Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 144


__ADS_3

Ramon keluar dari ruang ICU dengan wajah lesu tak bersemangat.Ia lalu mengedarkan pandangannya dan melihat wajah-wajah cemas dan tegang di luar yang pasti sedang menunggu penjelasan darinya dan dokter yang menangani Rosa.


"Bagaimana ?" Tanya Rey pada Ramon yang baru saja keluar dari ruang ICU.


Ramon menarik nafas berat lalu menghembuskannya dengan pelan.Matanya menatap semua orang yang berdiri di depannya menunggu penjelasan darinya.


"Rosa koma."


Deg....


Serasa ada batu yang menghantam hari mereka saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ramon.


"Apa maksudmu?" Tanya Rey penuh penekanan,matanya menatap tajam ke arah Ramon.


Bukan saja hanya Rey yang terkejut tapi semua orang yang berada di tempat itu,ibu Rey bahkan sudah hampir ambruk ke lantai jika saja suaminya tidak segera menahan tubuhny dan membawanya ke kursi.


Delia pun lalu menghampiri ibu mertuanya dengan membawakan nya sebotol air mineral untuk sang ibu mertua.


"Minumlah ma." Delia membantu ibu mertuanya membukakan penutup botol air mineral itu dan memberikannya pada sang ibu mertua untuk di minumnya.


Sedangkan Vio hanya diam mendengarkan semua pembicaraan antara Ramon,Rey dan ayah Rey.


"Bagaimana bisa Rosa bisa koma,kemarin dia baik-baik saja meski belum sadarkan diri,tapi .." Ayah Rey tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya,ia pun benar-benar syok akan kondisi cucunya itu.


"Sebelum saya menelfon tadi,Rosa sempat terbangun dan dokter mengecek kondisi nya stabil,tapi saat perawat masuk keruangan nya untuk memeriksa nya lagi,Rosa tiba-tiba membuka matanya,saya yang kebetulan ingin mengecek kondisi Rosa saat itu di kejutkan dengan suara perawat memanggil dokter,saya pun masuk kedalam ruangan nya dan mendapati Rosa membuka matanya,di melambaikan tangannya sangat lemah,dan saya pun menghampiri nya,dia menyuruh saya mendekatkan telinga ke dekat bibirnya."


"Terus apa yang di katakan nya?" Potong Rey tak sabar.


"Dia mencari kalian semua,dan saat itulah saya menelfon,tapi setelah menghubungi mu dan saya kembali ke ruangan ini,Rosa sudahdi tangani dokter,dadanya begitu sesak hingga hampir saja mengalami gagal nafas tapi untung saja dia cepat mendapatkan penanganan dari dokter.Kondisinya sangat lemah dan kritis,jantung Rosa sempat terhenti tapi dokter berusaha dan bekerja keras agar Rosa bisa terselamatkan dan Rosa selamat tapi dalam keadaan koma." Jelas Ramon panjang lebar.


"Berdoalah Rosa bisa melewati masa kritis nya,dan kembali seperti biasanya, walau kemungkinan itu sangat kecil."Sambung Ramon lagi.

__ADS_1


#


#


#


Delia duduk termenung di sofa di ruang televisi,Matanya memandang kosong meski acara dalam layar televisi itu begitu meriah tapi semua itu tidak membuatnya menikmati tontonan itu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Rey sambil menepuk bahu Delia pelan dari belakang dan hal itu membuat Delia tersadar dari lamunan panjangnya.


"Mas,aku sedang menonton."


"Menonton?atau justru layar televisi itu yang sedang menonton mu." Sindir Rey lalu duduk di samping Delia sambil mencium pipinya sang istri.


"Dimana Kenan dan Vio?" Tanya Rey sambil mencari-cari keberadaan anak dan adik iparnya itu.


"Keluar,Ramon tadi menjemput mereka katanya ingin jalan-jalan."


"Lalu kamu di sini sendirian,apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku sedang memikirkan kondisi Rosa,Mas..." Delia menggantungkan ucapannya,ia sedang mencari kalimat yang tepat untuk mengutarakan maksudnya.


"Kenapa?" Rey lalu mencium jemari tangan istrinya itu yang berada di atas punggung tangannya.Rey begitu sulit menahan hasratnya jika berdekatan dengan sang istri.


