Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 106


__ADS_3

"Jika rindu katakan rindu,kenapa harus menahannya itu akan menjadi penyakit." Ucap Delia sambil memeluk Rey dari belakang di balkon kamar hotel tempat mereka menginap.


Rey lalu memutar tubuhnya menghadap kearah sang istri lalu kembali menariknya kedalam pelukannya.


"Mama adalah wanita yang baik,ia begitu menyayangi ku seperti anak kandungnya sendiri." Ucap Rey mengingat kenangannya bersama sang ibu.


"


Lalu kenapa kemarin kamu terkesan begitu tidak peduli padanya,mama pasti sangat sedih melihat perubahan sikap putranya pada dirinya."


"Aku hanya tidak ingin ,kembali merasakan sakit yang sama,aku tidak ingin menjalani hidup dengan keluarga yang adalah musuh yang sebenarnya."


Delia melepas pelukannya dari sang suami lalu menatap suaminya dengan dalam.


"Jangan berkata seperti itu,mereka bukan musuh kita,tapi Meraka adalah keluarga kita,orang tua kita yang masih tersisah." Ucap Delia bijak,ia tidak ingin Rey semakin jauh dari orangtuanya,cukup mereka kehilangan orang tua kandung.


"Aku belum bisa menerima kenyataan itu dan belum bisa memaafkan perbuatan papa,apa pun alasannya perbuatannya telah menghancurkan keluargaku,merenggut kebahagiaan anak kecil yang saat itu masih sangat membutuhkan sosok orang tuanya." Rey merebahkan kepalanya di pundak sang istri,hatinya begitu lemah sekarang, ia berada dalam posisi yang menyakitkan.Bayangan kecelakaan berpuluh tahun yang lalu kembali muncul di otaknya .


Delia mengusap lembut rambut suaminya,ia paham dilema yang sedang di hadapi suaminya itu,masalah keluarga suaminya ini begitu rumit,namun ia bertekad untuk mengakhiri ketegangan dalam keluarga suaminya.


Rey terlihat begitu rapuh di hadapan Delia,tak ada rasa gengsi atau pun malu,Rey benar-benar melepas segala beban hidupnya selama ini di pundak sang istri.


"Manangislah jika itu dapat membantu mu meringankan beban yang ada,Karna saat kita masih bisa menangis itu tandanya kita hanya lah manusia biasa,keluarkan segalanya sayang...jangan menyimpannya sendiri ,aku akan selalu disini bersamamu ." Ujar Delia,ia pun turut menangis dalam pelukan sang suami,hati wanita itu memang begitu lembut.


"Berjanji lah untuk tidak meninggalkan ku , selalu berada disisi ku selamanya,aku tidak akan bisa hidup tanpa mu,aku begitu rapuh sekarang."


Delia mengecup kening Rey dengan cukup lama,menyalurkan kekuatan dan semangat untuk sang suami.


"Ayo masuk,ini sudah larut,kita harus istirahat,bukankah besok kamu ingin mengajakku ke suatu tempat?" Ujar Delia mengingatkan.

__ADS_1


Rey yang masih berada dalam pelukan Delia, kemudian mendongak lalu menatap Delia dengan penuh cinta.


"Iya,ayo kita istirahat,dan ...." Rey menggantungkan ucapannya saat melihat mata Delia yang melotot pada nya.


Rey terkekeh lalu menggandeng tangan Delia masuk ke kamar,tapi bukannya tidur,Rey justru meminta vitamin dulu katanya agar dia bisa tertidur pulas.


Dan pada akhirnya mereka melewati malam yang begitu panjang hingga melakukan nya berulang kali,seakan tenaga mereka tak ada habisnya.


Pagi-pagi Rey dan Delia sedang bersiap untuk meninggalkan hotel yang dua hari ini mereka menginap.Rey berencana untuk mengajak Delia ke mansion milik orang tua kandungnya.Sudah lama juga ia tak berkunjung ke mansion itu,terakhir ia berkunjung saat dirinya menjenguk Rosa yang saat itu dirinya dan Delia berada dalam tahap yang tidak baik-baik saja.


"Sudah siap?" Tanya Rey saat melihat Delia duduk di pinggir tempat tidur sambil memainkan ponselnya .


"Sudah." Jawab Delia sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing yang ada di sampingnya.


