Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 94


__ADS_3

Boy uring-uringan di ruangan kerjanya, setelah mendapat kabar dari bagian informasi jika Delia tidak masuk kerja hari ini, padahal ia sudah menyusun rencana bersama Mona.


Boy membanting ponselnya di atas meja saat panggilan nya tidak di jawab oleh Delia.


"Sial kemana dia,apa jangan -jangan Delia sedang sakit?" Gumam Boy.


Boy mengambil ponselnya yang di banting nya tadi di atas meja,lalu berjalan keluar ruang kerja,ia terlihat begitu khawatir pada Delia.


Boy berjalan dengan tergesa-gesa dan tak peduli dengan orang-orang yang menyapanya sepanjang koridor, fikirannya kini hanya tertuju pada Delia seorang.


Boy melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Delia yang sebenarnya begitu dekat dari klinik,hanya butuh lima belas menit berjalan kaki dan jika naik kendaraan sekali tancap sudah sampai Karna klinik dan tempat tinggal Delia saling berhadapan hanya di batasi jalan raya saja.


Boy menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Delia, keningnya berkerut heran saat mendapati sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumah Delia.


Dengan rasa penasaran Boy turun dari mobilnya,ia memperhatikan mobil yang terparkir itu dengan seksama sambil berjalan masuk pekarangan rumah .


Hatinya semakin di buat bertanya -tanya saat ia mendengar suara pria dari dalam rumah sedang berbincang dengan seseorang yang ia pastikan itu adalah Delia Karna Boy sudah hafal suara Delia .


Tok....tok....Boy mengetuk pintu dengan kencang seakan ia akan merobohkan pintu itu.


Mata Boy melotot dan wajah nya berubah jadi kesal saat dirinya melihat seorang pria yang telah membuka kan pintu untuknya .


" Kamu? ngapain kamu di sini?" Tanya Boy kesal saat melihat justru Rey yang membuka kan pintu untuknya.


"Oh...bukan waktunya bertamu pagi-pagi seperti ini." Ujar Ray sambil menyandarkan tubuhnya di daun pintu dengan melipat kedua tangannya di dada .


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Boy lagi tanpa berniat menjawab pertanyaan Rey.Hatinya sudah begitu menahan amarah melihat Rey dan Delia berada dalam rumah bersama sepagi ini .


"Ya seperti yang kamu lihat." Ucap Rey santai sambil mengedikkan bahunya.


"Siap...?" Pertanyaan Delia terhenti saat ia melihat Boy sedang berdiri di depan pintu berhadapan dengan Rey yang berdiri di tengah-tengah pintu sambil bersandar pada daun pintu yang masih tertutup sebelah.


"Pak Boy..." Ujar Delia bingung Karna kedatangan Boy kerumahnya di pagi seperti ini.


"Boleh aku masuk?" Tanya Boy Karna dirinya sedari tadi hanya berdiri di luar Karna Rey menutup jalannya masuk.


"Oh ..iya pak silahkan." Ucap Delia lalu menarik lengan Rey untuk bergeser membuka jalan pada Boy.

__ADS_1


Boy semakin di buat kesal saat Delia menarik tangan Rey dan tak melepaskan nya .Tanpa sadar Delia melingkar kan tangannya di lengan Rey dan Rey menyadari itu kemudian menaik turunkan alisnya pada Boy.


Tanpa di persilahkan Boy menghempaskan tubuhnya di sofa, sedangkan Rey dan Delia berjalan sambil bergandengan tangan tanpa sadar.


"Heeemmmm." Dehem Boy dan Delia pun tersadar dengan apa yang dia lakukan.Delia lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rey dan jadi salah tingkah yang kemudian membuat Rey tersenyum tipis berbanding terbalik dengan raut wajah Boy yang menyimpan kekesalan sejak berada di rumah Delia .


"Kenapa tidak masuk kerja?" Tanya Boy ,dia benar-benar kesal sekarang.


"Istriku sedang mengurus suaminya yang lagi sakit." Jawab Rey sambil duduk di sofa di depan Boy, mereka kini saling berhadapan dengan tatapan permusuhan, sedangkan Delia masih berdiri di tengah-tengah kedua pria yang duduk di sofa itu.


Delia melirik ke arah Rey Karna mendengar ucapannya .


"Benarkan,sayang?" Rey menatap Delia yang berdiri sambil tersenyum.


Sedangkan Boy semakin di buat kesal dengan apa yang di lakukan oleh Rey padanya.


"Maaf pak,saya tadi sudah isin untuk tidak masuk kerja hari ini." Jawab Delia tak enak hati .


"Tapi kenapa?"


