Dokter Cinta Sang CEO

Dokter Cinta Sang CEO
Episode 103


__ADS_3

Rey dan Delia mampir ke sebuah restoran untuk makan malam,keduanya pun keluar dari mobil lalu masuk ke dalam restoran itu.


"Mau makan apa sayang?" Tanya Rey saat menerima buku menu yang di berikan oleh pelayan padanya.


Delia lalu menunjuk menu yang di pilih nya dan memberikan kembali buku menu kepada pelayan tersebut.


"Samakan saja." Ucap Rey saat melihat menu yang di pilih Delia.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja mereka.


"Temanku menawarkan pekerjaan, katanya di rumah sakit tempat nya bekerja sedang kekosongan dokter anak,Karna dokter anak yang sebelumnya bekerja resign Karna ingin mengikuti suaminya yang di tugaskan diluar kota." Ujar Delia.


"Di rumah sakit mana, kenapa tidak kembali kerumah sakit X saja sih,itukan rumah sakit milikku."


"Tidak,aku ingin bekerja di rumah sakit lain saja,biar dapet pengalaman lebih banyak lagi." Ujar Delia beralasan,padahal ia tak ingin kembali bekerja di rumah sakit itu Karna dulu dirinya pernah mendapat peringatan dari ayah Rey untuk berhenti dan tak kembali lagi ke Jakarta jika ingin keluarga nya selamat,tapi toh akhirnya dirinya kehilangan kedua orang tuanya dan hampir saja kehilangan Vio.


"Aku jadi kangen Rosa,bagaimana kabarnya sekarang ?" Lirih Delia yang tiba-tiba memikirkan Rosa.


Rey menatap Delia dengan tersenyum.


"Kamu ingin menemui nya?" Tanya Rey.


"Apa boleh?"


"Tentu saja,Jika ingin bertemu dengannya kita bisa menemuinya di Singapura,kapan kamu ingin menemuinya,hemm?"


"Terserah kamu saja,kapan kamu ada waktu luang."


"Baiklah bagaimana kalau bulan depan."


"oke.."


Setelah menghabiskan makan malam ,Rey dan Delia pun kembali ke apartemen untuk beristirahat.


...****************...


Di Jerman Vio yang sudah semakin membaik ,ia pun juga sudah mulai beraktivitas walau aktivitas yang ringan saja,setidaknya perkembangan nya semakin membaik.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ramon saat baru saja membuka pintu ruangan Vio tapi pandangan nya langsung tertuju pada gadis cantik yang sedang kesusahan menurunkan botol infusan dari tiang gantungan.


Vio menoleh saat mendengar suara Ramon lalu menghentikan aktivitas nya.


"Aku ingin ke toilet." Ujar Vio ragu-ragu.


Ramon kemudian berjalan mendekat ke arah Vio lalu membantunya melepas slang infusnya yang sedari tadi berusaha ia lepas dari tiang.

__ADS_1


"Kalau ingin melakukan sesuatu kamu pencet saja tombol itu,perawat akan langsung datang membantu mu ." Ujar Ramon lalu bersiap ingin menggendong tubuh Vio.


"Kamu mau apa?"


"Ya mau membantu mu masuk ke toilet,mau apa lagi."


"Tidak usah aku bisa sendiri."


Ramon memutar bola matanya malas,lalu tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Vio.


Vio yang merasa tubuhnya tiba-tiba melayang terpaksa pasrah saja saat Ramon mengangkat tubuhnya dan membawanya ke toilet.


Ramon mendudukkan tubuh Vio di atas closet sambil memegang tinggi botol infus Vio.


"Ngapain di sini?"Tanya Vio yang bingung melihat Ramon masih berada di dalam bersama nya .


Ramon menghela nafas pelan ,lalu menoleh ke arah Vio.


"Tentu saja menunggui mu." Ucap Ramon santai.


"Enak saja,sana keluar,aku bisa sendiri,kamu mau modus ya." Seru Vio sambil mendorong tubuh Ramon,namun usahanya itu sia-sia saja Karna tubuh Ramon tak bergeser sedikit pun.


"Tenang saja,aku tidak akan melihat nya,sana buang air saja." Ucap Rey lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu membelakangi Vio yang sedang duduk di atas closet.


"Sudah..."Ucap Vio.


"Jangan berbalik." Teriak Vio cepat dan sontak saja Ramon terkejut mendengar suara teriakan Vio yang begitu keras.