"Ayo,sopir sudah menunggu kita di bawah." Ajak Rey lalu menggandeng tangan sang istri,Delia pun mengikuti langkah Rey .Semalam Rey sudah memberitahu kepala pelayan yang bertanggung jawab mengurus mansion milik orang tuanya itu agar bersiap Karna ia dan istrinya akan berkunjung ke mansion.


Saat sudah berada di lobi hotel,terlihat seorang pria sedang berjalan menuju ke arah Rey dan Delia.


"Baiklah.." Ucap Rey lalu berjalan lebih dulu meninggalkan sang sopir yang masih beridir tertunduk,setelah merasa sang tuan sudah keluar ,ia pun menyusul dari belakang .


Mobil melaju dengan kecepatan sedang,Rey dan Delia dudk di bagian kursi penumpang belakang,Delia menyandarkan kepalanya di dada sang suami,ia terlihat masih begitu lelah Karna semalam Rey benar-benar menguras tenaganya hingga menjelang subuh baru Rey mengakhiri permainan nya.


"Tidurlah,nanti aku bangunkan kalau kita sudah sampai." Ucap Rey lembut dia paham betul jika istrinya itu masih mengantuk dan kelelahan akibat perbuatannya sendiri.Entah mengapa ia merasa begtu bertenaga jika bercumbu dengan sang istri,seolah ia kekuatan nya semakin bertambah barkali-kali lipat .


Tiga puluh menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di mansion,mobil masuk ke dalam pekarangan mansion milik orang tua Rey dan berhenti di parkiran,jarak parkiran dan pintu utama masih beberapa meter.


"Sayang,bangun kita sudah sampai." Ucap Rey membangunkan Delia sambil menepuk-nepuk pipi Delia dengan lembut.


"Kita sudah sampai?" Tanya Delia sambil mengucek-ngucek matanya dan mengumpulkan kesadarannya.

__ADS_1


"Iya,ayo turun.." Ajak Rey lalu membuka pintu mobil,ia pun keluar dari mobil dan Delia ikut di belakangnya,saat sudah berdiri di depan pintu,Rey kembali menggandeng tangan Delia dan melangkah masuk menuju pintu utama bersama Delia .


Semua pelayan sudah bersiap untuk menyambut mereka Delia Melihat beberapa pelayan sedang berdiri di teras sambil menunduk .


"Selamat datang tuan dan nyonya." Sapa mereka saat Delia dan Rey berjalan melewati mereka.


Rey hanya terdiam dan tak membalas sapaan dari pelayanan nya, sedangkan Delia terlihat lebih ramah dengan mereka.


Rey dan Delia menghempaskan tubuh mereka di sofa ruang tamu,dan dari arah dapur terlihat dua pelayan wanita sedang membawa minuman dan cemilan,mereka lalu meletakkannya di atas meja.


"Silahkan tuan dan nyonya." Ucap salah satu pelayan itu setela mereka menyajikan makanan dan minuman untuk kedua majikan mereka.


"Makasih .." Ucap Delia sambil tersenyum ramah dan itu membuat kedua pelayan itu lega karna nyonya mereka seperti orang begitu baik.


Kedua pelayan itu pun berlalu meninggalkan ke dua majikan mereka dan pak Bian kepala pelayan yang sedang berdiri di depan Rey dan Delia.


"Kenapa ,anda berdiri? ayo duduk." Ucap Delia bingung dan tak enak hati melihat seorang pria yang jauh lebih tua darinya hanya berdiri saja, menurutnya itu tidak sopan membiarkan orang tua berdiri dan dia yang lebih muda malah duduk.


"Tidak apa-apa nyonya muda,saya di sini saja."


"Kenapa begitu,kita sama -sama manusia kan,bapak duduk saja..tidak apa-apa,iya kan sayang?" Ujar Delia meminta pendapat Rey.


Rey yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan istri dan kepala pelayan itu hanya mengangguk sebagai jawaban kalau dia setuju dengan yang di katakan oleh istrinya itu.


"Duduklah pak Bian." Ucap Rey .


"Tidak apa-apa tuan,saya disini saja." Tolak pak Bian lagi.


Tak ingin berdebat lagi Delia pun akhirnya mengalah dan membiarkan kepala pelayan keluarga suaminya itu tetap berdiri di tempatnya meski ada rasa tak enak di hatinya,mungkin Karna dia belum terbiasa dengan kehidupan orang kaya pikirnya.

__ADS_1


"Aku akan mengajak istriku ke makam orang tua ku,sore nanti ." Ucap Rey pada pak Bian saat mereka hanya tinggal berdua saja di ruang tamu, sedangkan Delia


__ADS_2