
Pagi ini Delia sudah bersiap untuk kembali berangkat bekerja,semua pekerjaan nya di apartemen sudah selesai ia kerjakan,termasuk sarapan buatannya sudah tersaji di meja makan.
Baru saja Delia akan keluar dari kamar,Rey juga keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas pinggang,setiap melihat Rey dengan penampilan seperti itu tubuh Delia berubah jadi panas dingin, sementara Rey yang di tatap tajam oleh sang istri hanya tersenyum kecil dan melangkah menuju tempat tidur dimana pakaian kantornya sudah di sediakan oleh Delia.
Delia keluar dari kamar menuju meja makan untuk mempersiapkan sarapan bersama Rey, setelah semua sudah sudah tersaji ia kemudian duduk di kursi menungggu Rey yang sedang memakai pakaiannya.
Tak berapa lama ,Rey keluar dengan sedikit kerepotan memasang dasinya,Delia yang melihat kerepotan suaminya itu bergegas beranjak menghampiri Rey ,ia lalu mengambil alih dasi yang yang sedari tadi di pasang Rey tapi tidak berhasil,dengan sigap Delia memasang dasi Rey ia menarik pelan dasi Rey sehingga wajah mereka terlihat begitu dekat,bahkan helaan nafas mereka menyatu,Delia begitu fokus dengan apa yang di kerjakan nya, sementara Rey hanya menatap wajah istrinya itu yang semakin hari semakin mempesonanya.
" Selesai." Ucap Delia tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu di iringi senyum sumringah lalu berbalik ingin kembali ke tempatnya semula,namun sebelum berbalik Rey mengecup kening dan pipi Delia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Kecupan selamat pagi.." Selah Rey cepat sebelum Delia memberi kan protesnya.
Wajah Delia yang merona semakin bertambah merona ,dengan agak cangggung Delia berbalik dan meninggalkan Rey yang masih berdiri di posisinya dengan senyum penuh kebahagiaan,lalu beranjak mengikuti sang istrinya menuju meja makan.Keduanya menyantap nasi goreng dengan begitu lahapnya tanpa ada yang membuka suara,hanya dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Selesai sarapan keduanya menuju lobby menggunakan lift,lalu masuk ke mobil dengan Rey yang duduk di kursi kemudi dan Delia yang duduk di sampingnya.
Mobil melaju pelan menuju rumah sakit untuk mengantarkan Delia ,di sepanjang jalan terlihat begitu padat karna memang waktu sepagi ini orang -orang begitu sibuk,ada yang berangkat kerja,sekolah,kuliah,bahkan sekedar lewat saja.
Dan disinilah Rey dan Delia sekarang dalam antrian kemacetan lampu merah.
"Aku akan menjemputmu,sore nanti jadi tunggu aku." Aku ucap Rey membuka suara saat mereka tengah berada dalam kemacetan.
"Apa itu tidak menggangu pekerjaan mu,jarak kantor mu ke rumah sakit lumayan jauh,aku bisa menggunakan mobilku." Ucap Delia merasa tidak enak karna takut membuat suaminya itu kerepotan nantinya.
Rey menoleh ke arah Delia ,ia menatap tajam dan dingin pada Delia, sedangkan Delia yang melihat tatapan mematikan itu menghela nafas berat.
__ADS_1
"Baiklah." Lanjut Delia lagi,ia harus banyak -banyak pada pria yang seenaknya ini.Mendegar ucapan Delia ,Rey tersenyum sumringah karna istrinya ini tak lagi keras kepala seperti biasanya,ia begitu penurut akhir-akhir ini.
"Jangan genit-genit,dan hindari berdekatan dengan dokter atau pasien pria." Titah Rey posesif yang membuat Delia melongo dengan mulut sedikit terbuka tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan." Meski anak kecil sekalipun tapi mereka kan juga laki-laki." Lanjut Rey lagi ,seketika Delia menepuk jidatnya karna keposesifan suaminya itu.
"Bahkan pada anak kecil pun dia begitu posesif,menyebalkan."Cibir Delia dalam hatinya.
"Jangan mencibirku."Ucap Rey namun tatapan nya tetap tertuju pada kendaraan yang berjejer di depannya.
"Apa dia ini cenayang?" Batin Delia karna Rey selalu menebak dengan benar isi pikirannya.
Sementara di samping mobil Rey terdapat juga sebuah mobil mewah yang tepat berada di samping tempat duduk Delia.
Orang yang berada dalam mobil hitam mewah itu sedari tadi memperhatikan kelakuan Rey dan Delia di balik kaca mobilnya ,ia lalu tersenyum kecut melihat kedekatan mereka.
" Cari tahu identitas dokter itu." Perintah ayah Rey pada asisten yang duduk di depan samping sopir.
" Baik tuan."
Ya mobil mewah yang berada di samping mobil Rey tadi adalah mobil milik ayahnya tetapi Rey tidak menyadari nya.
