
Rey ,Delia, dan Vio tiba di rumah sakit,mereka berjalan cepat menuju ruang ICU . Saat tiba di ruang ICU mereka melihat ibu dan ayah Rey sedang duduk bersandar di kursi tunggu dengan raut wajah yang cemas.
"Rey." Lirih ibu Rey saat melihat kehadiran putranya. Ayah Rey pun menoleh ke arah yang sama dengan istrinya saat ia mendengar lirihan istrinya itu.
"Biarkan mereka,jangan mengatakan apapun." Ucap ibu Rey saat ayah Rey baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu,tapi ia pun mengurungkan nya saat saat istri memperingati nya.
Ibu Rey lalu berjalan menghampiri ketiganya,Rey masih berdiri di tempatnya dan tak melanjutkan langkahnya saat tatapan nya dan ayahnya saling bertemu.
"Rosa Rey." Ucap ibu Rey sambil menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Rey sambil terisak,Rey pun membalas pelukan sang ibu sambil mengelus bahunya perlahan.
"Mama pikir kamu tidak akan mau menemui kami lagi." lanjut ibu Rey lagi,ia benar-benar rapuh dan tak berdaya sekarang .
"Itu tidak akan terjadi Ma,Rey pasti akan selalu bersama mama dan Rosa meski Rey berada di tempat yang jauh."
Rey kalau memapah ibunya ke kursi untuk mendudukkan ya di tempatnya tadi,sekilas ia melirik ke arah ayahnya yang masih duduk di tempatnya.Ayah Rey hanya terdiam saat ia melihat Rey memperlakukan istrinya begitu tulus dan penuh kasih sayang,ada rasa bahagia namun ia menutupinya dengan bersikap dingin.
"" Kemari sayang,duduk di sini dengan Oma." Panggil ibu Rey kepada Kenan yang berdiri di sisi Delia.Kenan lalu menatap ibu dan ayahnya meminta persetujuan,setelah keduanya mengangguk Kenan pun berjalan mendekati Omanya dan berdiri di depannya ,ibu Rey lalu memeluk cucunya itu dengan penuh kasih sayang , sedangkan ayah Rey yang duduk di samping hanya mampu melihat dalam diam, sebenarnya ia pun ingin melakukan hal yang sama seperti istrinya,tapi seperti ada tembok besar nan tinggi yang membatasinya dan akhirnya ia hanya mampu melihat saja dengan tatapan penuh makna.
"Dia siapa Oma? Tanya Kenan polos sambil melirik ke arah ayah Rey.
Semua orang yang ada di situ pun menoleh ke arah ayah Rey.Ibu Rey lalu tersenyum sambil mengelus lembut kepala sang cucu.
"Dia opanya Kenan." Jawab ibu Rey sembari menatap wajah suaminya yang hanya terdiam mendengar kan.
"Opa? " Kenan lalu melangkah dan berdiri tepat di depan ayah Rey,ayah Rey terlihat gugup saat Kenan menyentuh telapak tangannya lalu menciumnya.
"Opa baik-baik saja? Kenan ternya punya opa dan dan Oma." Ucap polos Kenan masih memegang tangan ayah Rey.
__ADS_1
Hati ayah Rey terenyuh mendengar ucapan yang keluar dari mulut kecil sang cucu,jika saja tidak ada orang di tempat itu mungkin ayah Rey sudah menangis dan memeluk sang cucu,tapi lagi-lagi ke egoisan dan keras nya hati menjadi tembok penghalang yang begitu kokoh.
"Opa merindukan Kenan,kalau Kenan sangat merindukan Opa,Mommy selalu cerita kalau Opa dan dan Omanya Kenan sangat baik dan menyayangi Kenan,tapi kenapa opa dan Oma tidak pernah mengunjungi Kenan sih?" Lanjut Kenan dengan polosnya,hingga semua mata tertuju pada Delia saat itu.
"Sini sayang,duduk disini sama Oma." Ujar ibu Rey sambil menepuk bangku kosong yang ada di samping kiri nya,melihat tak ada respon dari suaminya membuatnya berinisiatif memanggil sang cucu karena tak ingin merusak suasana.Kenan yang di panggil pun menurut dan duduk di samping Oma nya.