"Kenapa?" Tanya Ramon heran.


"Eemmmmm itu...itu anu.."


"Anu apa bilang saja."


"Eeemmm aku susah memakai celanaku lagi." Lirih Vio pelan sambil menunduk malu,ia benar-benar sangat malu tapi mau bagaimana lagi ia benar-benar kesusahan memakai ********** lagi yang berada di pahanya.


"Lalu..?" Kali ini Ramon benar-benar salah tingkah Karna di hadapkan pada situasi yang tak enak seperti ini,jika saja Vio adalah istrinya tentu saja ia akan membantu dengan senang hati tapi Vio bukan siapa - siapanya, bagaimana bisa ia lancang memasangkan celana Vio.


"Eemmm bisa membantu ku?"


"Hach...ba.... bagaimana bisa,aduh aku bingung."


Ramon kebingungan,tak tahu harus melakukan apa,tapi jika diam seperti ini mereka akan lebih lama lagi berada di dalam toilet ini.


"Ya sudah pegang ini." Ramon kemudian memberikan botol infus yang di pegangnya sedari tadi,setelah Vio memegang botol infus nya,Ramon pun melangkah mundur lalu tangan nya ia arahkan ke arah Vio,jantung Vio dan Ramon berdetak begitu kencang dan saling bersahutan,dengan pelan Ramon memegang kedua sisi celana Vio lalu dengan susah payah memasang celana Vio dengan tubuh menghadap pintu sedang tangannya bekerja membantu Vio .

__ADS_1


Setelah di rasa cukup,Ramon pun melepaskan tangannya dan kembali mengambil botol infus yang sempat di pegang Vio untuk memberikan Vio waktu memperbaiki pakaian nya.


Sudah?" Tanya Ramon.


"I...iya."


Setelah mendengar jawaban Vio,Ramon pun kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah Vio yang sedang duduk,tanpa berucap Ramon lalu mengangkat tubuh Vio,setelah Vio mengambil alih botol infusnya .


Ramon lalu meletakkan tubuh Vio di atas tempat tidur lalu memasang kembali botol infusnya pada tempatnya.


"Makasih." Ucap Vio.


"Sama-sama."


Suasana seketika jadi canggung,pikiran mereka kembali pada kejadian barusan saat di toilet.


"Lagi ngapain?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah pintu,dan membuat Ramon dan Vio terkejut.


"Kalau masuk itu beri salam dulu ke'." Kesal Ramon saat melihat Revan masuk ke dalam ruangan.


"Sorry." Ucap Revan lalu duduk di sofa.


"Bagaimana keadaan kak Vio?" Tanya Revan sambil menatap ke arah Vio yang sedang duduk bersandar.


"Ya seperti yang kamu lihat."Jawab Vio lemah,ia benar-benar merasa jenuh sekarang Karna berada di rumah sakit tanpa bisa melakukan hal-hal lain Karna dirinya belum bisa berjalan seperti sebelumnya,kakinya masih lemah untuk menopang tubuhnya.


"Kapan kak Vio bisa keluar?" Tanya Revan pada Ramon yang tengah duduk di depannya sambil memeriksa laporan kesehatan Vio.


"Kita lihat seminggu ini,jika sudah di rasa tak ada keluhan lainnya,Vio bisa keluar dan cukup rawat jalan saja ,dan kita bisa melakukan terapi untuk membantu menguatkan otot-otot nya lagi ." Jelas Ramon.


"Aku akan memberitahu kak Delia kabar baik ini." Ujar Revan antusias .


"Kak Vio mau makan?" Tanya Revan sambil mengeluarkan beberapa makanan dari kantong plastik yang sempat di belinya tadi sebelum kemari.


"Iya,aku lapar ."


"Berikan padaku,biar aku yang memberikan nya pada nya."Ucap Ramon lalu menutup kembali laporan kesehatan Vio yang di bacanya tadi.


"Buka mulutmu." Ujar Ramon lalu sambil mengangkat sesendok makanan untuk di suapi ke Vio.


"Aku bisa sendiri dok." Tolak Vio.


"Tangan mu masih lemah,belum bisa memegang sesuatu telalu lama." Ucap Ramon beralasan.


Vio lalu membuka mulutnya dengan pasrah, berdebat dengan pria di sampingnya ini adalsh hal yang sia-sia karena pada akhirnya dia yang akan menang .

__ADS_1


__ADS_2