"Tidak bisa kah kamu membuka pintu maaf mu untuk papa." Ujar Delia menatap sang suami,wajah Rey yang tadi ceria berubah dingin ketika mendapat kalimat yang keluar dari mulut Delia,ia lalu melepaskan genggaman tangan Delia .


"Kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah ini lagi."


"Iya, aku tahu itu,tapi mas u sampai kapan kita hidup seperti ini,apakah seumur hidup kamu akan menyimpan rasa dendam itu Mas?"


Delia lalu merubah posisi duduknya menghadap ke arah Rey,kini posisi mereka saling berhadapan.Delia lalu mengusap air mata yang sempat jatuh ke pipinya.

__ADS_1


"Berdamailah mas dengan masa lalu ,aku tidak tidak memintaku untuk melupakan semuanya begitu saja,tapi berikanlah kesempatan pada papa untuk memperbaiki segalanya." Bujuk Delia .


"Memberikan kesempatan? untuk apa memberikan kesempatan jika dia saja tidak meminta itu padaku,jika dia saja tidak mengakui kesalahannya lalu untuk apa aku memberikan maaf untuknya.Aku tidak ingin membahasnya lagi Delia, kita sudah menyepakati ini kan?" Rey lalu berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan Delia,namun tangannya di tahan oleh Delia.


"Kalau begitu mari kita menemuinya,meminta penjelasan pada papa." Ujar Delia .


Rey lalu memutar tubuhnya menghadap Delia yamgasih duduk di sofa.


"Jangan memancing kemarahan ku Delia,jika aku katakan tidak maka itu artinya tidak." Bentak Rey dengan nada sedikit menunggu hingga membuat Delia terperanjat kaget,ia tak pernah melihat Rey semarah ini padanya,selama ia hidup bersama Rey tak pernah meninggikan nada bicaranya. Rey lalu menghempaskan tangan Delia dan pergi meninggalkan nya,Rey keluar dari kamar sambil membanting pintu dengan keras yamg membuat Delia semakin terkejut dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Delia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan menatap langit-langit ruang televisi,linangan air matanya jatuh begitu saja,mengingat bentakan Rey padanya.


Sedangkan Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikiran nya sedang kacau banyak hal yang memenuhi pikirannya saat ini.


Rey melajukan mobilnya tanpa tujuan,ia hanya menyetir mengikuti jalan arah jalan.


Ban mobil Rey saling berdecit karena tiba-tiba saja Rey Rey mengerem rem mobilnya secara mendadak,untung saja Rey mampu mengendalikan laju mobilnya dan tidak sampai menabrak seseorang yang sedang menyeberang jalan.Rey menghela nafas lega saat mobilnya berhasil berhenti tepat di depan orang tersebut.Rey lalu membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil bermaksud ingin menemui dan mengecek kondisi orang yang hampir saja jadi korban tabraknya.


"Maaf,saya tidak melihat anda tadi." Ujar Rey svil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu orang itu berdiri ,orang itu begitu syok dan terkejut saat dirinya melihat kaki mobil yang hampir saja menabraknya.


"Kalau menyetir liat-liat dong,anda pikir jalan ini punya nenek moyang anda,sehingga anda menyetir ugal-ugalan seperti ini, bagaimana jika saja tadi saya tertabrak ." Omel orang itu yang ternyata seorang wanita ,


Wanita itu lalu berdiri dan menghempaskan tangan Rey yang terulur ingin membantunya.


Baru saja ingin menyambung omelannya ,wanita itu justru begitu terkejut saat melihat wajah Rey,ia lalu menepuk-nepuk kedua pipinya pelan,untuk meyakinkan nya jika pria yang berdiri di depannya adalah orang yang begitu di kenalnya.


"Rey." ucap wanita itu spontan dan membuat Rey kebingungan karena wanita itu mengetahui namanya,ia pun mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan wanita itu,tapi ia sama sekali tak memiliki bayangan apa pun dengan wanita yang semula marah-marah padanya tapi kini berganti tersenyum lebar.


"Kamu Rey kan?" Tanya wanita itu lagi untuk meyakinkan nya.


Rey lalu mengangguk,baru saja akan bertanya Rey justru di kejutkan oleh tingkah wanita itu yang tiba-tiba saja memeluknya begitu erat,hingga membuat Rey sulit untuk bernafas.

__ADS_1


"


"


__ADS_2