta psdanya dan Sophia sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba.


Sophia berjalan keluar ruangan Ramon setelah ia menenangkan hati dan fikirannya,Sophia sudah tak melihst Ramon lagi di lantai atas dan dengan hati yang kecewa Sophia masuk ke dalsm lift menuju lantai bawah seorang diri.


Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai bawah,Sophia keluar dari lift itu, ia lalu menghentikan langkahnya sembari menoleh ke seluruh penjuru lobi tapi ia tak menemukan sosok yang di carinya.


Sophia lalu menoleh ke arah sang security lslu menatap nya dengan penuh selidik.


"Mari saya antar,pak bos sudah menunggu." Lanjut sang security lagi.


Tanya berkata apa pun Sophia lalu berjalan meninggalkan security itu , ia berjalan menuju pintu keluar lalu di susul oleh sang security dari belakang.


"Masuk." Perintah Ramon saat Sophia sudah berdiri di luar samping mobilnya.


Sophia yang kesal lalu membuka pintu mobil bagian depan lalu duduk di samping kursi kemudi dimana Ramon sudah duduk di situ.


Tanpa mengatakan apa pun Ramon lalu melajukan mobilnya menuju apartemen dimana Sophia akan tinggal selama ia berada di kota ini.

__ADS_1


"Aku tidak mau tinggal di sini." Ucap Sophia saat mereka sudsh berada di dalam apartemen.


"Lalu kamu msu tinggal dimana?" Tanya Ramon sembari duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


" Aku ingin tinggal satu apartemen denganmu." Jawab Sophia dengan senyum lebar sambil duduk di satu sofa dengan Ramon.


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Ini bukan di Jerman,di sini pria dan wanita tidak di perbolehkan tinggal satu atap tanpa ada ikatan pernikahan." Jelad Ramon beralasan,alasan itu memang tepat. Ia tidak akan membiarkan Sophia tinggal bersamanya.


"Tapi sebentar lagi kita akan menikah,jadi tidak masalah bukan?" Ujar Sophia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ramon dengan tangan yang bergelayut manja pada lengan Ramon.


"Tetap saja tidak bisa. Sudahlah aku pulang sekarang, kamu istirahatlah." Ramon lalu beranjak dari duduknya dan melepaskan gelayutan tangan Sophia padanya.


Ramon terus berjalan keluar tanpa mempeduliksn teriakan Sophia yang memanggilnya, ia benar-benar sedang menahan kesal sekarang karena rencana nya untuk ikut dengan rombongan Vio harus batal karena kedatangan Sophia yang tiba-tiba.


Vio dan timnya sudah tiba di Kalimantan,mereka lalu berangkat menggunakan dua mobil untuk menuju ke lokasi yang akan di datangi,menurut info yang mereka dapat,lokasi yang akan mereka tuju cukup jauh dari kota,mereka harus menempuh perjalanan hingga lima jam dari kota dan masyarakat di sana masih kental dengan adat istiadat mereka.


Setelah menempuh perjalanan lima jam akhirnya mereka tiba di desa itu,desa tempat mereka aksn melakukan misi sosial.


Vio dan tim nya di sambut bahagia dan antusias masyarakat di desa itu,yang membuat Vio dan timnya merasa bshagia karena mereka di terima dan fi sambut dengan begitu meriah dan juga merrka di sambut secara adat desa itu.


Di desa itu madih sangat kental dengan kehidupan budaya nenek moyang mereka,sehingga di desa itu masih terlihat begitu natural dan terlihat belum bercampur dengan kehidupan kota.


"Selamat datang di desa kami,kami sangat senang karena dokter dan tenaga kesehatan lainnya sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa kevil kami ini." Ucap seorang pria yang sudah sepuh itu. Orang tua itu merupakan tokoh adat di desa itu.

__ADS_1


Vio dan tim pun begitu bahagia bertemu dengan masyarakat di desa itu karena mereka begitu ramah dan menyambut mereka dengsn begitu antusias.


__ADS_2