"Eemm, Semalam Rey demam dan hari ini tubuhnya masih lemas,jadi saya akan merawatnya seharian ini sampai dia benar-benar pulih." Jelas Delia yang tanpa sadar membuat Boy semakin geram.Boy menatap ke arah Rey yang duduk dengan santainya di sertai senyum kemenangan.


Delia berjalan menyusul Boy yang sudah berada di teras.


"Anda sudah mau pulang?" Tanya Delia dengan polosnya,ia benar-benar tidak peka dengan apa yang terjadi pada hati Boy.


Boy tak menjawab pertanyaan Delia,ia terus berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di luar.Boy membuka pintu mobilnya lalu masuk di bagian kemudi kemudian membanting pintu mobilnya dengan keras membuat Delia yang berdiri di teras terperanjat mendengar suara bantingan pintu mobil Boy.


"Ada apa dengannya?" Gumam Delia bingung sambil menatap mobil Boy yang melaju kencang meninggalkan rumahnya.


"Mungkin hatinya sedang panas." Ucap Rey dari belakang,Delia menoleh ke arah Rey kemudian berjalan masuk ke rumah,Rey pun menyusul dari belakang.


"Aneh...dia benar-benar aneh."Delia kembali duduk di sofa sambil menyetel remot televisi .


"Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Delia saat ia melihat Rey duduk di sofa di samping nya.


"Masih agak lemah.' Ucap Rey Pura- pura padahal keadaan nya sudah sangat baik sekarang,apa lagi saat melihat Boy tadi yang begitu kesal menahan amarah Karna rencananya untuk bersama Delia di gagal kan oleh Rey.

__ADS_1


"Kamu mau buah?" Tanya Delia.


Rey mengangguk cepat,ia begitu bahagia mendapatkan perhatian yang begitu tulus dari Delia, ingin rasanya ia menghentikan waktu agar dirinya dan Delia terus berada dalam situasi bahagia ini.


Delia beranjak,lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil buah yang sebenarnya sudah di kupas dan di potong -potong kecil olehnya tadi sebelum Boy datang.


Tak butuh waktu yang lama Delia keluar membawa piring yang berisi potongan buah,ia kemudian duduk di sofa tempatnya duduk tadi,lalu meletakkan piring yang berisi buah di atas meja.


"Makanlah."


Bukannya mengambil buah,Rey justru menatap ke arah Delia dengan mata puppy eyes nya,Delia menghela nafas panjang melihat tingkah Rey yang berubah jadi begitu manja padanya.


Tak ingin berdebat,Delia terpaksa mengambil buah menggunakan garpu lalu di arahkan ke mulut Rey yang sudah terbuka sedikit .


"Makasih." Ucap Rey senang dengan mulut yang masih mengunyah buah.


Rey Kemudian mengambil garpu yang di letakkan Delia di atas piring lalu menusuk kan buah pada garpu itu.


"Makanlah juga." Ujar Rey sambil mengangkat garpu itu ke depan mulut Delia yang masih tertutup dan menatap bingung ke arah Rey.


"Buka mulutmu,kamu juga harus makan kan?"


"Aku bisa sendiri." Tolak Delia, jantungnya tiba-tiba berdegup begitu kencang.


"Ayo....aaaaaaa." Bujuk Rey lagi tanpa lelah.


Delia yang sudah tak bisa menang jika berhadapan dengan Rey terpaksa membuka mulutnya dan buah pun masuk ke mulutnya.


"Cieeerr yang lagi romantis." Seru seseorang yang tiba-tiba telah berdiri di ambang pintu, membuat Rey dan Delia menoleh ke arah pintun dan mereka mendapati Ramon dan Revan sudah berada di pintu tanpa mereka sadari.


"Sejak kapan kalian di situ?" Tanya Rey kesal karna Revan dan Ramon telah mengganggu keromantisan nya bersama Delia.


"Sejak kalian saling suap-menyuap."Jawab Ramon cengengesan melihat tingkah Rey yang selama ia mengenal Rey ini pertama kali nya sahabatnya itu berlaku manis pada seorang wanita, sahabat nya ini benar -benar sedang di butakan cinta.


Ramon duduk di sofa yang berada di depan Rey dan Delia,di susul Revan yang juga duduk di sampingnya.


"Kenapa berhenti,ayo lanjutkan, anggap saja kami ini adalah patung ." Goda Ramon sambil tertawa mengingat tingkah Rey tadi.Revan yang melihat Ramon tertawa akhirnya juga ikut tertawa,dan jadilah mereka tertawa memecah keheningan,rumah Delia seketika ramai akibat tawa kedua pria yang baru saja masuk ke dalam.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari dari kejauhan di seberang jalan,ada seseorang yang telah menatap rumah yang mereka tempat itu dengan seringai licik.


__ADS_2