"Anak itu kini sudah mulai bertindak sendiri rupanya." Gumam ayah Rey menahan kesal,saat melihat bagaimana Rey memperlakukan Delia dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.Sejujurnya ada rasa bahagia di hati ayah Rey melihat perubahan sikap Rey yang begitu manis saat bersama Delia berbanding terbalik jika Rey bersama Mona,Namun pikiran itu segera di tepisnya, bagaimana pun caranya Rey harus menikah dengan Mona dengan atau tanpa persetujuan dari Rey sendiri.
"Jalan..." Titah ayah Rey saat Rey sudah kembali masuk kedalam mobilnya dan Delia yang tersenyum bahagia melambaikan tangannya untuk suaminya saat mobil Rey melaju meninggalkan Delia di halaman rumah sakit menuju kantornya.
Delia melangkah masuk ke rumah sakit setelah kepergian Rey,dengan langkah gontai ia berjalan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya saat Delia bertemu beberapa pasang mata yang menyapanya.
__ADS_1
Baru saja akan Delia akan masuk ke ruangannya suara seorang wanita menghentikan langkahnya.
"Jadi ini dia pelakor itu?" Seru Mona dengan suara di buat sekeras mungkin menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di dekat ruangan Delia,begitu banyak mata yang langsung memandang Delia karna saat ini sudah waktu pelayanan pasien rawat jalan yang sedang menunggu giliran untuk di periksa.
Delia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa gerangan yang telah menyebut nya seorang pelakor dan betapa terkejutnya saat Mona sudah berdiri di depannya dengan tatapan penuh permusuhan.
"Hooo...Selamat ya sudah berhasil menggoda calon suami ku, sehingga dia rela memutuskan pertunangan kami." Sambungnya lagi sambil berjalan mendekati Delia yang saat ini tengah menahan malu, bagaimana tidak semua orang yang ada di situ kini menatap nya dengan cibiran,ada yang berbisik ada pula yang tersenyum kecut,dirinya benar- benar di permalukan di tempat umum terlebih itu di tempatnya bekerja.
"Apa maksud anda?" Tanya Delia yang pura- pura tak mengerti akan ucapan Mona padahal ia paham betul maksud Mona dan inilah yang di takuti nya .
"ha...jangan pura-pura polos kamu, katakan padaku apa yang sudah kanu lakukan pada calon suami ku hach...ohh.. jangan -jangan kamu menggodanya dengan memberikan tubuhmu ini ." Tuduh Mona sambil menatap Delia dari atas sampai ke bawah dengan sedikit meremehkan.
Delia yang mendengar hinaan dan fitnahan Mona seketika darah berdesir ,ada kemarahan yang tertahan ingin rasanya Delia menampar dan mencabik mulut Mona yang dengan mudahnya menuduh dirinya,namun semua kemarahan itu di pendamnya mengingat dirinya kini jadi bahan perhatian orang-orang.
"Jaga mulut anda." Ucap Delia dengan penuh penekanan.
"Apa kamu bilang,jaga mulutku,kamu yang jaga kelakuan mu,lihatlah kalian dokter yang kalian banggakan ini adalah wanita murahan yang rela menjual dirinya demi mendapatkan calon suami ku yang tampan dan kaya raya." Teriak Mona pada orang-orang yang berada di situ,yang membuat Delia kini kehilangan muka dan tak berkutik.
plaaakkk sebuah tamparan keras yang tiba- tiba mendarat di pipi putih Delia membuat semua pasang mata terkejut akan perbuatan Delia,Delia yang tak menyangka akan mendapat tamparan itu seketika kaget dan tak mempunyai waktu untuk menghindari tamparan Mona bahkan Delia belum begitu mencerna apa yang terjadi kembali di kejutkan dengan sakitnya tarikan rambutnya yang yang di tarik oleh Mona,saking sakitnya rambutnya itu seakan ingin lepas dari kulit kepala,Delia sudah tak bisa berbuat apa-apa hanya air mata yang mewakili kesakitan dan rasa malunya jadi tontonan orang-orang di rumah sakit itu.
"Hentikan..." Suara seorang pria menghentikan tindakan Mona yang menggila,hampir saja kepala Delia ia benturkan ke tembok jika saja tidak ada suara yang begitu ia kenal menghentikan nya,Mona menoleh ke sumber suara itu lalu melepaskan tangannya dari rambut Delia dengan keras sehingga membuat kepala Delia terhuyung dan terbentur ke tembok,ia begitu malu seakan harga dirinya kini sudah tak ada lagi,bahkan orang - orang yang kebanyakan ibu- ibu yang mengantar anaknya untuk memeriksa kan diri itu tak ada yang menolongnya hanya menonton nya saja,dengan penuh air mata Delia tertunduk malu ia sudah tak sanggup lagi mendongak rasanya ia ingin menghilang saja dari tempat itu.
Sementara itu Mona yang masih di kuasai amarah kembali ingin menjambak rambut Delia tapi tangannya di tahan Boy,Mona menatap Boy dengan kesal karna menggagalkan keinginan nya .
"Hentikan Mona,bukan seperti ini menyelesaikan masalah." Bujuk Boy pada Mona,ia paham betul akan kelakuan Mona itu.
__ADS_1