"Kamu mau kemana Pa?" Tanya ibu Rey saat melihat suaminya itu beranjak.
"Saay ada urusan sebentar." Jawab ayah Rey diin dan berjalan pergi.
Ibu Rey menatap suaminya yang semakin menjauh dengan mimik kecewa dan sedih.
"Maaf kan papa mu,sayang." Ucap ibu Rey pelan.
"Tidak apa-apa Ma ,mungkin papa butuh waktu saja." Ucap Delia sambil duduk di samping ibu mertua nya ,di kursi tempat ayah mertuanya tadi di dudukinya.
"Biarkan papa sendiri dulu Ma,biarkan dia merenung,dia akan datang pada kita jika dia sudah merasa lebih baik dan siap." Ucap Delia menenangkan sang ibu mertua yang masih terisak.
"Keluarga pasien." Panggil seorang dokter wanita yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Rey yang berdiri lebih dekat dari dokter langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Rey dengan cemas.
Sang dokter pun menatap semua orang yang berdiri di dekatnya,lalu menggeleng pelan dengan raut wajah sedih.
"Semua baik-baik saja?" Tanya Rey lagi ,tentu ia paham maksud dari gelengan itu apa lagi wajah dokter itu menggambarkan raut sedih.
__ADS_1
"Bisa keruanganku,kita bicarakan di ruangan ku saja." Ajak dokter itu sembari berlalu,namun sebelum ia berlalu ia menatap ibu Rey sembari tersenyum tipis lalu menepuk bahunya pelan kemudian ia pun berjalan berlalu menuju ruangannya.
"Sayang,kamu jaga mama di sini,aku mu ketemu dokter dulu." Ucap Rey pada Delia.
Deli hanya mengangguk pelan sebagai jawaban,Rey pun berjalan menyusul sang dokter ke ruangannya.
"Apa semua baik-baik saja, dok ?" Tanya Rey saat dirinya sudah berada di ruangan dokter yang merawat Rosa.
"Silahkan duduk dulu pak." Ucap dokter wanita itu sambil tersenyum tipis mempersilahkan Rey duduk di kursi yang telah di siapkan di depan meja sang dokter.
Rey pun menarik kursi dan mendudukinya,ia kemudian menarik nafas pelan,menetralisir kan hati dan mempersiapkan mental nya untuk menerima segala kemungkinan terburuk.
"Kondisi nya semakin memburuk pak, sel-sel kanker nya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya dan menyerang organ vitalnya,kecil kemungkinan untuk bertahan." Jelas dokter itu dengan mimik sedih.
Rey yang mendengar nya pun begitu terkejut,tapi ia pun menyadari kanker adalah penyakit ganas yang mematikan,tapi ia tetaplah terkejut mendengar kenyataan jika Rosa kini dalam kondisi sangat tidak baik.
"Apa yang harus kami lakukan dok?" Tanya Rey lemas,ia seperti kehilangan pijakannya,kehilangan semangat hidup tapi ia tak boleh terlihat lemah di depan keluarga nya,ia harus kuat demi keluarga nya ,demi ibujya.
"Tidak banyak yang bisa kami lakukan,tapi akan melakukan yang terbaik,berusaha sebaik mungki,cukup doa kan dan terus berada di samping pasien,jangan membiarkannya stres ,berusahalah untuk menyenangkan hatinya agar gairah hidupnya bisa kembali karena hanya pasien sendirilah yang bisa menyembuhkan penyakitnya sendiri." Jelas dokter itu lagi .
"Akan kami lakukan dokter,apa pun itu."
"Tapi bagaimana kondisi sekarang,kapan dia bisa di keluarkan dari ICU?"
"Setelah keadaannya membaik,pasien hanya butuh ketenangan dan kenyamanan."
"Baiklah dok, terimakasih...kalau begitu saya permisi ." Rey pun beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan dokter dengan hati bercampur aduk.
__ADS_1